Kabar gembira itu disampaikan langsung oleh Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Jumat lalu (24/10). Yaitu: Bandara Dhoho yang selama empat bulan lebih berhenti beroperasi, akan kembali beroperasi pada 10 November mendatang, tepat di Hari Pahlawan. Menurut Mas Bup (sapaan akrab Hanindhito Himawan Pramana), kepastian tersebut dia peroleh dari Maskapai Penerbangan Lion Group.
Dan maskapai penerbangan yang akan terbang dengan rute Kediri – Jakarta (PP) itu adalah Super Air Jet. Dalam seminggu, akan terbang tiga kali: Senin, Rabu, dan Jumat.
Super Air Jet adalah maskapai penerbangan dalam jaringan Lion Group.
Di satu sisi, kabar tersebut ibarat oase di tengah gurun pasir yang kering. Di sisi lain, kita juga harus berdoa, semoga kabar itu benar-benar terealisasi.
Bahwa Super Air Jet berani menjadi perintis penerbangan dengan rute Kediri – Jakarta (PP), itu karena maskapai penerbangan tersebut memang punya karakteristik rute-rute domestik yang menghubungkan antarkota di Indonesia. Selain itu, Super Air Jet juga menyasar segmen penumpang anak muda (generasi milenial).
Maka, jika sudah ada maskapai penerbangan yang “berani” membuka rute dari Bandara Dhoho, dalam hal ini Super Air Jet, selanjutnya adalah menyusun road map strategi agar kelanjutan rute dari dan menuju Bandara Dhoho terus berlanjut dan berkesinambungan.
Setidaknya ada empat tahapan yang saya usulkan sebagai road map strategi keberlanjutan dan keberlangsungan Bandara Dhoho:
Pertama, melakukan segmentasi dan diferensiasi pasar. Segmen pasar dari Bandara Dhoho adalah masyarakat yang ada di wilayah Kediri Raya, Nganjuk, Blitar, Tulungagung, Trenggalek hingga Ponorogo. Masyarakat dari wilayah tersebut, selama ini jika akan ke bandara, mereka harus ke Bandara Juanda dengan menempuh perjalanan antara 2-4 jam. Dari sini, Bandara Dhoho bisa mengambil ceruk pasar. Ciptakan pesan, “Terbang dari Bandara Dhoho itu lebih dekat, lebih cepat, dan lebih hemat,”. Berarti, tiket yang nanti akan dijual Super Air Jet dengan rute Kediri – Jakarta (PP) harus lebih murah dari penerbangan dari Juanda – Jakarta (PP).
Pesan tersebut harus dipromosikan secara masif agar diketahui secara luas. Promosi bisa dilakukan melalui media massa mainstream (koran, radio, online), media sosial, dan juga merangkul para influencer lokal. Terutama mereka yang berasal dari wilayah Kediri Raya dan sekitarnya (Jawa Timur bagian selatan).
Selanjutnya, bisa digencarkan untuk mengkampanyekan tagar #TerbangDariDhohoChallenge di Instagram, Facebook maupun TikTok.
Kedua, menciptakan konektivitas dan integrasi. Yaitu membangun koneksi lanjutan (interline) ke destinasi lain melalui Jakarta. Misalnya, rute Kediri – Jakarta – Medan. Atau Kediri – Jakarta – Batam. Dengan adanya rute ini, membuat Bandara Dhoho tidak sekadar rute tunggal.
Ketiga, menjalin dan menggandeng kemitraan strategis. Dalam hal ini, Pemkab Kediri dan Pemkot Kediri harus menjadi pihak yang proaktif menjalin dan menggandeng berbagai pihak demi keberlangsungan dan keberlanjutan Bandara Dhoho. Misalnya, dengan menggandeng universitas, instansi swasta, perusahaan, komunitas, organisasi profesi, dan organisasi massa, agar menjadi pelopor untuk terbang dari Bandara Dhoho.
Saya membayangkan, baik Bupati Kediri maupun Wali Kota Kediri, menginstruksikan kepada para pejabatnya, jika akan bepergian ke Jakarta, wajib untuk berangkat dari Bandara Dhoho. Selanjutnya, instruksi tersebut diduplikasi ke pihak lain, misalnya di kalangan universitas, instansi swasta, perusahaan, komunitas, organisasi profesi dan organisasi massa. Dengan cara ini, bisa menumbuhkan kesadaran sekaligus menyampaikan pesan bahwa, “Jika ke Jakarta bisa melalui Bandara Dhoho, mengapa harus melalui bandara lain?”. Dan pesan ini harus digaungkan secara masif di masyarakat, dipelopori oleh para pejabat, tokoh masyarakat, dan para influencer.
Keempat, destination positioning. Yaitu membangun alasan untuk datang ke Kediri. Bisa dimulai dari rebranding Kediri sebagai “The Heart of East Java’s Hidden Gems”. Ditekankan di sini, bahwa Kediri bukan hanya kota industri dan rokok, yang terkenal dengan PT Gudang Garam. Tapi juga pintu masuk ke Gunung Kelud, kawasan Simpang Lima Gumul, wisata agro dan kopi Blitar, serta Pantai Selatan di Trenggalek maupun Tulungagung.
Untuk melengkapi daya tarik Kediri, bisa juga dilakukan dengan bikin event rutin. Setiap event yang dihelat, harus bisa menarik perhatian masyarakat dari daerah lain. Sehingga setiap event sama dengan alasan baru untuk terbang ke Kediri. Misalnya bikin “Kediri Coffe Week”, yaitu event yang mengeksplorasi kopi. Atau bikin “Festival Gunung Kelud”, “Kediri Night Run” dan bikin “Dhoho Jazz Festival,”. Pendek kata, bikin event sesering mungkin. Dengan mencanangkan “one month one event”. Dan sekali bikin event, harus digarap serius dengan melibatkan tim kreatif dan digital marketing.
Dengan tahapan-tahapan tersebut, jika dilaksanakan, Insya Allah akan menjadikan Kediri sebagai kawasan yang sexy untuk dikunjungi. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
Editor : Mahfud