
Dulu, saya tidak begitu suka dengan Mangga Podang. Sebab, setiap kali makan Mangga Podang, kesan saya rasanya kecut dan bikin tenggorokan serik. Tapi, setelah bertugas di Kediri, saya diberi Mangga Podang yang warnanya kuning ada merah-merahnya, rasanya benar-benar beda. Manis, kalau pun ada kecutnya tapi masih dominan rasa manisnya. Ini lah Mangga Podang Kediri yang punya kekhasan tersendiri.
Mangga Podang Kediri khas, karena memiliki identitas geografis, kekhasan organoleptik. Salah satunya karena tumbuh di Lereng Gunung Wilis. Pada September lalu, Mangga Podang Lereng Wilis memperoleh sertifikat Indikasi Geografis (IG) yang diserahkan Menteri Hukum kepada Pemkab Kediri. Pengakuan ini membuka babak baru, bagi perlindungan identitas dan pengembangan ekonomi komoditas tersebut. Maka, Mangga Podang Kediri sesungguhnya punya nilai ekonomi yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan nasional, bahkan internasional.
Namun, yang menjadi pertanyaan: Seberapa besar sebenarnya kekuatan ekonomi Mangga Podang? Mengapa buah khas Kediri itu belum menjadi pemain besar di pasar buah premium? Dan strategi apa yang diperlukan agar Mangga Podang tidak sekadar dikenal sebagai buah musiman, tapi berkembang menjadi industri agribisnis yang memberikan nilai tambah berkelanjutan?
Ada sejumlah penelitian tentang Mangga Podang Kediri. Salah satunya yang dilakukan oleh Baswarsiati dan Yuniarti yang dimuat di Buletin Plasma Nutfah pada 2007. Penelitian itu mencatat keunggulan Mangga Podang Kediri dari jenis Mangga Podang Urang yang kulitnya merah jingga, daging buahnya juga jingga, aromanya kuat, rasanya manis segar, seratnya halus, serta kandungan airnya yang cukup tinggi. Buah ini, cocok dikonsumsi langsung maupun dijadikan bahan makanan olahan. Podang Urang ini dinilai sangat potensial untuk dikembangkan sebagai buah segar premium, karena kombinasi warna, rasa, serta aromanya.
Sentra Mangga Podang di Kediri terdapat di Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen, terutama di kawasan Lereng Gunung Wilis di sebelah Barat Sungai Brantas. Di wilayah itu, kondisi tanah, iklim, serta praktik budidaya menjadi bagian dari karakter dan reputasi buah. Ini lah yang dalam literatur bisnis dikenal sebagai “place-based differentiation”, yaitu diferensiasi produk berdasarkan keunikan tempat asalnya.
Dengan demikian, Mangga Podang berpotensi menjadikan asal geografisnya sebagai pembeda pasar. Tantangannya di sini, nilai premium itu tidak otomatis muncul hanya karena produknya berasal dari suatu tempat. Diperlukan standar mutu, konsistensi, reputasi, dan kepercayaan konsumen.
Dari lima sentra Mangga Podang di Kediri itu, masih merujuk pada penelitian Baswarsiati dan Yuniarti, diperoleh data kapasitas produksi mulai 1997-2001. Pada 1997, produksi Mangga Podang Kediri mencapai 28.194,6 ton. Cukup tinggi. Tahun berikutnya turun (23.059 ton), dan pada 1999 naik lagi menjadi 25.872,1 ton. Penurunan tajam terjadi pada 2001, yang mencapai 10.616,5 ton.
Bagaimana dengan data produksi Mangga Podang Kediri yang terbaru? Saya agak kesulitan mencari data tersebut. Saya menduga, angkanya menurun. Kalau pun ada data terbaru tentang produksi Mangga di Kediri dari BPS, tidak ada yang menyebutkan data secara khusus Mangga Podang.
Apakah sulitnya mencari data produksi tentang Mangga Podang Kediri mengindikasikan bahwa ada pengabaian terhadap potensi Mangga Podang Kediri? Jika ini benar, sungguh sangat disayangkan. Jangan-jangan, memang tidak ada lagi data terbaru terkait dengan produksi Mangga Podang Kediri? Sekali lagi, jika ini benar, maka berarti terjadi kekosongan data. Inilah yang menjadi salah satu persoalan mendasar dalam merencanakan pengembangan agribisnis Mangga Podang Kediri.
Tanpa mengetahui berapa pohon yang benar-benar produktif, berapa ton yang bisa dipanen, berapa persen memenuhi standar mutu premium, dan berapa ton masuk industri pengolahan, sulit untuk menyusun kontrak pasokan dalam skala besar.




