Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Keluarga yang Tak Lagi Aman

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 5 September 2022 | 22:38 WIB
(Ilustrasi: Afrizal)
(Ilustrasi: Afrizal)
Kasus pembunuhan balita berusia 3 tahun, yang diduga dilakukan ibu kandungnya, sungguh memiriskan hati. Kejadian ini, seperti halnya banyak kejadian serupa di tanah air, mulai menyibak bagaimana keluarga saat ini bukanlah tempat yang paling aman bagi seorang anak. Bahkan, bisa sekejam seperti bila berada di jalanan.

Beberapa kasus di Kediri memperkuat premis di atas. Bagaimana rumah yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak justru bak rimba. Yang penghuninya justru tega ‘memakan’ dan ‘memangsa’. Padahal, seharusnya, mereka-mereka itu harus melindungi.

Sebelum kasus Nurul, warga Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri itu terjadi, sudah ada seorang ayah yang tega memperkosa anak kandungnya. Tak hanya sekali, bahkan sampai berkali-kali. Hingga membuat sang anak yang masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah-setaraf SD-itu trauma.

Belum lagi kasus-kasus serupa yang terjadi baik di kota maupun kabupaten. Bila melebar ke daerah lain, cerita seperti ini akan memakan halaman yang panjang untuk dituliskan.

Pertanyaannya, mengapa rumah dan keluarga yang seharusnya jadi tempat yang aman justru menjadi berbahaya bagi anak? Mungkin, kebanyakan dari kita akan menuding kemiskinan sebagai faktornya. Dalam kasus ayah yang menjadikan anak kandungnya sebagai pemuas seks itu, memang bisa digolongkan sebagai masyarakat miskin. Sang ibu korban tengah bekerja di luar negeri menjadi pekerja migran. Sedangkan sang ayah hanya sebagai pekerja kasar. Kemudian, kasus Nurul yang membunuh balitanya, diduga juga dilatarbelakangi faktor ekonomi.

Lalu, sebegitu lemahkah iman seorang miskin hingga menafikkan norma-norma agama dan susila? Ini yang harus menjadi telaah bersama. Apakah benar hanya kemiskinan yang menjadi satu-satunya sebab degradasi moral seperti itu? Apakah kondisi ini tidak terjadi di segmen menengah ke atas?

Namun, yang sudah pasti harus dipikirkan oleh kita bersama, terutama pemerintah, adalah pengentasan kemiskinan yang harus menyeluruh, paripurna. Tak sekadar parsial dari sisi ekonomi saja. Sebab, kemiskinan juga ada pada ranah sosial budaya. Yang bisa berimbas pada penurunan moralitas.

Selama ini kita menganggap upaya penanggulangan kemiskinan adalah bagaimana membantu si miskin bisa memenuhi kebutuhan dasar. Asumsinya, si miskin harus mendapat bantuan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok. Pemerintah pun berupaya mempercepat pengentasan kemiskinan dengan membangun infrastruktur. Membangun jalan agar akses ke lokasi warga miskin itu lebih mudah. Sehingga memudahkan mereka berdaya secara ekonomi.

Yang sering kita lupakan, kemiskinan moralitas dan kekosongan jiwa dari esensi nilai-nilai luhur sebaga manusia. Padahal, justru hal-hal seperti itu yang sangat penting. Yang bisa menunjang daya tahan jiwa dari rongrongan tantangan kehidupan.

Ketika orang miskin hanya disuapi dengan uang dan makanan, tanpa dibekali oleh kekayaan batin, yang terjadi adalah kerentanan jiwa. Mereka mudah guncang menghadapi kesulitan hidup. Mudah mengharapkan derma dan sangat kecil daya tahan menghadapi kesulitan. Inilah yang harus dipikirkan oleh para penguasa. Karena bisa saja kondisi yang melilit masyarakat bawah itu adalah cerminan dari sikap mereka yang berada di ‘papan atas’. Yang justru saling pamer kekayaan dan tak berempati pada hidup mereka di ‘papan bawah’. Kalaupun peduli, itu dirupakan dalam sebuah ‘reality show’ yang justru dimanfaatkan untuk menambah pundi kekayaan semata. Karena negara ini adalah milik semua, bukan hanya milik mereka yang kaya dan berkuasa. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #seputar berita terbaru #kasus pembunuhan #seputar info kediri #info kediri raya #berita terbaru #balita #kediri raya #kediri terbaru #pembunuhan balita #kasus pembunuhan balita #kediri news #kediri terkini