Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berkunjung ke Petilasan Sri Aji Jayabaya

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 10 April 2023 | 19:00 WIB
(Foto: Iqbal Syahroni)
(Foto: Iqbal Syahroni)
PETILASAN Sri Aji Jayabaya adalah salah satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi saat liburan. Dari monumen Simpang Lima Gumul, jaraknya sekitar 5,2 kilometer. Dengan kendaraan sepeda motor atau mobil, hanya memerlukan waktu sembilan hingga sepuluh menit. “Tempat ini dulu tempat bertapa atau bersemedi Sri Aji Jayabaya,” terang Mbah Suratin, Juru Kunci Petilasan Sri Aji Jayabaya.

Photo
Photo
(Foto: Habibah A. Muktiara)

Sri Aji Jayabaya sendiri adalah raja kelima dari Kerajaan Kadiri. Raja tersebut memiliki keahlian menjangka. Menjangka sendiri adalah kemampuan mengisahkan sesuatu kejadian yang belum terjadi. Petilasan tersebut terdapat sebuah pemandian, dan sumber air. Dimana air tersebut banyak digunakan untuk berbagai keperluan pengunjung atau peziarah sesuai keyakinan masing-masing. Hal ini seiring keyakinan masyarakat bahwa Sendang Tirto Kamandanu ini digunakan Melukat (mandi dan bersuci) oleh Sang Prabu Sri Adji Jayabaya sebelum melakukan Parama Moksa, yakni menghadap Tuhan beserta raganya.

Banyaknya pengunjung yang datang di bulan Suro karena ini dianggap bahwa pada bulan itu disebut momentum paling pas untuk mencari berkah. Menariknya, ternyata yang dating ke tempat ini bukan hanya dari kalangan lapisan masyarakat biasa, tetapi juga para pejabat. Pada saat momentum menjelang pemilihan legislatif (pileg) hingga pemilihan kepala daerah, bahkan pilkades sekalipun, banyak para calon yang dating berkunjung ke tempat ini untuk berdoa agar hajatnya terkabul. “Biasanya para caleg datang kesini untuk meminta izin berdoa sesuai keyakinan masing masing,” imbuhnya. Biasanya ritual yang dilakukan hanya berdoa.

Pada tahun sebelumnya banyak caleg yang dating hanya memberikan nama dan tujuan, tidak menyebutkan partai yang mengusung. Sebelum berdoa, syarat apabila ingin terkabul harus menyentuh benda yang dikeramatkan sesuai sang Prabu Sri Aji Joyoboyo, seperti mandi, cuci muka, mandi keramas, berendam, atau mandi kembang terserah, dan yakin. Setelah menyucikan diri dengan mandi, lanjut dengan doa. Berdoa di sekitar pamuksan atau sungkeman, tergantung juru kunci yang mengatur.

Berdoa dan nyekar meminta restu (Tuhan) agar tercapai tujuannya. Setelah berdoa baru diizinkan pulang. Mbah Suratin mengaku hanya bertugas sebagai perantara atau batu loncatan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa lewat sakral yang ada. “Aku hanya mengizinkan dan memberi salamnya atau ikut mendoakan. Soal tercapai atau tidak tergantung dari yang melakukan,” pungkasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita terkini #berita viral #beria terbaru #berita hari ini