Pemuda

Mahfud • Dipublikasikan Senin, 2 November 2026 | 15:42 WIB
Titik Nol Opini
Titik Nol Opini

Masih ingatkah kita bahwa 28 Oktober kemarin hari Sumpah Pemuda? Ingat tapi tak merasa ghirah apapun? Atau, justru tidak ingat sama sekali?

Jujurly, saya masuk golongan yang nyaris lupa. Maka, celakalah saya karena melupakan linimasa sejarah yang sangat penting bagi lahirnya Bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak, dari momentum 28 Oktober 1928 itulah muncul perlawanan yang lebih besar skala dan kekuatannya. Tidak lagi ‘sporadis’ di berbagai bagian tanah air. Melainkan benar-benar perlawanan bangsa Indonesia. Sebab, para pemuda dari seluruh penjuru Nusantara itu berikrar :

‘Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia ;Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia’.

So, itulah puncak dari kesadaran kita dalam berbangsa. Merasa menjadi satu bangsa dan hidup di tumpah darah yang sama. Juga berkomunikasi dalam bahasa yang sama pula, Indonesia!

Baca Juga: Tiga Jari

Lalu, apa masalahnya sekarang? Selain banyak yang dari kita lupa pada momentum besar itu? Banyak. Karena sejatinya, pemuda-lah yang hingga sekarang masih konsisten sebagai ‘pejuang’. Pada merekalah asa melihat Bangsa Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur masih bisa kita letakkan. Sebab, setelah mereka lepas dari status pemuda, semuanya bisa terjadi!

Lho, maksudnya? Ya gitu, kan banyak kita saksikan bagaimana reformis yang berusia muda begitu menggebu-gebu menyuarakan idealismenya. Namun, setelah mereka beranjak dewasa, tua, dan mapan, semuanya bisa berbelok. Termasuk mati-matian membela rezim yang diikutinya. Terlepas apakah rezim itu benar, salah, atau bahkan bobrok.

Eit, tunggu dulu. Jangan asal gebyah uyah seperti itu. Kan masih banyak juga yang dulu pemuda pejuang ketika dewasa dan tua tetap idealistis? Iya, pasti ada. Sayangnya, mereka seperti terbenam oleh pemuda-pemuda yang seperti itu. Pemuda yang terjebak dalam  oportunisme. Berjuang sekeras baja namun ketika mendapat fasilitas langsung berubah selembek karet.

Kita sangat sadar bahwa kita tak pernah kekurangan pemuda brilian. Cerdas, pandai, dan idealistis. Di setiap masa akan bermunculan sosok-sosok seperti, Moh. Yamin, Soegondo Djojopoespito, R.M. Djoko Marsaid, Amir Sjarifoeddin, Djohan Mohammad Tjai, R Katjasoengkana, RCL Senduk, Johannes Leimena, Mohammad Rocjani Soe’oed, Wage Rudolf Supratman, Soenario Sastrowardoyo, hingga Sie Kong Liong. Itu semua adalah tokoh Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Buktinya, ada sederet nama pemuda lagi yang sejatinya adalah generator utama dari proses kemerdekaan bangsa Indonesia. Nama seperti Sayuti Melik, Soekarni, Chaerul Saleh, Wikana, B.M. Diah, Yusuf Kunto, serta Sudiro yang berperan di balik proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Lalu, di era 1966, pemuda pun menjadi motor perubahan besar dalam sejarah berbangsa dan bernegara kita. Nama-nama seperti Arief Rachman Hakim, Cosmas Batubara, Fahmi Idris, Soe Hok Gie, Abdul Gafur, Rusdi Husin, atau David Napitulup adalah contoh kecilnya.

Nama-nama itu sebagian gugur saat aksi. Sebagian lagi kemudian sukses berkiprah di rezim baru yang menumbangkan rezim lama. Contohnya, yang paling tenar kala Orde Baru ada Cosmas Batubara yang pernah menjadi menteri. Ada pula Abdul Gafur, yang juga jadi menterinya Soeharto.

Baca Juga: Bojo Tak Tahu Diri, Yu Minthul pun Pergi

Dalam perjalanan waktu, akhirnya rezim yang didukung para pemuda itu menjadi besar. Kemudian balik menjadi sesuatu yang harus dilawan. Maka, muncullah gerakan reformasi yang heroik yang dipenuhi oleh anak-anak muda. Aksi Reformasi di 1998 itu seakan mengulang bagaimana heroiknya aksi anak muda yang menentang sesuatu yang dianggap zalim dan otoriter, Rezim Orba!

Ada empat mahasiswa Trisakti yang gugur saat itu, dan oleh pemerintah diberi gelar sebagai Pejuang Reformasi. Tapi, ada pula mahasiswa tokoh pergerakan yang masih hidup hingga sekarang, serta menikmati kue yang mereka perjuangkan.

Sebut saja Fahri Hamzah. Ini adalah salah satu tokoh Reformasi. Ada pula Budiman Sudjatmiko, Adian Napitupulu, Fadli Zon, Teten Masduki, Nezar Patria, Andi Arief, hingga Ahmad Basarah.

Sama seperti era 1966, para Reformis itu juga terpecah dalam dua kelompok. Yang konsisten berjuang di luar sistem dan yang  larut dalam sistem. Siapa mereka? Ah, kayak ndak tahu saja.

Tapi, tetap saja, kita tak kekurangan stok pemuda. Muncullah gerakan pemuda-pemuda yang juga concern menyuarakan ketimpangan. Mereka bergerak di luar sistem. Nama-nama seperti Manik Marganamahendra, Muhammad Atiatul Muqtadir, Zaadit Taqwa, Melki Sedek, Gielbran Muhammad Noor, hingga Fatimah Azzahra, si mahasiswa kedokteran UI yang selain pintar, cerdas, dan berani, juga cantik itu.

Pertanyaannya sekarang, apakah pemuda-pemuda yang sangat menginspirasi dan idealis itu bisa bertahan ketika status pemudanya berganti dengan dewasa dan tua? Ah, semoga saja. Bagaimana dengan pendapat Anda? (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Shinta Nurma Ababil
sumpah pemuda hari sumpah pemuda pemuda