Tiga Jari

Mahfud • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 11:11 WIB
Titik Nol Opini
Titik Nol Opini

 

Tiga jari adalah simbol perlawanan! Perlawanan terhadap tirani. Perlawanan pada penindasan. 

Benarkah? Tentu saja, menciptakan kebenaran tidak bisa serta merta. Sangat relatif, bergantung pada siapa, apa, di mana, dan kapan simbol itu dimunculkan.

Meskipun, premis di awal tulisan itu sangat mungkin mendapatkan fakta dalam perjalanan sejarah. Meskipun dalam konteks dan latar belakang berbeda, simbol tiga jari telah menjadi tanda paten. Tanda perlawanan!

Coba saja kita kilas balik ke era 1970-an. Masa ketika musik keras, musik cadas, musik ingar-bingar, musik heavy metal, musik rock, dan apapun lagi namanya, tengah  menjadi raja. Bagi para metalhead-ini sebutan bagi para penyuka musik genre ini-musik metal adalah pemberontakan. Bisa saja pemberontakan kecil dari rutinitas keseharian yang membosankan. Bisa juga pemberontakan pada aturan baku hidup yang dianggap mengekang. Atau lebih luas, pemberontakan pada sistem dan aturan yang didominasi para politisi yang konservatif.

Baca Juga: Anggota Parlemen Malaysia Pakai Bahasa Jawa Desak Prabowo segera Atasi Karhutla

Nah, mereka juga punya gesture yang menjadi simbol semua pemberontakan itu. Yang mereka perlihatkan baik ketika berada dalam komunitas penyuka metal maupun di kesempatan berbeda. Namanya, sign of the horns! Simbol dengan mengacungkan tiga jari sekaligus. Ibu jari, jari telunjuk, dan jari kelingking. Sementara dua jari lain, jari tengah dan manis, dalam posisi dilipat.

Dalam banyak literatur, simbol tiga jari para metalhead itu dipopulerkan oleh Ronnie James Dio. Pria ini adalah vokalis grup metal tenar bernama Black Sabbath. Dia datang menggantikan vokalis lama yang juga sangat tenar, Ozzi Ousborne.

Pertanyaannya, apakah Dio dengan Black Sabbathnya sengaja menjadikan simbol itu sebagai wujud perlawanan sosial dan kultural? Entahlah. Tapi, di banyak literatur pula, Dio sejatinya, awalnya, hanya mencari cara untuk berkomunikasi dengan fans musiknya. Sebab, sang legenda terdahulu-Ozzi Ousbourne-punya salam lain. Yaitu salam perdamaian. Mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan membentuk huruf V.

Nah, Dio yang keturunan Italia melihat ada tradisi di negaranya. Tradisi mengacungkan jari telunjuk dan kelingking bersamaan. Tujuannya sih, konon, untuk mengusir setan atau roh jahat. Nah, kebiasaan inilah yang diadopsi Dio menjadi salam tiga jari yang terkenal itu.  Hingga menjadi simbol perlawanan pada kemapanan yang mengekang.

Era metal mungkin sudah meredup. Meskipun, masih banyak yang menggemari termasuk para gen-Z saat ini. Namun, simbol tiga jari ternyata mengalami perjalanannya sendiri. Berevolusi menjadi beberapa varian. Bergantung pada latar belakang situasi, kondisi, dan apa yang terjadi ketika simbol itu ditenarkan.

Menariknya, di semua lintasan waktu itu pesan yang dimunculkan ternyata tetap. Simbol tiga jari menjadi simbol perlawanan. Baik kultural maupun politik progresif!

Seperti halnya sejarah kemunculannya yang dibawa musisi metal, pengokohan makna itu juga dilakukan oleh pekerja seni. Adalah film waralaba ‘The Hunger Games’ yang melakukannya. Dalam film bertema distopia ini, masyarakat yang tertekan melambangkan salam tiga jari sebagai bentuk perlawanan kepada penguasa ‘Capitol’ yang tiran.

Bedanya, simbol tiga jari dalam film ini tidak lagi membentuk konfigurasi membentang antara jari yang satu dengan lainnya. Melainkan ketiganya melekat, berdempetan erat. Sebab, tiga jari yang dijadikan simbol memang berdekatan. Jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.

Nah, gestur fiktif dalam film itu ternyata mampu bertransformasi menjadi nyata di dunia fana. Adapternya adalah mereka yang disebut mahasiswa, aktivis pro-demokrasi, serta massa pergerakan sayap kiri. Terutama di wilayah Asia.

Pada 2014, Thailand diguncang demo besar. Mereka adalah massa yang menentang kudeta militer. Kemudian, aksi serupa juga terjadi di Myanmar pada 2021. Juga sebagai wujud penentangan pada sikap arogansi kekuasaan.

Bagaimana dengan kita? Karena Indonesia masih masuk wilayah bumi, simbol tiga jari juga jadi tren. Menjadi simbol perlawanan massa. Apalagi, memang, masih banyak hal yang perlu dilawan di negara yang orang sebut gemah ripah loh jinawi ini.

Baca Juga: Karhutla Kembali Melanda Lereng Gunung Wilis Kediri, Begini Kronologinya

Terbaru, tentu saja beberapa hari lalu. Ketika rezim merayakan ulang tahun kedua mereka berkuasa. Ketika hampir semua institusi dan lembaga negara menggelar doa bersama, para mahasiswa dan banyak aliansi warga sipil mengajungkan three-finger salute, simbol tiga jari.

Kali ini, simbol tiga jari tak sekadar melambangkan perlawanan pada sistem belaka. Melainkan dimaknai sebagai tanda kemarahan, kekecewaan, dan perlawanan sekaligus. Kemarahan, kekecewaan, dan perlawanan atas ketidakadilan yang dipertontonkan rezim.

Simbol tiga jari adalah perlawanan nurani, perlawanan hati. Hati yang resah pada apa yang terjadi hingga saat ini. Ketika, menurut mereka, negeri yang mereka cintai sudah bergerak tanpa arah. Tercabik-cabik oleh kepentingan ekonomi dan politik partisan.

Simbol tiga jari adalah keresahan. Resah melihat hutan-huta yang terus terbakar dan tak mampu dipadamkan. Resah melihat ulah korporasi itu justru membuat sengsara masyarakat. Resah melihat ulah penguasa yang seakan tak peduli pada ketimpangan yang terjadi. Resah karena lowongan pekerjaan kian menyempit. Resah karena harga barang-barang kian mencekik. Resah karena pendapatan mereka kian terkikis. Atau, bahkan resah karena mereka telah kehilangan pendapatan. Resah karena keresahan itu ingin mereka tampilkan.

Pertanyaannya, resahkan para penguasa yang membaca keresahan itu? Resahkan kita pada situasi seperti ini? Atau, tak ada rasa resah sama sekali pada hati kita. Yang ada hanyalah umpatan dalam hati, emangnya gua pikirin! (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Shinta Nurma Ababil
tiga jari perlawanan opini