Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

MBG: Mas Bahlil Ganteng

Kurniawan Muhammad
Penulis: Kurniawan Muhammad❯
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner
By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner

Advertisement

Lagi populer di TikTok lagu MBG: Mas Bahlil Ganteng. Sejumlah akun dari para konten creator yang menayangkan konten ini mendapatkan engagement tinggi. Ada yang mencapai 55,6 juta tayangan dan 4,2 juta like (suka). Ada juga yang mencapai 17,8 juta tayangan dan 1,1 juta suka. Saking populernya lagu ini, sampai mengundang respon yang punya nama: Bahlil Lahadalia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang juga Ketua Umum Partai Golkar itu disebut-sebut ingin bertemu dengan si pembuat lagu MBG tersebut. 

Bagaimana fenomena viralnya MBG (Mas Bahlil Ganteng) jika dianalisis dalam konteks marketing dan marketing politik? Apakah fenomena ini akan menguntungkan nama Bahlil dan Golkar, atau malah sebaliknya? 

Dalam dunia digital hari ini, politik itu tidak selalu bergerak melalui pidato, baliho, manifesto, atau konferensi pers. Terkadang, politik bergerak melalui potongan lagu jenaka, komentar warganet, meme, dan joget pendek. Contohnya ini: MBG (Mas Bahlil Ganteng). 

Advertisement

Viralnya MBG, yang diplesetkan menjadi “Mas Bahlil Ganteng” adalah contoh menarik, bagaimana politik, hiburan, teknologi AI, budaya meme, dan marketing, bertemu dalam satu panggung bernama “media sosial”. 

Tampak remeh, bahkan lucu. Tetapi justeru di sini lah kekuatannya. Dalam ekosistem digital, sesuatu yang lucu sering lebih cepat menyebar ketimbang sesuatu yang serius. Sesuatu yang ringan, lebih mudah menembus kelompok usia muda ketimbang narasi politik yang kaku. Dan sesuatu yang berulang-ulang didengar, meski awalnya bernada satire, bisa berubah menjadi memori kolektif. 

Advertisement

Dalam konsep marketing, viralnya MBG (Mas Bahlil Ganteng) ini dapat difahami sebagai gabungan dari beberapa hal. Pertama, “user-generated content”. Yaitu konten yang dibuat dan disebarkan oleh pengguna, bukan oleh brand atau institusi tertentu. Kedua, “meme marketing”. MBG bisa dikatakan sebagai pesan politik yang berubah menjadi simbol humor yang mudah direplikasi. Ketiga, “earned media”. Karena Bahlil dan Golkar mendapatkan eksposur gratis dari percakapan publik. Keempat, “viral loop”. Karena semakin banyak orang memakai audio, semakin sering algoritma mendorongnya, lalu semakin banyak pula orang yang ikut meniru. Kelima, “attention economy”. Karena nilai utama di media sosial itu bukan lagi sekadar benar atau salah, tetapi siapa yang paling sering muncul, paling banyak ditonton, paling banyak dikomentari, dan paling lama ditahan dalam layar pengguna. 

Jonah Berger dalam “Contagious: Why Things Catch On” menjelaskan, bahwa sesuatu yang menjadi viral bukan semata-mata karena kualitas pesannya. Tetapi karena memiliki unsur pemicu sosial, yakni: mudah dibicarakan, membangkitkan emosi, terlihat publik, praktis untuk ditiru, dan memiliki cerita. Nah, MBG (Mas Bahlil Ganteng), memenuhi hampir semua unsur tersebut.  Frasa-nya pendek. Nadanya mudah diingat. Liriknya lucu. Sosok yang disebut adalah pejabat penting. Ada unsur kejutan. Ada ironi. Ada ruang untuk parodi. Dan yang paling penting: siapa pun bisa ikut membuat versinya sendiri. 

Ini lah yang membuat MBG cepat menyebar. Dia bukan hanya “konten tentang Bahlil”. Melainkan menjadi “format hiburan” yang bisa dipakai ulang. Dalam algoritma TikTok dan Reels, format lebih penting ketimbang pesan tunggal. Begitu sebuah audio berubah menjadi format, dia tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh si pembuat awal. Dia menjadi bahan mentah bagi kreativitas publik. Ada yang memakainya untuk joget. Ada yang menjadikannya lelucon. Ada yang membuat versi remix. Ada yang memakainya sebagai sindiran. Ada pula yang menikmatinya sebagai hiburan tanpa peduli konteks politiknya. 

Bagi Bahlil, fenomena ini jelas memberi keuntungan komunikasi. MBG (Mas Bahlil Ganteng) membuat sosok Bahlil hadir dalam percakapan publik dengan cara yang lebih cair. Dia tidak tampil sebagai pejabat yang kaku, dan formal. Tetapi sebagai figur yang bisa dijadikan bahan candaan publik tanpa terlihat marah. 

Respon Bahlil yang santai, bahkan ingin bertemu dengan si pembuat lagu MBG (Mas Bahlil Ganteng), memperkuat kesan bahwa dia cukup lentur menghadapi budaya digital. Dalam marketing politik, ini penting. Publik muda seringkali tidak menyukai politisi yang terlalu defensif. Mereka lebih mudah menerima figur yang bisa tertawa atas dirinya sendiri.  

Advertisement

Artikel Terkait

Dugaan Keracunan Massal Siswa SMPN 1 Dramaga usai Santap MBG, Menu Sate Picu Gejala

Dugaan Keracunan Massal Siswa SMPN 1 Dramaga usai Santap MBG, Menu Sate Picu Gejala

Ratusan siswa SMPN 1 Dramaga, Kabupaten Bogor, mengalami gejala keracunan massal usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyikapi insiden ini, Bupati Bogor

Tekan Anggaran, Kepala BGN Pilih Pakai CCTV Lama dengan bantuan Teknologi AI untuk Awasi Dapur MBG

Tekan Anggaran, Kepala BGN Pilih Pakai CCTV Lama dengan bantuan Teknologi AI untuk Awasi Dapur MBG

Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan tidak ada rencana pembelian maupun pengadaan kamera pengawas baru secara besar-besaran untuk mengawasi operasional dapur Makan B

Viral Pengadaan Video Dokumenter BGN Rp1,37 Miliar, Begini Penjelasan dari Lembaga

Viral Pengadaan Video Dokumenter BGN Rp1,37 Miliar, Begini Penjelasan dari Lembaga

Belakangan ini publik dihebohkan dengan pengadaan paket pembuatan video dokumenter Badan Gizi Nasional (BGN) senilai Rp1,37 miliar.Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, m

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer