Pesertanya tidak hanya dari dalam kota, tapi juga diikuti sejumlah kontingen dari luar daerah. Di antaranya Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Pamekasan, Yogyakarta, dan Solo. Sejak digelar pertama kali pada 2015, karnaval budaya ini rutin digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Kediri. Tahun ini, Pemkot Kediri membawa branding baru dengan nama Dhoho Nite Carnival.
“Transformation ini merupakan komitmen kami dalam mewujudkan Kediri City Tourism sekaligus penegasan identitas bahwa Jl Dhoho merupakan rohnya Kota Kediri. Jadi kalau orang luar daerah dengar ada kegiatan di Jalan Dhoho, berarti itu lokasinya di Kota Kediri,” ujar Vinanda, sebelum membuka DNC 2025.
Sedikitnya ada 40 kontingen yang ikut berpartisipasi. Tak hanya delegasi dari beberapa daerah. Melainkan juga beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) yang ikut mengirimkan kontingen terbaiknya.
“Selain itu, titik start di Masjid Agung ini juga melambangkan lokasi ikonik di jantung Kota Kediri dan dari sini, parade akan bergerak menuju Balai Kota melalui lintasan yang jaraknya sama seperti sebelumnya. Yaitu kurang lebih 1,8 kilometer,” ungkap Vinanda.
Sebelum memberangkatkan parade budaya, pertunjukan drone juga menghiasi langit Kota Kediri. Drone itu membuat bentuk-bentuk ikonik Kota Kediri seperti lambang Pemkot Kediri, Jembatan Brawijaya, hingga Dewi Kilisuci.
Salah satu kontingen yang turut memeriahkan Dhoho Nite Carnival adalah PT Gudang Garam Tbk. Melalui tema “Glow Green 2025”, PT Gudang Garam Tbk mengusung konsep keharmonisan antara manusia dan alam. Karya spektakuler yang ditampilkan malam ini berjudul “Samudra Kasetya: Janji Abadi di Laut Selatan”.
Kepala Bidang Humas PT Gudang Garam Tbk Iwhan Tri Cahyono mengatakan, keikutsertaan dalam karnaval ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam melestarikan budaya. Serta, mempromosikan pesan keberlanjutan lingkungan yang sejalan dengan tema “Glow Green 2025”.
“Melalui tema Samudra Kasetya, kami ingin menghadirkan keindahan legenda Nusantara yang bukan hanya menampilkan visual memukau. Tetapi juga menyampaikan pesan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas,” ujar Iwhan.
Adapun makna Kasetya dalam Bahasa Jawa berarti kesetiaan. Menggambarkan ikatan spiritual abadi antara Panembahan Senopati dan Nyi Roro Kidul, sang Ratu Laut Selatan. Kisah ini sekaligus menjadi suguhan utama DNC 2025, yang memadukan keindahan visual, kekuatan musik tradisional, dan filosofi budaya Jawa dalam kemasan modern dan ramah lingkungan.
Baca Juga: Tradisi Mora Wae Rebo di NTT: Cara Warga Mangarai Mengormati Leluhur lewat Upacara Adat
Dalam penampilan itu, gemerlap lampu hijau, pantulan cahaya laut, dan aroma dupa seakan menyihir lautan penonton yang sudah menyemut sejak sore. Penonton diajak menyelami perjalanan spiritual Panembahan Senopati, seorang raja muda yang mencari restu alam semesta untuk mendirikan Kerajaan Mataram.
Pencarian itu membawanya pada pertemuan takdir dengan Nyi Roro Kidul dalam kisah cinta, kesetiaan, dan kekuasaan yang melampaui batas dunia. Pertunjukan dibuka dengan adegan semedi Panembahan Senopati di bawah cahaya purnama. Kabut lembut menyelimuti panggung, diiringi suara ombak dan gamelan yang mendayu.
Dalam kesunyian malam, muncul sosok Nyi Roro Kidul berbalut busana hijau zamrud yang berkilau lembut, simbol dari kekuatan alam laut yang suci. Ia mengajak Senopati menembus gerbang samudra menuju istana bawah laut, dalam adegan yang penuh efek cahaya hijau dan biru toska yang memukau.
Di sanalah terjadi pernikahan spiritual, sebuah penyatuan dua dunia yang melahirkan keseimbangan antara darat dan laut. Dalam momen sakral itu, Nyi Roro Kidul berpesan, “Kekuatan sejati bukan dari pedang, melainkan dari keseimbangan antara darat dan laut.”
Nuansa mistik diperkuat dengan pancaran cahaya keemasan dan permainan bayangan di atas panggung. Para penari Bedhaya Ketawang tampil anggun, sembilan sosok menari dalam harmoni, sementara bayangan samar kehadiran “penari kesepuluh” muncul di tengah mereka. Inilah simbol kehadiran gaib sang Ratu Laut.
Adegan berikutnya menggambarkan kejayaan Mataram. Ki Juru Martani, sang penasihat bijak, menyebarkan kabar bahwa Panembahan Senopati telah memperoleh restu dari langit dan laut. Sorak rakyat menggema mengiringi kehadiran pasukan kerajaan yang berbaris gagah dengan panji-panji kebesaran.
Pementasan diakhiri dengan adegan yang lembut dan puitis. Panembahan Senopati berdiri di tepi pantai, menatap ombak berkilau di bawah sinar bulan. Suara lembut Nyi Roro Kidul terdengar di antara debur ombak dan berbisik, “Selama engkau menepati janji, laut akan selalu bersahabat denganmu.”
Gelombang hijau berpendar di kejauhan, menandai kehadiran sang Ratu Laut yang tak kasat mata. Adegan ini menutup pertunjukan dengan pesan ekologis yang kuat; menjaga keseimbangan antara manusia dan alam adalah bentuk kesetiaan tertinggi.
Seluruh elemen visual dalam pementasan digarap dengan detail. Laut Selatan dihadirkan lewat permainan kabut dan efek cahaya biru-kehijauan yang berkilau lembut. Istana bawah laut bersinar dengan warna toska dan emas, sementara busana para pemain dirancang dari bahan ramah lingkungan dengan detail yang merepresentasikan kekuatan spiritual dan keseimbangan alam.
Panembahan Senopati tampil gagah dengan busana hitam keemasan, sedangkan Nyi Roro Kidul memukau dengan gaun hijau panjang bertabur mutiara. Nuansa hijau “Glow Green” terasa kuat di seluruh tata panggung, dari pencahayaan, efek visual, hingga ornamen kostum, menciptakan harmoni antara legenda dan tema pelestarian alam.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian