Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Garudeya

Mahfud • Jumat, 23 Mei 2025 | 09:30 WIB
Photo
Photo

Garudeya. Sosok mitologi Jawa Kuno. Dipercaya masyarakat, yang kental dengan pengaruh Hindu kala itu, sebagai sosok perkasa berkepala burung (mirip elang) namun bertubuh manusia.

Garudeya punya sifat pahlawan. Hero. Dalam relief di Candi Kidal, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ada cerita dengan tokoh Garudeya ini.

Menggambarkan upayanya menolong sang ibu, Winata, lepas dari perbudakan yang dilakukan Kadru-yang juga sesama selir dari manusia setengah dewa.

Maka, ada tiga fragmen di tiga dinding candi yang terletak di Kecamatan Tumpang tersebut. Yang pertama ada di sisi selatan.

Menggambarkan sang sosok mitologi itu mengangkat tiga naga. Simbol dari perbudakan yang diterima sang ibu.

Ya, dalam cerita mitologi Winata diperbudak oleh Kadru dengan cara disuruh merawat anak-anaknya yang berupa naga.

Relief kedua, di sisi dinding kaki candi yang sisi timur. Garudeya memegang guci berisi air amerta alias air kehidupan.

Sebagai tebusan membebaskan sang ibu. Kemudian, terakhir, ada pahatan yang mengisahkan Garudeya membawa Winata dan bebas dari  perbudakan.

Konon, kisah ini gambaran dari Raja Anusapati, penguasa Singasari. Yang memang sangat berbakti kepada ibunya, Kendedes.

Sang raja, ingin mengangkat derajat sang ibu tersebut. Dan itu disimbolkan melalui kisah dalam relief tersebut.

Dalam perkembangannya, Garudeya ini diadopsi menjadi lambang negara. Dinamakan Garuda dengan simbol burung gagah mirip elang.

Yang seluruh bagian tubuhnya menyiratkan simbol kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bulu sayap berjumlah 17 perlambang tanggal kemerdekaan.

Bulu ekor yang delapan adalah simbol Agustus, bulan kemerdekaan. Bulu-bulu dada yang sebanyak 19 adalah dua angka pertama tahun.

Disambung dengan bulu leher 45 helai yang bila digabung dengan bulu dada menjasi 1945, tahun kemerdekaan.

Di bagian kaki, pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika dicengkeram erat oleh kuku-kuku sang Garuda.

Tulisan ini bermakna berbeda-beda tetapi tetap satu. Yang diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Konon, Presiden pertama RI Soekarno memilih lambang negara ini karena ingin meniru sifat Garudeya. Garuda, lambang negara, akan menjunjung derajat sang Ibu Pertiwi, Indonesia.

Ya, Garuda seakan sudah menjadi merek paten sebagai simbol kejayaan, kegagahan, budi pekerti, serta semua sifat-sifat baik.

Timnas sepak bola pun pernah menggunakan nama Timnas PSSI Garuda sebagai upaya agar bisa tampil kompetitif di tingkat dunia.

Proyek ini dimulai pada 1982, yang langsung dikepalai oleh Sigit Harjojudanto, putra Presiden Soeharto, kepala negara saat itu.

Tak tanggung-tanggung, proyek ini mendatangkan seorang pelatih asal Brazil bernama Joao Lacerda Filho alias Barbatana.

Tujuannya, tmapil kompetitif di tingkat Asia Tenggara dan Asia. Caranya, memanggil pemain-pemain muda untuk dijadikan satu dan dibina dalam pelatnas jangka panjang. Mereka tidak diikutkan dalam kompetisi lokal.

Hasilnya? Sayang, proyek PSSI Garuda gagal memenuhi ekspektasi ketika tampil di babak kualifikasi Piala Asia 1984. Mereka kalah dalam kualifikasi untuk Asian Games. Meskipun babak tersebut digelar di Senayan dan Sriwedari Solo. Dua negara yang lolos dari babak ini adalah Iran dan Suriah.

Toh, banyak pemain muda yang bagus merupakan produk dari PSSI Garuda ini. Sebut saja kiper Hermansyah atau pemain seperti Marzuki Nyak Mad, Azhary Rangkuty, hingga Noah Meriem.

Proyek ini juga berlanjut dengan nama PSSI Garuda 2. Tapi, pelatihnya bukan lagi Barbatana melainkan M. Solekan.

Ada satu pemain Kediri yang saya kenal sempat ikut proyek Garuda 2 ini. Namanya Bambang Sudrajat. Dia juga pernah jadi tulang punggung Persik era lama, Persedikab, serta berbagai klub lain.

Dan, nama Garuda kembali mengemuka saat ini. Ketika Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) mengeluarkan program sekolah unggulan dengan nama SMA Garuda. Lengkapnya, SMA Unggul Garuda Transformasi.

Bila mengutip dari laman SMA Unggul Garuda Transformasi, program ini menjadi program penguatan bagi SMA yang sudah ada.

Tujuannya untuk mengoptimalkan potensi menuju perguruan tinggi terbaik dunia. Artinya, SMA Garuda berusaha mencetak siswa yang unggul. Yang lulusannya bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi ternama dalam dan luar negeri.

Bila melihat tujuannya, tentu sanga bagus dan mulia. Ini selaras dengan keinginan semua kepala di negara ini agar pendidikan nasional menjadi berkualitas.

Namun, pertanyaannya, apakah ini sudah tidak jauh panggang dari api? Apakah program sekolah seperti SMA Garuda itu yang kita butuhkan?

Kalau butuh sih, mungkin kita butuh. Namun, yang lebih dibutuhkan adalah pembenahan menyeluruh pada sistem pendidikan nasional kita. Mulai hulu hingga hilir. Mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Yang dirasakan selama ini adalah ketidakkonsistenan pada sistem pendidikan. Sudah bukan rahasia lagi, setiap ganti menteri pasti ganti kurikulum. Ganti cara dan metodenya. Inilah yang menjadi kendala paling besar pada kualitas pendidikan kita.

Kalau memang disebut SMA Garuda penting, bolehlah. Tapi, tidak sepenting menciptakan sistem pendidikan yang lebih merata bagi seluruh generasi muda di tanah air.

Karena pada dasarnya, mendapatkan pendidikan yang berkualitas itu merupakan hak seluruh anak bangsa. Tanpa terkecuali.

Tidak  hanya mereka yang dinilai pandai atau cerdas saja. Mereka yang bodoh pun sama-sama punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Apalagi, arah pendidikan kita, saya anggap, semakin tidak jelas. Kian banyak pihak yang terlibat.

Kemensos sudah bergerak dengan Sekolah Rakyat-nya. Masih ada lagi sekolah-sekolah unggulan yang dikelola pemerintah daerah, seperti di Kabupaten Kediri dengan SMA Dharma Wanit Boarding School-nya.

Kini, jika ditambah lagi dengan SMA Garuda, konsentrasi negara dalam mengelola pendidikan bisa menjadi tidak fokus. Apakah tidak lebih baik menggunakan energi itu menjadi satu?

Membenahi dunia pendidikan yang masih kacau balau dalam sistemnya? Yang ruwet dalam pola perekrutan siswanya? Yang masih diwarnai kolusi dan nepotisme?

Toh, SMA Unggulan Garuda Transformasi juga masih memanfaatkan sekolah-sekolah yang selama ini memang sudah dianggap unggul.

Seperti MAN Insan Cendekia atau SMA Taruna Nusantara. Jadi, daripada semua ikut bermain sendiri-sendiri, apa tidak lebih baik energi, perhatian, dan anggaran difokuskan untuk membenahi sistem pendidikan nasional agar benar-benar sesuai dengan amanat UUD?

Coba kita tanyakan pada sang Garudeya! (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #titik nol