JP Radar Kediri– Gelombang konten rendah kualitas, baik buatan manusia maupun AI, kian membanjiri internet. Startup AI Perplexity mengaku siap melawan fenomena itu dengan langkah berani: menggratiskan Comet, browser AI andalan mereka yang sebelumnya dibanderol USD 200 (sekitar Rp3,2 juta) per bulan.
Pengumuman itu disampaikan langsung oleh CEO Perplexity Aravind Srinivas dalam acara peluncuran di San Francisco, Rabu (2/10).
“Kami ingin membangun internet yang lebih baik, dan itu harus bisa diakses semua orang,” kata Srinivas, dikutip Business Insider.
Meski gratis, Srinivas menegaskan versi Comet tetap memiliki batasan penggunaan alias rate limit.
Browser AI yang Bisa Ringkas Web Hingga Telusuri Link
Comet bukan sekadar peramban biasa. Browser ini mampu meringkas halaman web, menarik detail penting, hingga menelusuri tautan secara otomatis untuk penggunanya.
Comet pertama kali diluncurkan pada Juli lalu, namun hanya tersedia untuk pengguna paket mahal Perplexity Max. Kini, publik bisa menikmatinya secara gratis.
Langkah ini dinilai sebagai “tembakan peringatan” bagi dominasi Google Chrome. Selama ini Chrome memang jadi browser nomor satu dunia dengan lebih dari 3 miliar pengguna, meski relatif lamban dalam menambahkan fitur AI.
Lawan “Slop” Internet
Perplexity menegaskan, tujuan Comet adalah membantu pengguna menghindari konten sampah (slop) yang makin marak di internet.
“Saat ini slop makin mudah dibuat, dan sulit dibedakan apakah itu buatan AI atau manusia,” ucap Srinivas.
Gandeng Media Besar Lewat Comet Plus
Selain Comet gratis, Perplexity juga meluncurkan Comet Plus dengan biaya USD 5 per bulan. Versi ini menghadirkan akses ke konten premium dari berbagai media besar, seperti CNN, The Washington Post, Fortune, Los Angeles Times, hingga Condé Nast (pemilik The New Yorker dan Wired).
Perplexity mengklaim membagi 80 persen pendapatan berlangganan untuk para penerbit. Langkah ini dinilai sebagai bukti komitmen mereka dalam mendukung jurnalisme berkualitas, meski saat ini perusahaan tengah digugat oleh Dow Jones dan New York Post karena dugaan “menjiplak” konten.
Pernah Tawarkan Beli Chrome Rp 500 Triliun
Menariknya, bulan lalu Perplexity sempat bikin heboh karena menawar Chrome senilai USD 34,5 miliar (sekitar Rp 500 triliun) jika Google diwajibkan menjualnya dalam kasus antimonopoli.
Namun pada akhirnya, pemerintah AS memperbolehkan Google mempertahankan Chrome. Srinivas mengaku tidak kecewa.
“Comet bukan sekadar browser untuk merebut pangsa pasar Chrome. Kami lebih melihatnya sebagai asisten pribadi berbasis AI,” ujarnya.
Editor : Jauhar Yohanis