Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Teknisi Ducati Beri Alasan Kenapa Bagnaia Berbeda dengan stoner

Internship Radar Kediri • Jumat, 6 Juni 2025 | 21:15 WIB
Teknisi Ducati Beri Alasan Kenapa Bagnaia Berbeda dengan stoner
Teknisi Ducati Beri Alasan Kenapa Bagnaia Berbeda dengan stoner

JP Radar Kediri– Dominasi Ducati di ajang MotoGP tidak bisa dilepaskan dari peran para pembalap jempolan yang pernah membela tim pabrikan asal Italia tersebut.

Dua nama yang bersinar terang di era berbeda Casey Stoner dan Francesco "Pecco" Bagnaia sama-sama sukses mempersembahkan gelar juara dunia.

Namun, siapa sangka keduanya justru memiliki pendekatan berkendara yang nyaris berlawanan.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Christian Gabarrini, kepala kru yang pernah mendampingi kedua rider hebat itu.

Menurutnya, gaya membalap Pecco jauh lebih teknikal, terstruktur, dan menyerupai Jorge Lorenzo.

Sementara Stoner lebih spontan dan mengandalkan insting balap alami.

“Pecco adalah kebalikan dari Stoner, tapi lebih mirip Lorenzo dalam hal gaya berkendara dan etos kerjanya,” terang Gabarrini.

Ia menyebut Bagnaia memiliki gaya yang tenang, mengalir, dan minim gerakan berlebih di atas motor.

Inilah yang menjadikan Pecco sebagai pembalap pertama yang berhasil membawa karakter menikung cepat ke dalam DNA Desmosedici hal yang sebelumnya sulit dicapai dengan motor Ducati.

Tak hanya itu, Bagnaia juga sangat komunikatif dan detail dalam memberikan masukan ke tim teknis.

Ia dikenal sebagai pembalap yang rajin menganalisis data, meninjau telemetri, dan aktif berdiskusi tentang pengembangan motor.

Baca Juga: Quartararo Mulai Kompetitif, tapi Tetap Siap Tinggalkan Yamaha Jika Tak Ada Perubahan

Pendekatan seperti inilah yang membantunya menjaga konsistensi performa dan meraih dua gelar juara dunia beruntun.

Sementara itu, Casey Stoner punya gaya bertolak belakang.

Ia mengandalkan insting dan kemampuan adaptasi tinggi, bahkan ketika motor dalam kondisi yang tidak sempurna.

Stoner juga sempat mengkritik pendekatan Ducati yang terlalu bergantung pada sistem elektronik, menyebutnya hanya sebagai "plester" yang menutupi kelemahan mendasar motor.

“Casey tak pernah terlalu tertarik dengan data. Ia bisa merasakan segalanya hanya dari atas motor, dan langsung memberikan respons cepat,” tambah Gabarrini.

Meskipun pendekatan mereka berbeda, keduanya sama-sama berhasil menjadikan Ducati sebagai tim yang disegani di MotoGP.

Kesuksesan Bagnaia menunjukkan bahwa adaptasi dan evolusi gaya balap sangat mungkin dilakukan, asalkan didukung pemahaman teknis dan komunikasi tim yang solid.

Saat ini, Ducati tengah memasuki era baru dengan kehadiran talenta muda seperti Jorge Martin, Enea Bastianini, serta nama besar seperti Marc Marquez.

Namun, karakter unik dari Stoner dan Bagnaia tetap menjadi tolok ukur bagaimana perbedaan filosofi bisa berujung pada hasil yang sama kemenangan.

Gabarrini menegaskan, sukses dalam MotoGP tak hanya tentang siapa yang paling cepat, tetapi juga siapa yang paling cerdas dan konsisten dalam mengelola kemampuan diri serta memahami karakter motor.

Dalam hal ini, Ducati beruntung pernah dan masih memiliki keduanya.(*)

Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Jauhar Yohanis
#ducati #Stoner #Bagnaia #teknisi