
Banyak yang berpendapat, kabinetnya Presiden Prabowo Subianto kali ini gemoy alias gemuk. Jika dirinci, jumlah menteri ada 48. Wakil menteri: 56.
Pejabat setingkat menteri: 5. Sekretaris kabinet: 1. Penasihat khusus presiden: 7. Utusan khusus presiden: 7. Staf khusus presiden: 1. Kepala badan: 6. Dan Wakil kepala badan: 6. Jika semua ditotal: 137 orang.
Ini termasuk jumlah kabinet terbanyak sepanjang Indonesia merdeka. Mengutip dari situs resmi Sekretariat Kabinet, jumlah anggota kabinet terbanyak pernah terjadi pada masa kepemimpinan Presiden pertama Soekarno.
Yakni melalui Kabinet Dwikora II yang waktu itu berjumlah 132 orang. Tapi, jumlah anggota kabinet paling sedikit juga pernah ada di kepemimpinan Soekarno.
Yakni melalui Kabinet Susanto, jumlah anggota kabinetnya waktu itu hanya 10 orang.
Di masa kepemimpinan Presiden Soeharto, jumlah anggota kabinet terbanyak adalah 44 orang melalui Kabinet Pembangunan V. Dan paling sedikit adalah 24 orang melalui Kabinet Pembangunan I dan II.
Selanjutnya, di masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, jumlah anggota kabinetnya 37 orang. Presiden Abdurrahman Wahid, anggota kabinetnya berjumlah 36 orang.
Anggota kabinet Presiden Megawati Soekarno Putri berjumlah 33 orang.
Di masa pemilihan presiden dipilih langsung oleh rakyat pada Pemilu 2004, jumlah anggota kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 34 orang, selama dua periode kepemimpinannya.
Dan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo selama dua periode, jumlah anggota kabinetnya juga 34 orang.
Di negara-negara maju, jumlah kabinetnya pun cenderung ramping. Negara adi daya seperti Amerika Serikat, jumlah anggota kabinetnya hanya 25 orang. Prancis, 20 orang. Jepang, 19 orang. Bahkan Jerman hanya 16 orang.
Lantas, mengapa jumlah anggota kabinetnya Presiden Prabowo begitu banyaknya? Dalam sebuah kesempatan, Prabowo pernah menjawab pertanyaan tersebut: “Jumlah (kabinet) ini saya sadari memang bisa dianggap tergolong besar, tapi memang bangsa kita bangsa yang besar,” katanya.
Prabowo juga mengatakan bahwa penambahan kementerian dan badan atau lembaga di dalam kabinetnya itu bertujuan untuk memastikan bahwa para menteri itu akan bekerja lebih fokus dan efektif.
Bagi mereka yang terbiasa nyinyir, atau memang sejak awal tidak suka dengan Prabowo yang dianggap linier dengan Joko Widodo, gemuknya kabinet tersebut menjadi “peluru” untuk menyerang Prabowo.
Mulai dari dianggap tidak efektif, memboroskan uang negara, hingga tuduhan bahwa Prabowo sengaja mengakomodasi para relawan dan anggota tim suksesnya saat pilpres agar mendapatkan kedudukan sebagai balas budi atas jasa-jasanya.
Menurut saya, kita tidak boleh terburu-buru memvonis bahwa kabinet Merah-Putih-nya Prabowo bakal jelek kinerjanya. Karena, mereka memang belum berkinerja. Belum sebulan dilantik.
Saya yakin, orang sekaliber Prabowo, apalagi dia berlatar belakang militer dan konon adalah pembaca buku yang baik, pasti tahu dan sudah menghitung, bahwa kabinetnya yang gemuk itu bakal menyedot anggaran yang lebih besar.
Saya juga yakin, Prabowo tahu tentang teori dan praktik organisasi kekinian yang cenderung ramping.
Saya yakin, Prabowo tahu dan pernah membaca buku “The Wall Street Diet” yang ditulis oleh Poirier, Bauer, dan Houser, yang sangat menganjurkan perusahaan atau organisasi untuk menerapkan diet agar ramping dan sehat.
Saya yakin, Prabowo tahu, bahwa “lean organization” atau organisasi ramping, berfokus pada efisiensi, menghilangkan pemborosan, dan penyederhanaan proses dalam organisasi.
Intinya, adalah menciptakan nilai maksimal dengan sumber daya minimal, sekaligus memastikan kelincahan organisasi agar mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Organisasi ramping, fokus pada nilai inti, mengurangi struktur atau fungsi yang tidak produktif. Sekali lagi saya yakin, bahwa Prabowo pasti tahu dengan kaidah-kaidah tentang perampingan organisasi.
Tapi, mengapa Prabowo tetap saja lebih memilih bikin kabinet yang lebih gemuk? Tiga hal untuk menjawab pertanyaan ini: Pertama, saya yakin, semua itu pasti sudah dihitung oleh Prabowo, plus-minusnya.
Kedua, kita tunggu saja bagaimana para menteri kabinet Merah Putih menunjukkan kinerjanya, setidaknya dalam 100 hari pertama. Ketiga, apa salahnya dan apa susahnya kita ber-khusnudzon? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

