KEDIRI, JP Radar Kediri - Remaja 13 tahun itu duduk di ruang tunggu sekolah. Masih berseragam, kemeja putih berpadu dengan celana dan dasi warna abu-abu. Jari-jemarinya bergerak lincah di layar gawai. Di ruangan kecil itu, hanya berukuran 2x3 meter, sang remaja sedang mencari konsep untuk konten yang dia buat.
Sosok itu adalah M. Fahriel Gilang Saputra. Masih duduk di kelas XII SMAN 1 Ngadiluwih. Di sela kesibukannya belajar, bocah ini juga rajin membuat konten di medsos. Isinya, semua hal tentang cukur-mencukur rambut.
Pelajar ini memang memiliki keahlian dalam mencukur rambut. Skill itu bahkan sudah dia miliki sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
“Awalnya dulu sering melihat kakak sepupu mengajari muridnya yang sedang kursus mencukur rambut. Lama-lama tertarik dan akhirnya ikut belajar,” ucapnya, menceritakan awal mula ketertarikannya dengan dunia cukur-mencurkur.
Farel, demikian pemuda ini disapa, merupakan bungsu dari dua bersaudara. Sudah lama ditinggal oleh sang ayah. Juga, sejak kecil jarang bersua ibunya yang jadi pekerja migran di Hongkong.
Wajar bila kemudian Farel tumbuh menjadi sosok mandiri. Tinggal bersama kakek dan nenek, dan kakak perempuan membuatnya bisa berpikir dewasa sejak dini. Salah satunya sudah bisa mencari uang.
“Sebenarnya ibu mencukupi kebutuhan saya. Tetapi saya juga ingin bisa mencari uang sendiri melalui keahlian yang dimiliki,” akunya, sembari melempar senyum.
Penghasilan itu dari kemampuannya mencukur rambut. Sejak usia 16 tahun dia telah menekuni pekerjaan itu. Buka praktik setiap malam. Meskipun penghasilannya tak seberapa karena yang dia cari adalah pengalaman.
“Kalau prinsip saya dapat uang alhamdulillah buat jajan. Tetapi kalau lagi sepi ya tidak apa-apa karena yang dicari pengalaman untuk meningkatkan skill,” dalihnya.
Selain itu, memiliki keahlian mencukur rambut bagi Farel hanyalah cadangan. Karena cita-cita besarnya adalah menjadi seorang polisi. Tapi, dia sudah mempersiapkan diri bila nanti gagal merengkuh keinginannya itu. Yaitu menjadi seorang barber.
“Saya ingin menjadi polisi. Setiap sore saya latihan fisik untuk mempersiapkan diri ketika nanti sudah buka pendaftaran. Tapi di sela-sela persiapan, ternyata ada rezeki yang tidak terkira,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri.
Ya, rezeki itu datang ketika konten cukur rambutnya viral di TikTok. Berawal saat dia dan sepuluh temannya terlambat masuk sekolah.
Singkat cerita, ada salah satu siswa yang kena hukum itu berambut panjang. Sang guru pun berniat memotong rambut sang siswa.
Ternyata, siswa tersebut menolak dipotong oleh guru. Memilih dipotong rambutnya oleh Farel.
“Teman saya itu bilang kalau saya ahli cukur rambut. Kemudian diminta juga untuk buat konten sekalian. Eh, ternyata dalam kurun waktu satu jam sudah ada satu juta penonton,” terang remaja asal Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri itu.
Saat dirinya viral tersebut langsung banyak brand yang menawari untuk bekerja sama. Termasuk sekolahnya yang langsung memberi fasilitas ruangan untuk konten.
Tiga minggu setelahnya, Farel pun diundang ke Jakarta. Itu untuk shooting televisi sekaligus mengikuti workshop dari tukang cukur profesional kelas internasional yaitu Josh Lamonaca.
“Wah di situ perasaan saya tidak karuan. Biasanya cuma lihat di Youtube, ternyata ada momen bisa bertemu dan diajari secara langsung,” tuturnya sembari melempar senyum.
Selama bertemu dengan Josh Lamonaca banyak pengalaman yang diperolehnya. Mulai dari teknik memotong hingga langkah ke depan yang harus dilakukan agar keahliannya semakin terasah.
Selain belajar, dia juga langsung praktik. Yaitu dengan memotong rambut salah satu artis ternama.
“Saya merapikan rambut Irfan Hakim. Dan komentar beliau adalah memang mengakui bahwa saya bisa memotong rambut,” ujarnya dengan penuh bangga.
Puncak rasa bangganya ini ketika Farel diajak battle dengan Josh Lamonaca selaku global hairdresser dan Haijoel, barberpreneurs & hair expert.
Semenjak viral, membuat konten juga menjadi prioritasnya. Jika dulu konten hanya menjadi sampingan. Kini menjadi kewajiban yang harus dijalankan.
Setiap minggu dia membuat 2 sampai 3 konten. Dengan konsep yang terkadang di-planning tetapi juga sering dibuat secara spontan.
“Ciri khas konten saya itu memotong rambut saat masih menggunakan seragam sekolah. Dengan kalimat pembuka bertanya model rambut yang diinginkan kepada pelanggan, kemudian dijawab dengan kalimat oke gas,” tandasnya.
Ditanya terkait inspirasi kontennya, Farel menjawab jika ide itu muncul secara mendadak. Namun kalimat ‘oke gas’ itu terinspirasi dari Presiden Prabowo Subianto.
Terkait waktu dan harga yang ditetapkan, Farel menjawab jika hingga saat ini masih memasang tarif Rp 10 ribu untuk satu kali potong rambut. Sementara waktu yang dibutuhkan 20 sampai 40 menit. Itu menyesuaikan tingkat kesulitan yang di-request oleh pelanggannya.
Meskipun sudah mulai banyak kesibukan konten, Farel menyebut tak melupakan kewajibannya sebagai pelajar. Mengingat saat ini dia sudah kelas 12.
“Jujur sekarang saya juga bingung nanti melanjutkan cita-cita menjadi polisi atau memperdalam skilll mencukur rambut ini,” terangnya.
Sebab dari keahliannya cukur rambut ini, sekali membuat konten gajinya mencapai jutaan rupiah. Sayang rasanya ketika melewatkan kesempatan emas ini.
Diakuinya jika dia masih bimbang. Yang jelas dalam waktu dekat Farel ingin bekerja di barber. Satu tingkat di atas cukur rambut. Yang mana dari fasilitas dan skill jauh lebih bagus.
“Pengennya mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Toh nanti kalau skillnya bagus uang yang akan mencari kita, bukan kita yang mencarinya,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil