
Tiga jari adalah simbol perlawanan! Perlawanan terhadap tirani. Perlawanan pada penindasan.
Benarkah? Tentu saja, menciptakan kebenaran tidak bisa serta merta. Sangat relatif, bergantung pada siapa, apa, di mana, dan kapan simbol itu dimunculkan.
Meskipun, premis di awal tulisan itu sangat mungkin mendapatkan fakta dalam perjalanan sejarah. Meskipun dalam konteks dan latar belakang berbeda, simbol tiga jari telah menjadi tanda paten. Tanda perlawanan!
Coba saja kita kilas balik ke era 1970-an. Masa ketika musik keras, musik cadas, musik ingar-bingar, musik heavy metal, musik rock, dan apapun lagi namanya, tengah menjadi raja. Bagi para metalhead-ini sebutan bagi para penyuka musik genre ini-musik metal adalah pemberontakan. Bisa saja pemberontakan kecil dari rutinitas keseharian yang membosankan. Bisa juga pemberontakan pada aturan baku hidup yang dianggap mengekang. Atau lebih luas, pemberontakan pada sistem dan aturan yang didominasi para politisi yang konservatif.
Nah, mereka juga punya gesture yang menjadi simbol semua pemberontakan itu. Yang mereka perlihatkan baik ketika berada dalam komunitas penyuka metal maupun di kesempatan berbeda. Namanya, sign of the horns! Simbol dengan mengacungkan tiga jari sekaligus. Ibu jari, jari telunjuk, dan jari kelingking. Sementara dua jari lain, jari tengah dan manis, dalam posisi dilipat.
Dalam banyak literatur, simbol tiga jari para metalhead itu dipopulerkan oleh Ronnie James Dio. Pria ini adalah vokalis grup metal tenar bernama Black Sabbath. Dia datang menggantikan vokalis lama yang juga sangat tenar, Ozzi Ousborne.
Pertanyaannya, apakah Dio dengan Black Sabbathnya sengaja menjadikan simbol itu sebagai wujud perlawanan sosial dan kultural? Entahlah. Tapi, di banyak literatur pula, Dio sejatinya, awalnya, hanya mencari cara untuk berkomunikasi dengan fans musiknya. Sebab, sang legenda terdahulu-Ozzi Ousbourne-punya salam lain. Yaitu salam perdamaian. Mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan membentuk huruf V.
Nah, Dio yang keturunan Italia melihat ada tradisi di negaranya. Tradisi mengacungkan jari telunjuk dan kelingking bersamaan. Tujuannya sih, konon, untuk mengusir setan atau roh jahat. Nah, kebiasaan inilah yang diadopsi Dio menjadi salam tiga jari yang terkenal itu. Hingga menjadi simbol perlawanan pada kemapanan yang mengekang.
Era metal mungkin sudah meredup. Meskipun, masih banyak yang menggemari termasuk para gen-Z saat ini. Namun, simbol tiga jari ternyata mengalami perjalanannya sendiri. Berevolusi menjadi beberapa varian. Bergantung pada latar belakang situasi, kondisi, dan apa yang terjadi ketika simbol itu ditenarkan.



