Anjal Gepeng : Potret Kemiskinan Struktural yang Dipelihara?


KEDIRI, JP Radar Kediri - Keberadaan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (anjal gepeng) tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Ya, fenomena anjal gepeng memang sudah biasa ditemukan apalagi di daerah perkotaan. Salah satunya di Kota Kediri.
Banyak dari mereka yang berada di lampu merah, pusat perbelanjaaan, di bawah kolong jembatan, di pinggir-pinggir ruko, dan berbagai tempat yang sekiranya ramai didatangi atau dilewati masyarakat.
Tentu ada beragam faktor yang melatar belakangi keberadaan mereka. Yang paling utama merupakan masalah perekonomian, susahnya mencari lapangan pekerjaan ditambah dengan semakin hari ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Membuat mereka yang merasa sudah tidak memiliki cara lain terpaksa untuk turun ke jalanan.
Baca Juga: BBM Subsidi dan Dilema Masyarakat Kecil
Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat desa yang melakukan urbanisasi tetapi hanya bermodalkan nekat saja. Tanpa memikirkan kemampuan dan soft skill yang harus dimiliki agar dapat bersaing dengan yang lain. Kasus seperti ini justru dapat meningkatkan angka pengangguran di kota-kota.
Seperti hasil razia Satpol PP Kota Kediri pada Jumat (30/10) lalu. Beberapa dari mereka terpaksa turun ke jalan sebagai pengamen, peminta sumbangan, bahkan menjadi badut.
Mereka melakukan hal seperti ini, karena tidak memiliki kemampuan lain untuk dapat bertahan hidup. Gelandangan dan pengemis rata-rata merupakan seorang yang sudah paruh baya yang menganggap dirinya sudah sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang lain selain menunggu belas kasihan dari masyarakat sekitar.
Baca Juga: Berani Berbuat Tak Berani Bertanggung Jawab
Ada yang hidup sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal serta biasanya memiliki kecacatan fisik. Tak jarang ditemukan, dalam melakukan kegiatan mengemisnya mereka membawa pasangan (seperti sepasang suami istri) atau membawa anaknya yang berusia balita maupun anak-anak.
Fenomena anak jalanan, gelandangan, dan pengemis yang berada di Kota Kediri sering kali terjaring razia, beberapa dari mereka bahkan terjaring lebih dari satu kali. Ketika terjaring razia mereka mengatakan hanya mendapatkan nasihat dan arahan untuk tidak turun ke jalan lagi karena dapat mengganggu ketertiban dan keindahan kota.
Namun yang sebenarnya mereka harapkan adalah adanya pelatihan-pelatihan meningkatkan kemampuan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan dan diberikan bantuan modal usaha agar tidak perlu lagi turun ke jalanan.
Keberadaan mereka di jalanan disebabkan karena tingkat perekonomiannya yang lemah, ditambah kondisi sekarang ini kehidupannya semakin sulit. Bantuan pemerintah yang dinilai tidak merata dan tidak jelas kapan akan diterima membuat mereka harus tetap turun ke jalanan agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.



