Apa arti kata tauladan di atas? Singkatnya, contoh baik. Lebih lengkapnya adalah sesuatu atau seseorang yang patut ditiru, dicontoh, atau dijadikan panutan karena memiliki sifat, perbuatan, kelakuan, atau prestasi yang baik.
Tapi judul di atas bukanlah contoh baik. Sebaliknya, contoh buruk. Sebab, kata yang baku dalam bahasa Indonesia untuk contoh baik adalah teladan. Artinya, tauladan itu tidak baku, tidak sesuai ejaan yang benar. Jadi tak bisa dijadikan teladan!
Pertanyaannya, mengapa masih ada yang mengucapkan tauladan untuk teladan? Sulit menjawab. Bisa jadi karena kebiasaan. Atau, menganggap kata ini merupakan serapan dari bahasa Arab. Seperti tauhid atau taubat. Toh, kata teladan memang kerap digunakan dalam konteks kebaikan, ibadah, uswatun hasanah. Jadinya sebagian dari kita menganggap teladan bisa dilafalkan dengan tauladan.
Baca Juga: TITIK NOL, Pasar
Padahal teladan adalah bahasa Nusantara asli. Ini adalah murni bahasa Melayu, bahasa yang membentuk bahasa Indonesia.
Atau, mungkin karena kebiasaan kita yang senang membenarkan sesuatu yang sejatinya sudah benar. Istilahnya hypercorrection, hiperkorek. Maksudnya ingin membuat lebih intelek. Nyatanya, justru salah.
Tapi saya tidak ingin berpanjang-panjang dengan baku dan tidak bakunya contoh baik. Justru saya ingin mencoba menyodorkan bahwa minimnya teladan di antara kita adalah fakta yang mengkhawatirkan. Mungkin, ini jadi salah satu penyebab karut-marutnya situasi.
Sebenarnya mencari sosok teladan bisa sangat mudah. Bisa dari sosok orang tua. Bisa pula dari sosok guru, pengganti orang tua ketika kita belajar mendalami ilmu yang tak bisa diberikan oleh ayah dan ibu. Sayangnya, bukan bermaksud menafikkan besarnya peran dan tugas orang tua dan guru, sosok yang benar-benar layak menjadi teladan sudah terkikis. Orang tua, sebagian, sudah terjebak pada rutinitas formal. Bahwa tanggung jawabnya adalah membiayai dan mendanai apa kebutuhan anak. Melupakan bahwa sang anak juga perlu sosok panutan.
Ketika orang tua hanya berambisi untuk mengumpulkan biaya demi sang anak, bisa saja segala cara dia gunakan. Tindakan buruk pun tak ragu dilakukan. Manipulatif, koruptif, yang bisa menjadi cacat di mata sang anak.
Guru? Tentu saja masih banyak yang bisa menjadi teladan. Namun, harus diakui, jumlahnya menjadi jauh berkurang. Banyak guru yang sebatas mencari penghidupan dari profesinya. Yang seperti itu bakal tak malu bila ada orang yang minta sesuatu yang tidak prosedur. Menaikkan nilai rapor, menerima murid dari jalur tak resmi, serta hal-hal yang tidak berbau teladan sama sekali.
Baca Juga: Kebut Pembebasan Tanah Kas Desa Terdampak Tol Kediri-Kertosono, Begini Progresnya
Ada lagi sebenarnya sosok yang bisa menjadi teladan. Siapa? Seorang pemimpin. Karena idealnya, pemimpin lahir sebagai orang terbaik di masyarakat. Pemimpin di satu desa adalah sosok yang paling ideal di desa itu. Pemimpin negara juga merupakan orang yang paling ideal dari negara itu. Mampu memimpin, mengayomi, dan menjadi contoh. Menjadi teladan.
Dalam falsafah Nusantara ada konsep ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tutwuri handayani. Ini jelas-jelas konsep kepemimpinan. Di depan memberi teladan, di tengah menumbuhkan semangat, dan di belakang memberi dukungan. Bukankah pemimpin itu seperti itu?
Memang, tidak ada orang yang sempurna. Namun, ketika menjadi pemimpin, tugas merekalah mereduksi kekurangan menjadi sekecil mungkin. Itu sudah menjadi khittah-nya ketika ingin dan mau menjadi seorang pemimpin.
Di negara kita, sejatinya, tidak sedikit sosok pemimpin yang benar-benar bisa menjadi teladan. Ada sosok Hatta yang dikenang dengan kesederhanaan dan upayanya mengangkat harkat dan martabat masyarakat dengan koperasi. Ada pula H Agus Salim dengan kebersahajaannya. Atau, Hoegeng Iman Santoso, sosok kapolri yang dianggap paling jujur hingga saat ini. Integritasnya sudah tak diragukan lagi.
