Ingin Wujudkan Mimpi Sahabat dan Jadi Kebanggaan Keluarga
Sejak belia, Kaka Aditya Putra Tyo sudah berlatih keras di olahraga senam artistik. Dia mulai aktif berlatih sejak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Kecintaannya pada olahraga yang mengutamakan kelenturan tubuh itu membawanya pada mimpi besar ingin berkontestasi di ajang internasional.
EMILIA SUSANTI, KEDIRI, JP Radar Kediri
Sekarang usia Kaka sudah menginjak angka 15 tahun. Meski tergolong masih muda, prestasinya di olahraga senam sangat menjanjikan.
Pada Desember 2025 lalu, dia berhasil mempersembahkan medali emas untuk Jawa Timur. Prestasi iti ia raih di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).
"Ini popnas kedua saya. Yang pertama dulu saya dapat perak," aku remaja asli Kediri ini.
Meski masih muda, perjalanan karir Kaka tidaklah muda. Saat mulai belajar senam, dirinya merasa berat. Latihan rutin yang keras membuatnya harus menangis.
Kaka sempat berfikir untuk mengakhiri perjuangannya di senam artistik. Tapi orang tuanya tetap memaksanya agar bertahan. Dia tetap bertahan hingga kelas 2 sekolah dasar (SD).
Seiring berjalan waktu, Kaka mulai menyukai olahraga tersebut. Dia menyadari satu hal, jika ingin menjadi orang-orang hebat haruslah kerja keras. “Jadi tahu, ternyata gini rasanya," cerita anak tengah dari tiga bersaudara ini.
Kaka pun telah mengikuti berbagai kompetisi sejak duduk di bangku SD. Mulai dari kejuaraan daerah (kejurda), kejuaraan nasional (kejurnas), hingga pekan olahraga provinsi (porprov).
Bahkan dirinya telah mengikuti porprov sebanyak tiga kali. Dan menariknya, dia selalu membawa pulang medali dari ajang porprov. Tidak heran jika dirinya diminta latihan di tingkat provinsi saat masih duduk di kelas 5 SD.
Situasi sulit kembali menghampirinya saat masuk ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Dalam lubuk hatinya, Kaka ingin tetap bersekolah di Kediri.
Tidak jauh dari orang tua. Namun, demi menggali potensinya lebih dalam, dia terpaksa harus merantau ke Gresik.
Dalam sehari, Kaka menjalani sesi latihan sebanyak dua kali. Pagi dan sore. Sementara, sekolahnya dilakukan pada saat siang hari. Bisa dibilang, jadwalnya memang sangat padat.
"Pagi jam lima berangkat (dari Gresik), sampai di tempat latihan di Surabaya jam enam,” ucapnya. Dia harus bolak-balik Gresik-Surabaya, demi sekolah dan prestasi olahraga yang digelutinya. Aktivitasnya sangat padat dari subuh sampai maghrib.
Kaka melakukan semua rutinitas itu hampir setiap hari. Awalnya memang terasa berat. Apalagi, sejak awal, dia ogah mengikuti pemusatan latihan.
"Minggu pertama saat di pusat pelatihan sih bingung. Belum kenal yang lain juga," ungkapnya.
Namun demikian, dia sudah terbiasa dengan rutinitasnya. Di sisi lain, dia ingin mengikuti kompetisi ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga Olimpiade.
Alasan kuat Kaka untuk meraih prestasi lebih tinggi karena almarhum teman sekamarnya, Naufal Takdir Al Bari.
Dia adalah atlet senam gimnastik yang meninggal saat menjalani training center (TC) di Rusia beberapa waktu lalu.
"Ngelihat teman yang sudah nggak ada jadi motivasi saya. Pengen bantu wujudkan (mimpi temannya, Red)," tandasnya sembari menyebut dirinya juga ingin membantu keluarga. (rq)
Editor : Andhika Attar Anindita