Tiada hasil yang memuaskan tanpa perjuangan. Hal itu benar-benar dicamkan oleh pemuda ini demi meretas prestasi di jalur karate. Meskipun harus kepontalan membagi waktu dengan sekolah.
DIANA YUNITA SARI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Usianya baru 19 tahun. Namun sudah banyak prestasi yang diraih oleh Dewangga Haikal. Paling anyar, pemuda asal Desa Baye, Kecamatan Kayenkidul ini meraih medali emas dalam Pekan Olaharaga Provinsi (Porprov) Jatim 2025. Persisnya dari kelas 55 kilogram putra cabang olahraga karate.
“Di porprov sebelumnya hanya meraih perak,” cerita pemuda yang karib disapa Angga ini.
Itu bukan satu-satunya prestasi dari Angga. Pemuda ini juga beberapa kali naik podium ketika mengikuti berbagai kejuaraan tingkat nasional. Contohnya, medali perunggu di ajang Piala Kapolri 2025.
Semua hasil itu tidak dia ukir dalam waktu sekejap. Butuh jalan panjang dan berliku. Serta perjuangan yang tak kenal kata lelah.
Angga memulai perjalanan karatenya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tepatnya kelas 1 SD. Motivasi awalnya adalah karena ia sempat menjadi korban bullying saat TK.
Motivasinya kian kuat ketika dia melihat kakaknya juga terjun di olahraga beladiri serupa. Sang kakak lebih dulu berlatih karate.
"Awalnya karena dulu pas di TK sempat di-bully. Terus tertarik ke karate karena saat itu kakak juga sudah tergabung ke pelatihan karate," akunya
Dojo tempatnya berlatih adalah di desanya, Desa Baye. Dojo ini didirikan oleh seorang perangkat desa bernama Pancana Sigit dan Hakim Rahmadsyah Parnata-sosok yang kini jadi Ketua KONI Kabupaten Kediri.
Ketika bergabung pada 2014 silam, Angga bersama 100-an anak lain yang sebagian besar berasal dari Desa Baye. Biaya pendaftaran gratis. Hanya perlu membayar untuk seragam karate sebesar Rp 150 ribu dan biaya latihan Rp 2 ribu setiap pertemuan.
Sejak itu dia rutin mengikuti latihan. Bahkan ketika teman-temannya yang lain mulai mrotoli akibat terhalang sekolah dan yang lainnya, Angga tetap bertahan. Hal tersebut ia lakukan karena tidak ada ekstrakurikuler karate di sekolahnya.
Sebagai lulusan SMAN 8 Kediri, Angga sering mewakili sekolahnya dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) maupun SMA Awards. Tentu saja, dia harus pandai mengatur waktu. Dan, itulah kesulitan terbesarnya selama ini. Yaitu mengatur waktu antara sekolah dan latihan.
Praktis, setiap hari Angga harus bangun pagi-pagi buta. Menyempatkan latihan terlebih dulu. Kemudian berlanjut lagi sepulang sekolah.
"Wah, susah sekali bagi waktunya. Dulu jam 5 pagi latihan dulu terus langsung berangkat sekolah. Ganti seragamnya di pom bensin (stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU, Red). Pulang sekolah latihan lagi sampai malam. Apalagi kalau banyak tugas," kenangnya.
Angga bersyukur bahwa kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh untuknya agar menjadi atlet karate. Hal itulah yang menjadi pendorong utama baginya terus berprestasi.
"Orang tua memberi dukungan penuh jadi saya juga semangat. Mereka berharap saya bisa semakin berkembang di jenjang nasional," tutupnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira