Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Hani Zyakia Putri, Anak Penjual Gorengan yang Raih Juara 2 Disporseni Nasional Bidang Sains, Curi Waktu Belajar di Sela Istirahat Mengajar

Diana Yunita Sari • Kamis, 18 September 2025 | 18:02 WIB

 

Anak Penjual Gorengan yang Raih Juara 2 Disporseni Nasional Bidang Sains
Anak Penjual Gorengan yang Raih Juara 2 Disporseni Nasional Bidang Sains
 

Kabupaten, Radar Kediri-Berasal dari keluarga sederhana tak menjadikan Hani kering akan prestasi. Sebaliknya sejak SMP dia kerap mewakili sekolah di berbagai lomba, seperti O2SN. Kini, di sela-sela menjadi guru honorer dan les privat, dia mampu menjadi juara Disporseni Nasional.

“Awalnya saya ditunjuk oleh pengurus UT Kediri untuk berkompetisi di Malang, di bidang matematika,” ucap Hani Zyakia Putri, mengawali perbincangan.

Ya, gadis yang akrab disapa Hani ini adalah mahasiswa Universitas Terbuka (UT). Duduk di semester tujuh jurusan pendidikan matematika Fakultas Pendidikan.

“Alhamdulillah skripsi sudah selesai semester lalu. Jadi sudah tidak begitu terbebani. Sekarang tinggal menempuh matkul (mata kuliah, Red) yang tersisa. Sambil mengajar sekolah dan les,” lanjut gadis asal Desa Mejono, Kecamatan Plemahan ini.

Memang, selain sebagai mahasiswa, Hani adalah guru honorer di SD Negeri Mukuh 1. Menjadi guru kelas 1.

Pilihannya berkuliah di UT setelah dia sempat tak lulos tes masuk perguruan tinggi negeri. Datang dari keluarga yang pas-pasan secara ekonomi, pilihan paling besar adalah bekerja. Meskipun kuliah, dia memilih yang bisa dilakukan dengan bekerja.

Kebetulan, ada temannya yang mengajak mendaftarkan ke UT. Akhirnya, berdua mereka mendaftar dan diterima berkuliah di universitas tersebut pada 2021.

Namun, waktu perkuliahan di kampus ini tidak langsung begitu diterima. Melainkan  berselang satu tahun. Selama menunggu perkuliahan bergulir Hana pun menebar lamaran ke beberapa lembaga. Salah satunya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) YPA Mutiara Hati.

Di lembaga tersebut dia sempat mengajar selama empat bulan. Karena satu dan lain hal, dia akhirnya memutuskan keluar. Untungnya, saat menganggur itu datang tawaran untuk mengajar di SDN Mukuh 1.

“Mengajar di SD dari awal masuk kuliah. Waktu itu karena menggantikan guru yang mau PPG (pendidikan profesi guru, Red). Kemudian berlanjut hingga sekarang sambil kuliah juga,” jelasnya.

Tak lama setelah itu dia juga diterima menjadi pengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar (LBB). Membuat aktivitasnya menjadi kian padat.

Toh, di sela kepadatan itu dia masih mampu menunjukkan potensi besarnya. Ditunjuk sebagai wakil UT Kediri untuk berkompetisi di Malang adalah buktinya. Kesempatan tersebut tak dia sia-siakan.

“Alhamdulillah lolos dan maju ke babak final,” ucap gadis 22  tahun ini.

Disporseni Nasional merupakan agenda tahunan Universitas Terbuka. Event ini menguji kemampuan mahasiswa di bidang sains dan seni. Pesertanya tak hanya mahasiswa UT, tapi juga berasal dari kampus lain. Kompetisi yang dimulai Agustus lalu, Hani menjadi perwakilan UT daerah untuk olimpiade sains matematika.

Sebelum mencapai final, Hani melalui babak penyisihan dan semifinal yang berlangsung di UT Malang. Menyisihkan lebih dari 100 mahasiswa lain dari seluruh Indonesia. Mengantarnya ke babak final yang digelar di Gedung Pusat UT Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Di babak final ini hanya tersisa empat kontestan, termasuk Hani. Sudah pasti mereka akan pulang membawa gelar karena yang disediakan adalah tiga juara dan satu juara harapan. Hani akhirnya keluar dan duduk di peringkat kedua alias runner up.

Hani mengaku tidak menyangka bisa mencapai final. Sebab, dia tidak memiliki banyak persiapan untuk menghadapi tes. Kesibukannya bekerja adalah salah satu alasannya tak mematok target tinggi dalam kompetisi ini.

“Karena kan sibuk mengajar juga setiap hari,” dalih gadis yang juga membuka jasa les privat di rumahnya.

Awalnya, dia membuka jasa les privat demi menambah pendapatan. Sekarang, bimbel rumahannya sudah memiliki sekitar 30 murid dari siswa SD kelas 1 sampai 6. Biaya yang ia kenakan sangat terjangkau, yaitu hanya Rp 3 ribu setiap pertemuannya.

Jasa les privat itu berlangsung malam hari. Membuatnya harus pandai membagi waktu dengan belajar untuk persiapan olimpiade serta mengerjakan tugas kuliah. Demi belajar itu, dia rela membawa modul kuliah ke sekolah. Kemudian menyempatkan membaca di sela waktu istirahat.

“Saya membuat jadwal harian supaya waktu belajar untuk olimpiade dan mengajar tidak bertabrakan. Menjelang lomba, porsi belajar saya tambah dengan memanfaatkan waktu istirahat anak-anak untuk latihan soal,” ungkapnya.

Semangat untuk berprestasi rupanya sudah Hani tanamkan sejak masa sekolah. Sejak SMP dan SMA, ia sering mewakili sekolah untuk mengikuti lomba-lomba di tingkat kabupaten seperti O2SN dan perlombaan lainnya. Hani ingin membuktikan meskipun ia anak seorang tukang bangunan dan pedagang gorengan, hal itu tidak akan menghentikannya untuk berprestasi.(fud)

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#02SN #kediri #prestasi #honorer #guru #UT