Pertanyaannya, apakah sosok teladan itu mampu mengubah kondisi sosial masyakarat menjadi lebih baik? Memang belum pasti. Tapi setidaknya menjadi penular kepada yang lain.
Lagi-lagi, saya ingin memberi contoh dari sosok Jose Mujica. Mantan presiden Uruguay ini mampu memberi contoh kesederhanaan secara utuh bagi negerinya. Dia hanya mengambil sebagian kecil saja dari gajinya yang 12 ribu dollar AS per bulan. Sembilan puluh persen di antaranya disumbangkan untuk kepentingan rakyatnya.
Ah, bukankah presiden yang tidak mau digaji ada banyak? Memang. Bahkan, presiden paling berisiko di dunia, presiden Amerika Serikat, banyak yang tidak mau menerima gaji. Sebut saja Goerge Washington, Herbert Hoover, John F. Kennedy, dan Donald Trump! Juga Mahmoed Ahmadinejad di Iran pun melakukannya. Tapi, dampak dari sikap Jose Mujica menurut saya yang paling spektakuler bagi masyarakat dan negaranya.
Bagaimana tidak, kebersahajaan sang Mujica hingga dicap sebagai presidan paling miskin itu bisa mengangkat Uruguay dari keterpurukan. Sikapnya itu menciptakan fondasi moral dan sosial yang kuat. Membuat kebijakan-kebijakan ekonomi radikal di pemerintahannya berjalan efektif. Sukses mengangkat kesejahteraan rakyat Uruguay.
Simak saja fakta ini, keteladanan Mujica menaikkan tingkat kemakmuran rakyat Uruguay. Kemiskinan negara itu turun drastik dari 40 persen pasca-krisis awal 2000-an menjadi tak sampai 10 persen di akhir masa jabatannya, 2015. Tentu itu bukan karena donasi gajinya melainkan sikap tidak mengambil untung dari negara itu memberi Mujica legitimasi moral kuat saat menerapkan kebijakan ekonomi yang fokusnya adalah pemerataan.
Mujica berhasil mengesahkan undang-undang reformasi pajak, menaikkan upah minimum, dan penguatan serikat pekerja tanpa banyak resistensi dari kelas menengah. Sebab, mereka melihat pemimpinnya memberi contoh pengorbanan yang luar biasa.
Bila berhitung matematika, tentu donasi gajinya yang ‘cuma’ segitu tak akan mengangkat produk domestik bruto (PDB) negaranya. Namun, kesederhanaannya itu secara simbolis, sosial, dan politik memberi dampak luar biasa. Terutama dalam arah pembangunan sosial ekonomi Uruguay.
Keteladanan Mujica itu mampu menciptakan social trust luar biasa dari rakyat terhadap negara. Gaya sang presiden yang tinggal di rumah pertanian kecil, menyetir mobil lawas VW ‘Kodok’ rilisan 1987, tak memiliki ajudan berlebihan, membuat rakyatnya benar-benar mempercayainya dan negara. Meningkatkan kepatuhan rakyat pada kebijakan pajak.
Tak hanya di dalam negeri, imbas dari keteladanan Mujica itu juga menimbulkan ‘sensasi’ global. Menjadi kampanye public relations ampuh dan masif bagi negara ini. Uruguay tiba-tiba terkenal. Tidak lagi sebagai negara yang koruptif seperti yang dikenal selama ini tapi menjadi negara paling stabil, progresif, dan bersih dari korupsi. Maka, mengalirlah wisatawan dan investor. Terutama dalam bidang energi terbarukan. Di masa kepemimpinan Mujica, 95 persen sumber listrik diganti menjadi energi terbarukan.
Baca Juga: Desa Vs Kota
Satu lagi, Mujica effect juga membuka mata dunia. Di sidang PBB ataupun forum global, presiden miskin itu menyebut persoalan utama ekonomi modern adalah konsumerisme yang merusak lingkungan dan waktu luang. Penolakannya pada kaya menancapkan budaya kesederhanaan pada rakyat Uruguay. Juga menguatnya solidaritas sosial. Menjadikan indikator keberhasilan negara tak lagi hanya diukur dengan PDB. Juga dari kebahagiaan dan kesetaraan sosial.
Belum lagi dampak mikro dari donasi gaji Mujica yang disalurkan untuk program perumahan nasional. Akhirnya, ratusan keluarga yang sebelumnya tinggal di permukiman kumuh menjadi memiliki rumah yang layak.
Pertanyaannya sekarang, mungkinkah kita memiliki pemimpin seperti itu?(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Mahfud