Suatu ketika tim sepak bola kampung saya berlaga dalam laga penuh emosi di turnamen agustusan. Partai semifinal, sejangkah menuju pertandingan puncak. Bila kesebelasan kampung saya ini menang, punya potensi untuk menuntun pulang seekor kambing betina gemuk. Maklum, trofi tertinggi dalam turnamen setiap kali memperingati hari kemerdekaan ini memang binatang berkaki empat itu.
Ada sebelas remaja tanggung dari kampung saya yang telah terpilih (tentu jangan berharap ada nama saya di list pemain). Sejak keluar dari kampung menuju lapangan (yang mungkin luasnya hanya tiga per empat ukuran lapangan sebenarnya), tubuh kerempeng mereka sudah terbalut jersey. Bau cat sablon masih tercium.
Menangkah skuad kampung saya? Alih-alih maju ke final, tak kalah dengan marjin gol banyak saja sudah untung. Kesebelasan kampung saya benar-benar jadi bulan-bulanan lawan. Maklum, di kesebelasan satunya itu bercokol pemain ‘timnas’ kelurahan. Wajar bila mereka begitu leluasa ber-tiki taka, sebuah gaya bermain yang dipopulerkan Spanyol.
Namun, bukan soal kekalahan itu yang akan saya gunjingkan di sini. Melainkan ada momen yang benar-benar membikin ‘merinding’ akal dan pikiran saya. Tentang apa sebenarnya makna hakiki suatu olahraga. Tentang sportivitas, ambisi, dan kepura-puraan.
Singkat cerita, pada suatu momentum pertandingan, ada kemelut di muka gawang kampung saya. Pemain lawan sudah mampu mengontrol bola dengan matang. Tinggal menunggu nasib saja si bulat itu bakal merobek jala gawang kami. Nah, saat itulah kiper tiba-tiba mengambil keputusan yang sangat spekulatif. Berusaha menerjang sang lawan.
Sayang, karena sang lawan lebih cerdik, dia bisa menghindari tabrakan dengan kiper. Dengan enteng dia melenggokkan badan ke kanan, kemudan menggulirkan bola-benar-benar menggulirkan karena ditendang dengan sangat pelan-ke dalam gawang.
Di sisi lain, kiper tim kampung saya justru terjerembab ke tanah. Menurut ukuran saya-dan teman-teman lannya-bobot terjatuhnya sang kiper tak terlalu keras. Kalaupun berefek paling hanya sakit sedikit. Namun, siapa kira ternyata sang kiper diam tak bergerak. Telungkup di tanah. Membuat semua orang khawatir. Menghindari risiko, akhirnya sang kiper pun diganti. Tentu setelah dengan ‘susah payah’ dia dibangunkan terlebih dulu.
Setelah berada di tepi lapangan, sang kiper seakan-akan mengalami amnesia. Dia tak ingat kejadian di lapangan. Ah, saat itu kami semua yakin sang tema hanya pura-pura. Mengalihkan perhatan agar dia tak malu karena kebobolan gol. Dan seiring waktu, prasangka kami semua itu ternyata benar.
Mengapa sang teman itu sampai melakukan itu? Mungkin sesuai anggapan kam, dia malu karena kalah. Sehingga perlu alibi untuk menutupinya. Dan, kejadian seperti itu jamak terjadi dalam sepak bola, bahkan yang berlevel professional!
Bagi penyuka sepak bola, pasti sering melihat peman terjatuh setelah bersenggolan dengan lawan. Mereka berguling-guling di tanah. Memegangi bagian tubuhnya, entah lutut, paha, betis, atau bahkan menutup wajah. Setelah wasit memberi hukuman pada lawan, pemain itu dengan sigap bermain lagi. Segar bugar seperti tak ada insiden sebelumnya.
Ada juga pemain yang berusaha mencetak gol dengan cara yang tak jujur, yang seharusnya tak diperbolehkan. Seperti dengan tangan, menarik lawan agar terjatuh, atau tetap ngotot meskipun dalam posisi off side. Orang menyebut tindakan ini sebagai tak sportif.
Salahkah sikap dan tindakan seperti itu? Dari segi idealisme olahraga, tentu hal itu bisa disalahkan. Sebab, olahraga seperti sepak bola disusun dari berbagai aturan. Aturan-aturan itu yang kemudian mengonstruksi sepak bola menjadi aktivitas olahraga.
Namun, ternyata, semua itu terbentur oleh sesuatu yang bernama goal, tujuan. Tujuan orang bersepak bola bukan lagi sekadar untuk menggerakkan otot saja. Sepak bola adalah irama untuk menang. Maka, semua tindakan pun ditujukan untuk itu, menang!
Jangan heran bila kemudan banyak pihak yang melakukan apa saja agar keinginannya tercapai. Saat saya masih menjadi peliput olahraga, seorang manajer klub yang sangat tenar pun terang-terangan menyebut 3D sebagai kunci timnya meraih gelar juara. Duit, dukun, dan diplomasi.
Duit tentu saja digunakan untuk segalanya. Mengontrak pemain, membayari hal-hal non-teknis seperti dukun itu, serta-yang tak kalah pentingnya-juga untuk membiayai ‘diplomasi’. Jangan heran bila negara setenar Italia dalam hal sepak bolanya toh tetap saja terjadi calciopoli. Skandal pengaturan skor yang melibatkan tim sehebat Juventus dengan Luciano Moggi-nya sebagai aktor utama.
Tinggal sekarang, terserah kita. Ingin tim kesayangan meraih prestasi dengan jalur sportif yang kadang hasilnya menyesakkan dada. Atau, sing penting menang!(*)
Editor : adi nugroho