JP Radar Kediri - Bagi Endang Tutik Winarti, emansipasi bukanlah tiket untuk melupakan akar. Direktur sekaligus Owner PT Sari Bumi Surya Buana ini membuktikan bahwa kesuksesan di dunia properti yang keras tidak boleh melunturkan marwahnya sebagai seorang istri dan ibu.
Di momen Hari Kartini ini, Endang berbagi refleksi tentang bagaimana perempuan harus tetap menjadi "tiang" yang kokoh bagi keluarga dan masyarakat.
Kesuksesan Endang di industri properti Kediri Raya saat ini tidak jatuh dari langit. Perjalanannya adalah potret perjuangan dia dan keluarga. Ia mengenang masa-masa sulit saat harus kehilangan segalanya akibat kegagalan finansial. "Rumah habis, semua habis. Saya hanya punya sepeda ontel dan tekad yang kuat," kenangnya.
Memulai karier sebagai staf di kantor notaris, ia justru menemukan jalan menuju dunia pengembang. Pada 2004, ia bangkit perlahan menjadi karyawan properti hingga akhirnya pada 2013. Dia memberanikan diri terjun penuh sebagai pengembang mandiri. Kini, namanya dikenal melalui sederet proyek perumahan. Seperti Griya Citra Wardhani, Bumi Sumberjo Asri, Bumi Kunjang Asri, hingga Pelem Indah.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Umi Farida, Pengusaha Kebun Kurma Nganjuk Dobrak Batas lewat Pertanian
Endang dikenal sebagai sosok yang konsisten mendukung program pemerintah yang kini adalah "Rumah Subsidi Menyala". Fokusnya jelas: menyediakan hunian layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Baginya, kepemimpinan perempuan dalam bisnis bukan sekadar mengejar profit, tapi juga memberikan dampak sosial.
"Rumah adalah kebutuhan dasar. Dengan membangun perumahan yang terjangkau namun berkualitas, kita membantu pemerataan pembangunan di Kediri hingga Blitar," ujar wanita yang juga aktif sebagai pengurus Apersi Jawa Timur dan Kadin ini.
Saat ini, ia tengah memproses beberapa proyek baru. Yakni Perumahan Cahaya Sentosa di Kota Kediri, Perumahan Griya Tawang di Kabupaten Kediri dan Perumahan Citra Sumberingin Regency Blitar.
Meski sukses memimpin perusahaan besar, Endang memiliki prinsip tegas mengenai perannya di rumah. Ia mewanti-wanti agar wanita karir tidak terjebak dalam emansipasi yang salah kaprah.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Hj. Ana Prasetya Ningtyas, Ubah Wajah Bisnis Travel Umrah lewat Sentuhan Syariat
"Emansipasi jangan diartikan melupakan kodrat sebagai perempuan. Jangan sampai karena sudah bekerja dan punya penghasilan, respek kepada suami jadi berkurang. Bagaimanapun, istri harus taat pada suami dan sadar bahwa rezeki adalah milik keluarga," pesannya dengan lembut namun lugas.
Di sela kesibukannya mengurus desain interior dan bisnis kuliner, Endang adalah sosok ibu dan nenek yang hangat. Ia tak segan turun ke dapur karena anak-anaknya sangat menyukai masakannya.
"Saya tidak bisa diam, masih terus masak. Meski ada asisten, waktu untuk menyuapi anak atau menemani mereka harus tetap ada. Bahkan bapaknya anak-anak pun punya inisiatif sendiri untuk ikut terlibat," ceritanya.
Menariknya, di usia 61 tahun, Endang tetap energik dan update dengan perkembangan zaman demi bisa berkomunikasi dengan anak dan cucunya. Mulai dari mengikuti selera musik hingga tren makanan kekinian. "Jadi ibu itu harus terus update. Kita harus beradaptasi dengan zaman supaya tetap dekat dengan anak-anak," imbuhnya.
Menutup perbincangan, peraih apresiasi Radar Kediri Awards 2025 ini berharap perempuan-perempuan di Kediri bisa terus berkarya tanpa meninggalkan identitasnya.
"Dalam agama, ibu adalah tiang keluarga. Jika tiangnya kuat, rumah tangganya akan kokoh. Berkaryalah setinggi mungkin, namun tetaplah menjadi tempat berteduh yang paling nyaman bagi keluarga," pungkasnya.