Kabupaten, JP Radar Kediri-Sederet prestasi sudah dia ukir. Dia berharap prestasi-prestasi itu bisa mengantarnya mendapat beasiswa, agar bisa berkuliah. Satu hal yang sulit diwujudkan bila hanya bersandar pada upah sang ayah yang hanya buruh bangunan.
“Tahun 2018 saya juara lomba lari,” ucap Krisdiansyah Maulana Alif dengan terbata-bata. Ada jeda di setiap kata yang berusaha diucapkan. Artikulasinya pun tak terdengar jelas.
Bagi lawan bicaranya, perlu perhatian khusus untuk berkomunikasi dengan pemuda yang biasa disapa Alif ini. Ketika menjawab pun harus perlahan dengan pengucapan yang jelas. Juga, disertai dengan gerakan tangan sebagai bahasa isyarat.
Semua itu memang harus dilakukan bila berbincang dengan pemuda yang beralamat di Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare ini. Sang pemuda adalah seorang disabilitas pendengaran. Kekurangan yang dia derita sejak kecil, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
Toh, meskipun begitu, Alif bukanlah pemuda yang mudah patah semangat. Justru, pemuda 21 tahun ini memiliki sederet prestasi. Salah satunya yang tertempel di tembok ruang tamu. Foto berbingkai yang menunjukkan dirinya memegang sepeda dan selembar sertifikat.
“(Itu) tahun 2018, saya juara lomba lari,” ucap Alif menjelaskan foto itu. Tentu saja masih dengan kalimat yang patah-patah.
“Dia memang suka lari sejak kecil,” timpal seorang lelaki yang duduk tepi dipan, tak jauh dari sang pemuda.
Lelaki itu adalah Kristianto, ayah Alif. Di sampingnya ada Atminah, sang istri. Keduanya duduk di ranjang tidur yang hanya dibatasi tirai dengan tempat duduk di ruang tamu. Menjadikan ruangan kecil itu semakin sempit.
Sejurus kemudian sang ibu beranjak dari duduknya. Mengambil map kertas. Di dalamnya tertumpuk beberapa piagam. Termasuk ketika Alif memenangkan lomba lari se-Kabupaten Kediri tersebut.
“Saya juara tiga kali, 2018, 2023, 2024,” tambah Alif. Pemuda ini menyebut sepeda yang ada di foto itu adalah hadiah ketika dia menjadi juara.
Menariknya, prestasi Alif tidak hanya dari lomba lari saja. Beberapa bulan lalu, dia ikut serta dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Disabilitas Wilayah Kediri. Jenis lomba yang dia ikuti adalah tata boga. Hasilnya, dia meraih juara satu.
“Saya bikin brownis,” cerita pemuda yang bersekolah di SLB PGRI Puncu ini.
Prestasi itu mengantarnya jadi wakil Kabupaten Kediri di LKS Disabilitas Jatim. Hasilnya juga tak mengecewakan. Meskipun bukan jadi yang terbaik, dia masih mampu duduk di peringkat kedua. Alif pun membawa pulang sejumlah uang dan trofi.
“Alif suka masak,” kata Alif dengan antusias.
Ya, Alif ternyata memiliki minat dalam dunia tata boga. Meski memiliki keterbatasan, dirinya tidak bisa diam. Bahkan, dia pun berjualan donat setiap harinya. Donat bikinannya sendiri, yang dibuatnya ketika malam hari. Setelah itu, pagi harinya, dia jajakan kue bikinannya itu di sekolah.
“Kalau di kantin saya jual Rp 1 ribu. Kalau Alif jual sendiri Rp 1,5 ribu. Tapi kalau dijual Rp 1 ribu untung Alif sedikit,” ucapnya polos.
Meski untungnya sedikit Alif tetap telaten melakukannya. Keuntungan yang tak seberapa itu dia tabung. Tabungannya, yang menurut pengakuannya, akan digunakan untuk masa depannya.
“Saya ingin buat baju,” ucapnya singkat. Perkataan ini keluar ketika dia ditanya apa cita-citanya setelah lulus.
Tapi, itu masih sekadar angan-angan saat ini. Meskipun bukan berarti dia diam saja. Alif aktif mencari informasi mengenai pelatihan menjahit bagi disabilitas seperti dirinya.
“Di BLK belum ada sekarang,” keluhnya.
Kristanto menyambung omongan anaknya. Namun, yang dia ceritakan adalah awal sang anak mengalami keterbatasan fisik. Saat duduk di kelas 2 SD Alif tiba-tiba sering tak mendengar ketika dipanggil. Dia pun berinisiatif memeriksakan ke dokter.
“Katanya terlalu sering kemasukan sabun,” ungkapnya sembari menyebut keluarganya saat itu masih tinggal di Surabaya.
Setelahnya, Kristianto memboyong keluarganya kembali ke Kediri. Sementara, dirinya yang mengalah bolak-balik Kediri-Surabaya untuk bekerja sebagai kuli bangunan.
Mengenai keterbatasan Alif, dirinya mengaku akan mendukung apa yang akan diinginkan anaknya.
“Kalau saya di rumah pasti saya antar (lomba, Red). Tapi kalau pas kerja sama guru-gurunya,” jelasnya.
Ke depan, dia berharap prestasi yang sudah dimiliki Alif bisa digunakan untuk mendaftar sekaligus beasiswa di perguruan tinggi. Sebabnya, Kristianto mengaku berat apabila harus membiayai anaknya untuk kuliah. (fud)
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah