Pembinaan Atlet Tenis Lapangan Membutuhkan Proses Panjang, Orang Tua Harus Lebih Bersabar

Emilia Susanti • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 08:48 WIB
Atlet tenis lapangan di Kabupaten Kediri. (FOTO: Emilia Susanti/JPRK)
Atlet tenis lapangan di Kabupaten Kediri. (FOTO: Emilia Susanti/JPRK)

JP Radar Kediri – Atlet tenis lapangan Kabupaten Kediri belum memberi prestasi yang menggemberikan. Dalam ajang pekan olahraga provinsi (porprov) tahun lalu, belum ada medali yang dibawa pulang. Yang mana, perjalanan atlet hanya bisa sampai babak delapan besar saja.

Pelatih dari Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) Kabupaten Kediri Suyanto mengatakan bahwa pembinaan atlet memang menemui tantangan. Salah satu tantangan itu datang dari orang tua atlet.

“Banyak orang tua yang merasa nggak sabar untuk menunggu anaknya sampai ke usia prestasi,” katanya.

Baca Juga: Suyanto, Pelatih Tenis yang Gigih Bina Atlet Usia Dini: Dulu, Pintu Masuk Temui Pejabat

Dia menerangkan, proses pembinaan memang membutuhkan waktu panjang. Tidak bisa instan. Apalagi untuk cabang olahraga (cabor) tenis lapangan yang menurutnya punya tingkat kesulitan tinggi.

Yanto-sapaan akrabnya, pembinaan atlet bisa dimulai pada usia 8 tahun. Sementara, usia yang disiapkan pelatih dalam ajang kejuaraan biasanya di usia 16 tahun. Praktis, proses pembinaan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

“Rata-rata menunggu anak prestasi itu kurang lebih tujuh sampai delapan tahun. Lha, inilah yang membuat rata-rata orang tua tidak sabar menunggu,” tekannya lagi.

Baca Juga: Atlet Tenis Kediri Harus Aktif Ikut Turnamen, Hasil Akan Jadi Bahan Evaluasi

Di samping itu, perjuangan untuk menuju prestasi memang terbilang berat. Bukan saja latihan rutin yang harus dilakoni. Namun juga keaktifan dalam mengikuti turnamen. Dalam hal ini, turun dalam sebuah turnamen juga membutuhkan biaya besar. Sebab, kebanyakan atlet harus mengeluarkan biaya secara mandiri untuk mengikuti turnamen.

Seperti disampaikan sebelumnya, turnamen menjadi wadah latihan yang menurut Yanto paling sempurna. Sebab, mulai dari mental hingga kemampuan akan teruji di dalam turnamen yang diikuti. Ditambah lagi, hasil turnamen juga akan memengaruhi poin atlet.

“Turnamen ini kan untuk memperoleh poin, poin nasional yang di dalam istilah tenis, di Pelti pusat itu ada namanya PNP (Peringkat Nasional Pelti). Nah capaian poin itu nanti menentukan pada saat drawing. Kalau anak atau salah satu atlet memiliki poin yang cukup bagus maka otomatis nanti dia akan menduduki unggulan, unggulan inilah yang menguntungkan, karena nanti akan ketemu anak-anak yang baru belajar (tenis, Red),” beber Suyanto.

Karena itulah, dia selalu menyarankan kepada orang tua atlet agar aktif mengikutkan anaknya mengikuti turnamen. Ya walaupun diakuinya bahwa biaya yang dikeluarkan memang tidak sedikit.

"Ini adalah salah satu metode kami dalam rangka untuk membuat satu suasana anak porprov ini memiliki kemudahan pada perjuangan,” jelasnya.

Terlepas dari itu, Yanto sejatinya melihat bahwa Kabupaten Kediri memiliki potensi besar untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi. Namun, sekali lagi, dia menekankan bahwa prestasi itu bisa diraih apabila atlet sekaligus orang tua bersabar dalam proses pembinaan yang berlangsung. (em/tar)

 
Editor : Mahfud
atlet tenis lapangan kediri Pelti Kabupaten Kediri atlet tenis kediri pembinaan atlet tenis tenis lapangan kabupaten kediri