Kebanyakan soto menggunakan daging ayam atau sapi. Namun berbeda dengan soto di Desa Mlati ini. Warung soto Mbah Jani ini dikenal karena menggunakan daging kambing.
Usaha yang telah berjalan secara turun-temurun tersebut kini diteruskan oleh Linda. “Usaha soto ini sebenarnya milik kakeknya suami saya,” terangnya tentang sejarah warung tersebut.
Linda menjelaskan warung tersebut sudah berdiri sejak 1940 silam. Usaha ini didirikan oleh Mbah Jani ketika zaman penjajahan. Hebatnya, usaha tersebut masih bertahan hingga saat ini.
“Agar rasa soto tidak berubah, resepnya memang diwariskan secara turun temurun,” ungkapnya. Linda bisa meneruskan usaha soto kambing karena menikah dengan cucu dari anak Mbah Jani. Mereka tergolong generasi ketiga.
Tak hanya menjaga orisinalitas rasa. Mereka juga tetap mempertahankan alat berupa pikulan yang terbuat dari bambu. Alat pikulan ini sudah digunakan sejak awal berjualan. Praktis umurnya telah tembus 85 tahun.
Tidak ada yang berubah dari segi rasa. Sehingga tidak heran jika soto kambing ini masih menjadi pilihan banyak orang. Keunikan lainya juga dari cara penyajiannya. Soto kambing ini disajikan dengan menggunakan mangkuk ukuran kecil.
Dalam satu hari, soto ini menghabiskan belasan kilogram daging kambing. Dengan proses memasak yang lama dan tradisional, daging kambing tersebut menjadi sangat empuk dan tidak terasa prengus.(*)
Editor : Mahfud