Tahukah kita bahwa Kamis, 6 Agustus ini bertepatan dengan Hari Keantariksaan Nasional? Atau, justru kita tidak tahu apa itu antariksa-kata dasar dari keantariksaan?
Ah, benarkah kita tak tahu apa itu antariksa? Entahlah. Yang pasti, kata ini memang relatif kurang populer dibanding luar angkasa. Bahkan, kata turunannya, antariksawan, atau juga antariksawati, nyaris tak pernah disebut. Kalah jauh dengan kata astronaut, atau bahkan kosmonaut-bahasa Rusianya astronaut.
Padahal, sejatinya, antariksawan justru ‘tuan rumah’ dalam KBBI. Kata itu adalah penjelasan untuk orang atau ahli yang pergi ke antariksa. Sedangkan astrounaut adalah serapan langsung dari bahasa Inggris. Serupa dengan kosmonaut yang serapan dari bahasa Rusia.
Antariksa sendiri maknanya adalah bagian alam semesta yang ada di luar atmosfer bumi. Itu menurut KBBI. Padanannya adalah luar angkasa. Kalau mau keminggris, ya kita sebut outer space.
Nah, Hari Keantariksaan Nasional diperingati setiap 6 Agustus. Patokannya adalah keluarnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013. Undang-undang tentang keantariksaan, yang menjadi dasar hukum bagi aktivitas sains dan teknologi luar angkasa di Indonesia.
Mengapa sih membuat peringatan Hari Keantariksaan Nasional? Idealismenya sih, demi membangun kesadaran publik tentang pentingnya penguasaan teknologi antariksa. Mengingatkan betapa pentingnya sistem satelit untuk komunikasi, cuaca, dan mitigasi bencana di Indonesia. Serta, mendorong kemandirian nasional dan dunia pendidikan pada bidang sains dan teknologi. Setidaknya, itu yang saya dapat saat searching di internet.
Bagi yang belum familiar dengan peringatan Hari Antariksa Nasional ini, biasanya sih dirayakan dengan pemadaman lampu luar ruangan. Atau, istilah kerennya ‘langit gelap’.
Baca Juga: TITIK NOL, Pasar
Lho, apakah itu simbolisasi gelapnya dunia antariksa kita? Ah, jangan skeptis dulu. Menurut para penyuka sains dan teknologi, terutama terkait antariksa, aktivitas itu agar kita bisa dengan mudah mengamati bintang-gemintang di langit luas. Dan memang, malam langit gelap menjadi cara kita mengamati antariksa dengan baik. Meskipun, bagi saya, malam langit gelap itu ibarat memunculkan memori gelap di dekade 1980-an.
Ya, saat itu bak menjadi malam yang gelap bagi asa seluruh bangsa yang mencoba menyeruak ke level percaturan dunia antariksa internasional. Menjadi pembunuh mimpi anak bangsa bisa terbang ke antariksa. Ke luar angksa, to the outer space. Menjadi astronaut pertama bangsa ini.
Entah, apakah generasi saat ini tahu dengan nama seorang perempuan ini, Pratiwi Soedarmono. Seorang dokter mikrobiologi asal Kota Kembang, Bandung, nyaris menjadi antariksawan pertama dari Indonesia, bahkan Asia.
Nyaris? Ya, seandainya saja langit gelap (di Amerika) tidak terjadi saat itu. Seandainya saja pesawat ulang-alik bernama Challanger tidak meledak di langit Negeri Paman Sam. Seandainya tidak terjadi fase suram dunia luar angkasa itu, maka Pratiwi Soedarmono bakal menjadi perempuan Asia pertama yang menembus batas atmosfer bumi.
Saat itu saya masih belasan tahun. Masih duduk di salah satu SMP negeri favorit di Kota Malang. Masih ingat betul betapa saya juga mengidolakan sosok yang diberitakan lolos seleksi ketat NASA, lembaga antariksa di negerinya Donald Trump. Kemudian bakal mengikuti misi ke luar angkasa STS-61-H yang membawa satelit Palapa B-3.
Baca Juga: Desa Vs Kota
Sayang, impian itu menghilang ditelam malam gelap. Tragedi Challanger di Januari 1986 seakan menjadi titik balik. Ikut membuyarkan misi yang seharusnya diikuti Pratiwi. Menjadikan sang antariksawati Indonesia itu harus ‘kembali ke bumi’. Kemudian, hidupnya dia dedikasikan untuk kemajuan pendidikan. Menjadi guru besar bidang mikrobiologi di Universitas Indonesia.
Sejak itu tidak pernah ada lagi kabar ‘menggembirakan’ tentang anak bangsa yang pergi ke antariksa. Pun, yang berstatus akan. Nama dr Pratiwi Soedarmono seakan menjadi pembuka sekaligus penutup. Pintu antariksa pun seakan tertutup. Dan, kita sekadar menjadi penikmat ketika banyak negara berkompetisi ‘menjajah’ luar angkasa. Ketika Elon Musk dengan SpaceX-nya merajut angan menjelajahi Mars, bukan lagi sekadar Bulan!
Jangankan dengan Amerika dan Eropa yang memang telah pesat perkembangan teknologi dirgantaranya, dengan Tiongkok dan India pun kita sudah berjarak yang jauh. Tertinggal.
Mengapa bisa seperti itu? Entahlah. Tapi, prioritas nasional, skala ekonomi, serta strategi penguasaan teknologi yang jadi penyebabnya. Jujur saja, bila dibandingkan dengan dua negara tersebut, anggaran yang dimiliki negara ini jauh sangat sedikit.
Kedua negara itu sangat masif dan konsisten dalam upayanya mengeksplorasi bidang antariksa. Menjadikan proyek strategis nasional utama. Uang ratusan miliar dolar dikucurkan dalam jangka panjang.
India misalnya, punya program antariksa yang bernama ISRO. Program ini memang efisien tapi didukung anggaran yang sangat besar. Membangun roket berat dan misi antariksa dalam.
Bagaimana dengan Indonesia? Ah, masih kura-kura dalam perahu saja. Kita masih disibukkan dengan berbagai program strategis yang tak jauh-jauh dengan urusan perut. Pemerintah masih sibuk untuk memberi gizi generasi melalui pemberian makan gratis. Bagi bangsa ini, soal perut adalah persoalan penting dan tak bisa ditunda. Tidak seperti soal teknologi antariksa yang adanya jauh di luar angkasa.
Bahkan, anggaran pendidikan pun masih harus dipotong untuk memberi makan gratis. Karena kita masih menganggap soal makan ini adalah soal kedaruratan. Bisa menyisihkan persoalan lain.
Okelah, kita akur saja bila Pemerintah masih merasa perlu memberi makan anak bangsa yang dianggap serba kekurangan gizi itu. Tak perlulah berdebat karena sudah banyak di media sosial hal itu ditampilkan. Caci maki yang pro dan kontra pun bertebaran di ruang-ruang maya yang kini telah menjadi ruang publik utama. Kalau memang menganggap memberi makan secara gratis itu adalah prioritas utama, its oke. Tak masalah.
Yang jadi masalah, menurut saya, adalah betapa piciknya kita. Tak memedulikan nasib generasi bangsa. Menggerogoti uang negara tanpa rasa sungkan. Korupsi bak menjadi budaya yang mengakar kuat sejak lapisan masyarakat bawah hingga penguasa. Dan, kita melakukan itu tanpa rasa malu sama sekali.
Seorang lurah atau kepala desa akan berpikir keras bagaimana bisa memulihkan uang yang habis untuk keterpilihannya dulu. Sampai-sampai dia menjadi broker program KIP. Memotong jatah seorang anak yang seharusnya bisa digunakan untuk biaya pendidikannya.
Mereka yang jadi polisi, jaksa, hakim, maupun pengacara, banyak yang menggadaikan integritasnya demi setumpuk uang. Uang yang tak habis untuk dibuat makan bertahun-tahun. Uang yang bila ditumpuk bisa menyamai tembok rumah orang-orang jelata.
Saya jadi berandai-andai bila uang yang ditemukan polisi di rumah seorang jaksa beberapa waktu lalu bila digunakan untuk membiayai pendidikan nasional. Berapa anak yang bisa dicetak menjadi Pratiwi-Pratiwi baru. Yang bisa menancapkan bendera Merah Putih di batas atmosfir bumi. Yang bisa membuat kegagalan Pratiwi ke luar angkasa adalah kesuksesan yang tertunda.
Sayangnya, itu hanya angan-angan saja. Impian yang tenggelam dalam malam langit gelap, seperti yang biasa dirayakan di Hari Keantariksaan Nasional. (*)
Editor : Mahfud