Nepal, September tahun ini, 2025. Ada yang menyebut sebagai revolusi Nepal. Ada yang mengatakan sebagai the power of Gen Z.
Ada apa di Nepal saat itu? Di tanah kelahiran Mahatma Gandhi itu, ada gerakan yang dimotori anak-anak muda. Kita menyebut mereka dengan Generasi Z, alias Gen Z. Generasi yang lahir di rentang waktu 1997 hingga 2012. Di negeri yang berada di kaki Gunung Himalaya itu Gen Z bergerak menentang berbagai ketidakadilan. Melawan ketimpangan sosial ekonomi, nepotisme yang marak, dan korupsi yang meraja lela.
Motornya adalah Aviskhar Rauth alias Jai Nepal. Seorang pelajar SMA yang menyampaikan pidato yang membakar semangat massa. Bergerak menantang korupsi dan keserakahan rezim yang kian menggurita dan menggila.
Hasilnya? Rezim pun runtuh. Pemerintahan berganti. Tentu, yang memimpin tetap saja ‘orang tua’, generasi X bahkan baby boomer. Namun, semangat yang diletupkan para Gen Z tetap saja menjadi tonggak maha penting bagi negara tersebut.
Berpindah ke Eropa, tepatnya Bulgaria. Negara di semanjung Balkan tersebut giliran diterjang angin perubahan dengan motor Gen Z. Masih hangat peristiwanya, karena di awal Desember ini. Lautan Gen Z yang marah membuat pemerintah tumbang!
Pemicunya? Hampir sama dengan di Nepal-atau bahkan di negara lain yang juga muncul gelombang protes erupa-penyebabnya adalah bobroknya mentalitas pemerintah. Korupsi, kolusi, dan nepotisme mengakar sangat dalam. Para elite politik, yang didominasi generasi sebelumnya, X maupun baby boomers, dituding tidak peka pada kesulitan rakyat. Hanya mementingkan kekuasaan dan kekuasaan, dan kekuasaan.
Dalam berbagai peristiwa itu, yang terbaca adalah penempatan Gen Z sebagai motor pergerakan. Kemudian dihadapkan dengan generasi di atasnya sebagai lawan. Sederhananya, Gen Z datang sebagai pembaru. Sedangkan generasi X atau baby boomers adalah golongan kolot yang berkubang dalam kejahatan politik dan moral.
Benarkah? Dalam konteks waktu, hal itu memang benar adanya. Harus diakui, Gen Z adalah motor penggerak pendobrak tirani yang terjadi di berbagai rezim. Bahkan, di Indonesia juga terjadi demikian. Aksi demo selalu ditulangpunggi Gen Z. Lawannya, tentu saja generasi tuwir yang menjadi pilar rezim berkuasa.
Tapi, layakkah men-stereotipe-kan Gen Z sebagai pendobrak otoritarian rezim. Kemudian menempatkan generasi yang lebih tua, bisa baby boomer, X, maupun (sebagian) Y, sebagai para tiran?
Sebenarnya, penyebutan dan pemilahan generasi lebih pada aspek demografi. Bahkan, upaya itu juga dilakukan para ahli dan pakar untuk kepentingan tertentu. Salah satunya adalah pemasaran.
Ahli pemasaran lebih mudah untuk merumuskan generasi dalam segmen-segmen tertentu. Yang dipilih berdasarkan periode waktu serta sejarah yang menyertainya.
Misal, baby boomer, adalah generasi yang lahir dengan latar belakang pasc-perang dunia yang sangat menghancurkan. Mereka lahir ketika tingkat demografi meningkat setelah trauma perang dunia.
Lalu, generasi X, Y, dan Z? Dipilih dengan pertimbangan urutan alphabet. Pembedanya adalah rentang tahun kelahiran. Gen X di periode 1965 hingga 1980. Y lahir setelahnya, rentang 1981 sampai 1996. Ada pula yang menyebut generasi ini generasi milenial. Karena berada pada pergantian milenium, hitungan seratus tahun.
Setelah itu lahirlah Generasi Z. Sebutan untuk mereka yang lahir di rentang waktu 1997 hingga 2012.
Ulah kita pula yang menyebut generasi setelahnya sebagai Gen Alpha. Nanti, bila ada generasi lagi akan berlanjut ke Bhetta, Gamma, dan seterusnya sesuai alphabet Yunani.
Pertanyaannya, apakah tepat stereotip Gen Z pendobrak dan generasi sebelumnya sebagai tiran? Sebenarnya, tidak tepat juga. Sebab, di setiap masa selalu ada gelombang generasi muda yang mendobrak kekakuan rezim.
Sebut saja di Indonesia, ada Sumpah Pemuda-yang sesuai namanya adalah gerakan yang dimotori anak muda di zamannya. Proklamasi pun dimotori oleh anak-anak muda, yang kebetulan namanya adalah generasi baby boomers. Atau, di era reformasi, ketika para Gen-X bahu-membahu meruntuhkan tembok angkuh Orde Baru.
Jadi? Terlepas dari label Gen X, Y, Z, Alpha, Betta, Gamma, dan entah apa lagi, generasi muda pasti akan muncul untuk menunjukkan jati diri. Mereka, dengan segala dinamikanya, akan terpanggil bila memang ada ketimpangan yang terjadi. Artinya, bukan masalah generasi Z atau bukan, mereka yang idealis dan menempatkan kepedulian sosial sebagai pemikiran utama, pasti akan bergerak bila melihat ada ketidakadilan.
Karena itu, menempatkan Gen-Z vis a vis dengan generasi sebelumnya tentu saja kurang pas. Mempertentangkan atau mengadu domba antar-generasi justru bukan hal yang positif. Malah, bisa memperunyam persoalan lintas generasi. Sebab, persoalan yang hakiki adalah masalah jati diri generasi. Setiap generasi akan memiliki problem serupa, yaitu eksistensi dan pencarian jati diri. Bukan semata-mata persoalan teknologi. Toh, kemajuan teknologi juga memiliki masanya sendiri. (*)
Editor : Mahfud