KEDIRI, JP Radar Kediri - Asal usul nama kelurahan Mangundikaran, kecamatan Nganjuk rupanya terkait dengan prajurit Kerajaan Majapahit. Sejarahnya diperkirakan terjadi sekitar awal abad ke-15.
Kala itu Majapahit berpusat di Kediri dipimpin Raja Bhre Wijaya atau dikenal Brawijaya. Sang raja menjalin hubungan asmara dengan Nyai Anjarini yang ditemui saat berburu di lereng Gunung Kelud hingga lahirlah seorang putra bernama Jaka Papak.
Namun saat menggandung Anjarini ditinggalkan kekasihnya. Meski begitu Brawijaya menyuruh dua prajuritnya, Bujang Anung dan Mangun Kusuma, menemani Nyai Anjarini. Sayangnya begitu dewasa, Jaka justru pergi mengembara. Tanpa pamit ibunya.
Mendengar putranya pergi, Brawijaya menyuruh dua prajuritnya mencari. Selama pencarian Jaka Papak, mereka menyamar sebagai pengamen. Bujang Anung menyamar dengan mengumbar jenggotnya sebagai pengendang, sedangkan Mangun Kusuma berpenampilan pemuda gagah tampan peniup seruling.
Hingga akhirnya mereka bertemu Ki Ageng Kutu, guru Jaka Papak, di Ponorogo. Tetapi kedatangan mereka terlambat. Sebab, Jaka Papak telanjur ijin Ki Ageng Kutu, pamit berguru ke Bojonegoro. Mendengar hal ini kedua utusan Brawijaya tersebut bergegas ke Bojonegoro sambil mengamen. Seraya mengamat-amati sekelilingnya.
Sampai suatu hari, Bujang Anung dan Mangun ngamen di wilayah Nganjuk yang saat itu masih hutan lebat. Keduanya lalu berkeinginan mendirikan pondok.
Mereka babat hutan dan mendirikan rumah. Belum lama menempati rumah barunya, datanglah Roro Suratmi, adik kandung Mangun Kusuma. Dia diutus ayahnya agar mengajak kakaknya pulang ke lereng Kelud. Namun Mangun menolak karena terbebani tugas dari raja.
Lantaran hal itu, Suratmi terpaksa ikut menunggu hingga Jaka Papak ditemukan.
Ketiga manusia itupun hidup dalam penyamaran.
Selama proses tersebut Bujang Anung ternyata jatuh cinta dengan Roro Suratmi. Sayangnya, Mangun menolak adiknya dipersunting.
Persabahatan pun jadi permusuhan. Perkelahian terjadi.Tapi Mangun Kusuma kalah adu kesaktian. Bujang Anung melampiaskan amarahnya, hingga Mangun mencapai ajal. Jasad Raden Mangun Kusuma di-sikoro (disiksa-Jawa) hingga tidak menyerupai tubuh manusia.
Oleh adiknya, Roro Suratmi, jenasah sang kakak disemayamkan di tempat itu juga, hingga sekarang tempat Raden Mangun meninggal di-sikoro dikenal masyarakat dengan sebutan "Mangundisikoro, atau Mangundikoro, atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Mangundikaran".
Tempat makam Raden Mangundikaran tersebut kini berada di belakang Bangunan Kantor BRI lama, jalan RA. Kartini, Nganjuk.
Sedangkan Raden Bujang Anung juga meninggal di Nganjuk, sebelah tenggara dari makam Raden Mangundikaran, tepatnya di Kelurahan Ganung, Nganjuk.
Makam Raden Bujang Anung tersebut dikenal masyarakat sekitar dengan sebutan "Mbah Enggot", pasalnya selama dalam penyamaran mencari Jaka Papak selalu mengumbar jenggotnya. Makam Mbah Enggot terletak di belakang bekas Kantor Kawedanan – sekarang Perpustakaan Umum Nganjuk.
Lantas, Roro Suratmi, adik kandung Raden Mangundikaran meninggal di sebelah timur, tepatnya di Dusun Kedungdandang. Oleh warga setempat, makam Roro Suratmi dipercaya sebagai cikal bakal – asal mula berdirinya Dusun Kedungdandang. Hingga sekarang makam Roro Suratmi selalu diperingati saat bersih desa sebagai punden.
Oleh karena kesenangannya terhadap seni wayang kayu, maka setiap acara bersih desa selalu dipergelarkan pertunjukan wayang kayu.
Berdasar cerita itulah muncul mitos orang Mangundikaran tidak menikah dengan orang Ganung. Jika dilanggar, konon salah satu diantaranya meninggal. Hal ini dikait-kaitkan dengan permusuhan Raden Bujang Anung (Ganung atau Ngganung) dengan Raden Mangun Kusuma yang 'di-sikoro'. Benarkah?
Author : Endro Purwito
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira