Akibatnya, pelaku usaha yang setiap harinya berharap dari anak-anak sekolah tiba-tiba saja sepi. Seperti Wigati, penjual minuman capcin di depan SMPN 3 Kota Kediri, omzetnya menurun drastis karena hilangnya pelanggan. Hingga kemarin siang, dia hanya mampu meraup uang Rp 25 ribu. Biasanya sudah bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu atau 40 cup. Dia menjual per cup Rp 5 ribu.
“Kalau anak-anak sekolah enggak masuk ya sudah pasti rugi banget” jelas wanita anak satu itu kepada Wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Ia tetap bersyukur karena atasan tempatnya bekerja tidak menuntut target penjualan serta memaklumi akan kesusahan yang terjadi saat ini. Hal serupa juga dialami Jerry, penjual papeda telur puyuh gulung.
Hanya dua puluh butir telur puyuh yang dimasak selama hari pertama sekolah daring. “Biasanya bisa dapat Rp 400 ribu, sekarang cuma Rp 20 ribu” tuturnya.
Pemuda 25 tahun itu berharap agar siswa bisa kembali masuk sekolah. “Saya kaget, gak ada persiapan mau pindah lokasi dagang ke mana” ucapnya.
Meskipun demikian, harapan satu-satunya adalah tetap buka di depan sekolah tersebut. Ia berharap rezeki datang dari pintu mana saja, tidak harus pada anak sekolah. Kericuhan akibat aksi yang terjadi di Kediri telah menyisakan luka yang amat mendalam.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian