KEDIRI, JP Radar Kediri- Bumdes Minggiran Barokah mengelola program perikanan berupa budidaya ikan hias dan konsumsi. Jenis ikan hias yang dibudidayakan adalah koi.
Sedangkan ikan konsumsi adalah nila. Budidaya dilakukan di kolam milik warga yang tergabung sebagai anggota sekaligus pengurus Bumdes di bidang perikanan.
“Ada warga yang memiliki kolam kosong, kemudian didaftarkan sebagai anggota Bumdes dan sekaligus menjadi pengurus di bidang perikanan,” ujar Ketua BUMDes Minggiran Barokah Firly Tri Kurniawan.
Program ini sudah berjalan selama lima bulan dengan satu kali panen. Jenis budidaya yang dilakukan adalah pembesaran.
Bibit ikan tersebut didatangkan dari berbagai daerah. Namun Desa Semen menjadi pemasok utama.
Ikan dipelihara dalam kolam berdiameter 3 meter berbahan terpal sebanyak 4 kolam. Lalu, beberapa kolam permanen dari beton berukuran sekitar 12 meter.
Echsanudin, pemilik kolam sekaligus penanggung jawab program perikanan menjelaskan nila dan koi dipilih karena memiliki pangsa pasar yang ramai.
Ikan nila hasil panen dijual ke pengepul, pemancingan, atau secara eceran. Dengan kisaran 1 kg berisi 3–8 ekor tergantung ukuran.
Sementara itu, ikan koi dijual per ekor dengan harga Rp150 ribu–Rp 250 ribu. Bergantung pada motif dan ukurannya.
“Ikan koi banyak dicari, terutama oleh para pecinta ikan. Sedangkan ikan nila memang sedang naik pasarnya,” ungkap Echsanudin.
Setiap kolam berisi sekitar seribu bibit ikan. Namun, tidak semua bisa dipanen karena sebagian mati, bisa mencapai 300 ekor. Penyebabnya beragam, mulai dari penyakit hingga faktor cuaca.
Untuk pakan, baik nila maupun koi menggunakan merek Pokphand yang dinilai mampu mempercepat pertumbuhan ikan.
Sehingga dalam usia 4–5 bulan sudah dapat dipanen. Selain pemberian pakan, perawatan dilakukan dengan mengganti air setiap dua hari sekali.
Serta menyalakan aerator selama 24 jam untuk menjaga kadar oksigen di dalam air. Echsanudin juga menyiapkan genset sebagai antisipasi jika listrik mati.
“Aerator menyala 24 jam. Kalau listrik tiba-tiba padam, genset langsung kita hidupkan. Kalau tidak, ikannya bisa mengambang,” tambahnya.
Selain perikanan, lahan milik Echsanudin juga dimanfaatkan untuk program peternakan kambing.
Saat ini, sudah ada enam ekor kambing etawa yang dipelihara. Ke depan, Bumdes berencana menambah usaha peternakan domba.
Editor : Andhika Attar Anindita