Hidup ibarat roda berputar. Persis yang dirasakan Donny Ristanto. Sempat merasakan pekerjaan kasar usai gantung sepatu, mantan pemain profesional ini kembali ke lapangan basket.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Hari-hari Donny Ristanto tak lulu dihabiskan di lapangan keranjang. Hampir sepanjang harinya dia menggunakan bekerja di salah satu toko bangunan di Kota Kediri. Mengecek barang-barang, baik yang ada di toko maupun dalam gudang.
Ya, sudah tiga tahun terakhir dia menjadi karyawan di toko tersebut. Sembari terus bergelut dengan dunia yang telah membesarkan namanya selama ini, bola basket.
“Saya terakhir membela Pasific (Caesar Surabaya),” cerita pria bertinggi badan 2 meter lebih ini, di sela-sela kesibukannya di toko bangunan tempat bekerja.
Ya, Donny memang pernah malang melintang sebagai pemain basket profesional. Dan, memang, meskipun baru melihat pertama kali sebagian besar orang akan berasumsi bila dia adalah pemain basket. Tentu saja dari melihat postur tubuhnya yang menjulang tinggi.
Hanya saja, sebagian besar mungkin akan terkejut saat mengetahui bahwa Donny adalah mantan pemain basket profesional. Pasalnya, muncul saat bekerja di toko tidak menunjukkan dirinya pernah mendapat banyak kamera. Dia hanya mengenakan kaus lonjong dan memakai sandal.
Baca Juga: Berbincang tentang Talenta Muda dengan Rendy Yuwono, menyanyikan Legenda Basket Kediri
Pengalaman Donny di dunia basket tak perlu diragukan lagi. Dia pernah membela klub-klub profesional. Mulai dari Pacific Caesar Surabaya, Satria Muda Jakarta, CLS Knight Surabaya, dan Panasia Indosyntec atau yang saat ini dikenal dengan Prawira Bandung. Juga, pernah membela tim Indonesia Warriors untuk ASEAN Basketball League.
“Saya mulainya dari Halim.Dulu, atlet dari Halim mudah masuk ke klub-klub profesional,” ungkapnya.
Donny bercerita, dirinya mulai menggeluti keranjang tahun 1994 silam. Ketika dia dan sang kakak nekat bergabung Halim Kediri hanya berbekal tinggi badan.
“Saya belajar dari nol. Basket tahunya ya masukin (bola) ke ring aja. Karena di kampung saya dulu ya anak-anaknya kenalnya ya kalau nggak sepak bola ya bulu tangkis,” kenang pria yang lahir di Jogjakarta ini.
Dia boyong ke Kota Tahu ketika SMA. Di Halim Kediri, Donny mendapat fasilitas tempat tinggal, sekolah, hingga makan gratis. Sebaliknya dia membayar dengan kesungguhan menyelami keranjang dunia.
Latihan keras pun dia lakoni dengan tekun, pagi dan sore. Kemampuannya terasah. Hingga sempat dipanggil tim seleksi nasional keranjang sebanyak dua kali. Sayang, peruntungannya belum bagus dan seleksi gagal.
“Kalau ada panggilan seleksi itu wajib datang karena kalau tidak, bisa kena banned untuk bermain di liga,” jelasnya.
Kebimbangan muncul saat dia lulus kuliah. Halim Kediri tidak lagi ikut dalam Kompetisi Bola Basket Utama (Kobatama). Dia pun hanya melakoni latihan tanpa ada kompetisi yang diikuti.
"Saat usia 24 itu kan usia-usia ingin main. Nah kalau ga ada lagi gimana?" Saat menceritakan alasan dirinya keluar dari Halim Kediri.
Karirnya di kompetisi kasta tertinggi di Tanah Air pun dimulai. Banyak klub-klub profesional yang meminangnya. Membuat Donny memiliki catatan membela klub-klub ternama di Indonesia.
Hanya saja, Donny sepertinya terlalu terlena dengan kehidupannya di dunia basket. Di saat teman-teman seangkatannya pensiun, dia memilih aktif menjadi pemain profesional. Dia pun mengaku dirinya terjebak dalam zona nyaman.
“Mulai terpikir untuk pensiun itu saat usia udah 35 tahun. Tapi selalu ada tawaran kontrak yang menggiurkan, jadinya terus perpanjang kontrak,” aku bapak dua anak itu.
Sebagai pemain basket profesional, Donny mengaku gajinya bisa lebih dari Rp 8 juta dalam satu bulan. Itu pun belum bonus ketika memenangkan suatu kompetisi. Sementara jika harus berbisnis, dirinya harus memulai dari nol. Karena itulah dirinya menunda-nunda waktu untuk pensiun.
Hingga akhirnya, keputusan besar harus diambil ketika pandemi Covid-19. Kompetisi keranjang berhenti sementara. Membuatnya memutuskan gantung sepatu.
Donny pun pulang ke Kediri. Untungnya, ada tawaran menjadi pelatih keranjang di sekolah dasar (SD). Dia pun merasa sedih. Namun tentu saja pemasukannya jauh berkurang. Sehingga dia terpaksa nyambi jadi sales keramik di sebuah toko di Kota Kediri.
“Pertanyaan teman saya waktu itu 'isin nggak', 'malu nggak',” kenangnya.
Apa yang ditanyakan teman-temannya memang sangat wajar. Pasalnya, Donny sempat merasakan sorot kamera saat dirinya masih menjadi pemain basket profesional. Sehingga pasti sulit untuk menjalani pekerja lapangan. Pekerjaan yang mengharuskan dirinya harus menawarkan produk dari toko satu ke toko lainnya.
“Saya bukan malu, tapi canggung. Saya kan belum punya pengalaman kerja,” akunya sambil menyebut bahwa temannya berhasil meyakinkan dirinya untuk menerima pekerjaan tersebut.
Donny menjalani dunia barunya itu selama dua tahun. Pekerjaan itu membuatnya punya hubungan lebih luas. Dia juga belajar banyak.
“Kemudian saya bertemu dengan pemilik toko bangunan ini. Orangnya mengajak saya untuk bekerja,” lanjutnya.
Untungnya, pemilik toko bangunan tempat kerjanya mempersilakan dirinya untuk menjadi pelatih. Bahkan, bosnya tersebut meminta dirinya untuk menjadi pelatih di klub basket miliknya, Indo Court.
"Sekarang kalau pagi saya di toko. Lalu siang atau sore saya berlatih di SD Doho, SMP Negeri 4, dan SMA Negeri 2," bebernya.
Sebagai pelatih, dirinya mengaku telah belajar banyak. Sebabnya, dia harus bisa memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pelatih. Melainkan harus bisa menjadi bapak, kakak, maupun teman bagi anak didiknya.
“Awalnya ya canggung.Tetapi akhirnya bisa,” tandas pria yang dipercaya menjadi pelatih Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim IX 2025 ini.
Editor : rekian