Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Keunikan Produk UMKM Desa Banjarejo, Kecamatan Plemahan, Dari Industri Rumahan, Produk Bakpia Bisa Tembus Pasar Luar Daer

Diana Yunita Sari • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:22 WIB
UMKM Bakpia rumahan di Desa Banjarejo (Diana Yunita/JPRK)
UMKM Bakpia rumahan di Desa Banjarejo (Diana Yunita/JPRK)

JP Radar Kediri - Ada berbagai inovasi usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dijalankan di Desa Banjarejo, Kecamatan Plemahan. Meski hanya industri rumahan, namun produknya terbukti bisa bersaing. Termasuk hingga pasar luar daerah. Sejumlah UMKM ini bahkan menjadi produk unggulan yang cukup dikenal di desa tersebut.

Desa Banjarejo, Kecamatan Plemahan, memiliki banyak pelaku UMKM yang terus berkembang hingga saat ini. Salah satunya adalah usaha bakpia dan bolu rumahan milik Tya Nur Fadilah.

Berbekal hobi membuat kue, perempuan 33 tahun itu berhasil mengembangkan produk bakpia yang dinamainya dengan Pia Vienti. Kudapan itu kini menjadi salah satu produk andalan yang banyak dipesan untuk hajatan warga desa.

Warga Dusun Ngesong itu mulai merintis usahanya sejak 2018. Awalnya, Tya hanya membuat roti dan kue dalam jumlah kecil untuk dikonsumsi sendiri dan dibagikan kepada kerabat.

Baca Juga: Perajin Asal Desa Banjarejo, Plemahan, Kediri Ini Mampu Ekspor Limbah Batok Kelapa hingga Eropa

“Awalnya hanya iseng karena suka membuat roti. Lama-lama banyak yang pesan, akhirnya saya tekuni sampai sekarang,” ujarnya.

Produk utama yang dipasarkan adalah bakpia kering dengan isian kacang hijau. Tya membuat bakpia itu tanpa bahan pengawet maupun pemanis buatan, sehingga lebih aman dikonsumsi. Meski tanpa pengawet, produknya mampu bertahan hingga satu minggu dalam suhu ruang.

“Proses pembuatannya di rumah,” ungkapnya.

Untuk memasarkan produknya, Tya mengemas bakpia itu dalam beberapa pilihan kemasan. Mulai isi 6, 8, hingga 10 biji. Namun, kemasan bakpia isi enam jadi yang paling laris karena banyak digunakan sebagai suguhan hajatan, pengajian, maupun acara pernikahan.

Baca Juga: UMKM Keripik Tempe Desa Plosorejo Kediri Tembus Pusat Oleh-Oleh dan Luar Pulau

“Biasanya yang paling banyak dicari isi enam karena praktis untuk dibagikan saat acara,” sambung Tya.

Selama ini, metode pemasarannya terbilang masih sederhana. Dia memanfaatkan aplikasi perpesanan WhatsApp untuk memasarkan produknya. Selebihnya, pemesanan juga rata-rata langsung dari konsumen yang menghubungi ke nomor yang tertera di kemasan.

Sebagian besar pembeli masih dari wilayah Kediri. Namun demikian, dia juga sudah mulai mendapat pesanan dari luar daerah seperti Surabaya. Untuk bisa membeli produknya, pelanggan harus memesan terlebih dahulu. Sebab proses produksi dilakukan berdasarkan pesanan atau made by order.

Baca Juga: Pemdes Bulusari Tarokan Kediri Gandeng Petani, Bangun Wisata Petik Buah

“Gak bisa mendadak kecuali pas ada stok,” tandasnya.

Permintaan bakpia rata-rata meningkat saat musim hajatan. Atau, saat bulan Syawal menjelang Idul Adha. Selama periode itu, jumlah pesanan bisa meningkat tajam hingga mencapai 1.500 kotak. Saat itu, oven produksi akan menyala selama 24 jam.

Selain produk bakpia, Tya juga mulai mengembangkan varian baru berupa bolu kukus jadul. Produk tersebut masih dalam tahap pengenalan pasar dan dijual dengan harga Rp 10 ribu per kotak.

Editor : Mahfud
#bakpia kering #bakpia #umkm #umkm kediri #desa banjarejo