Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Diana Devandasalma Berkecimpung sebagai MUA Profesional di Kediri, Dulu Jualan Keripik Pisang

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 10 Agustus 2025 | 00:42 WIB

 

SOSOK: Diana, MUA profesional Kediri.
SOSOK: Diana, MUA profesional Kediri.
KEDIRI, JP Radar Kediri- Diana Devandasalma tak pernah membayangkan dirinya bakal menjadi seorang make up artist (MUA) profesional di Kediri. Yang ada di benaknya, penata rias sangatlah ribet. Dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Anggapan itu muncul karena melihat orang tuanya yang lebih dulu aktif di dunia MUA.

Gadis kelahiran 2005 itu awalnya iseng mengikuti tren anak-anak muda sebayanya. Buah hati dari pasangan Yusuf Wildanu dan Emi Dwi Purwanti itu suka membuat konten di media sosialnya. Karena punya keahlian merias diri sendiri, jadilah konten itu tentang rias sederhana untuk mengisi kontennya.

Kebiasaannya membuat konten itulah yang kemudian menarik dirinya sedikit demi sedikit ke MUA profesional. Saat bosan merias diri sendiri, gadis asal Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri itu mengajak temannya menjadi objek riasan.

Aktivitasnya membuat konten rias itu tentu mendapat support penuh orang tuanya. Diana -begitu sapaan akrab Diana Devandasalma- mengaku, rias yang digunakan untuk konten beda dengan yang digeluti orang tuanya.

“Orang tua MUA konvensional,” ujarnya. Diana pun berupaya untuk mencari pangsa pasarnya sendiri. Aktivitasnya di dunia maya pun diminati banyak teman-temannya.

Karena tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya, Diana hanya menggunakan peralatannya seadanya untuk membuat konten. Menariknya, semua peralatan rias yang dipakai Diana untuk konten bukan dari orang tuanya.

Dia mengumpulkan uang dari usahanya sendiri. Ketika itu, saat masih duduk di bangku putih abu-abu, dia berjualan keripik pisang. Hasil jerih payahnya berjualan itulah yang dipakai untuk membeli peralatan merias di konten. “Alhamdulillah, saat jual keripik omzetnya bagus. Akhirnya bisa beli peralatan," aku alumni SMAN 1 Pare itu.

Karena ketekunannya membuat konten, Diana mulai dilirik. Utamanya adalah teman satu angkatan di kampusnya. Nah, ketika ada momen wisuda. Mayoritas teman-teman perempuannya menggunakan jasanya.

Ada 18 orang temannya yang yang menyewa jasanya. Pada saat bersamaan, Diana juga wisuda dan sebelum merias diri sendiri harus melayani teman-teman terlebih dahulu.

"Mulai pukul 02.00 sampai 07.00 pagi. Gara-gara itu aku hampir terlambat. Aku sempat nangis," kenangnya kemudian melempar senyum.

Pengalaman itulah yang kemudian mengantarnya ke dunia MUA profesional. Diana berhasil menemukan pangsa sendiri. Dia berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang orang tua. Dan mendirikan brand sendiri.

"Kalau mama mungkin riasannya dari kalangannya. Kalau aku lebih ke gen Z," jelas anak sulung dari tiga bersaudara itu.

Diana mengaku, orang tuanya inginnya dia melanjutkan usaha mereka. Alasannya agar lebih mudah. “Tapi aku lebih suka bikin sendiri," jelasnya.

Hal itulah yang menuntut Diana untuk selalu mengupgrade skillnya. Dia juga ikut berbagai kelas MUA. Selain dapat ilmu baru, dia juga mendapat sertifikasi ahli.

Tahun ini, dia  diberi kepercayaan untuk menjadi sponsorship Duta Genre Kediri sebagai MUA. Kemudian  diberi kepercayaan lagi menjadi Juri Lomba Makeup sebaya dalam rangka PIK-R Duta Genre Kediri. Karena skillnya, dia juga  dipercaya untuk menjadi narasumber dalam event Beauty Class produk makeup OMG Kediri sebanyak dua kali.

Selain aktif di MUA, dia juga aktif menjadi muse. Melalui konten-kontennya, Diana dilirik banyak makeover profesional untuk dijadikan model. Dari situ banyak panggilan masuk untuknya.

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

 

 

  

Editor : rekian
#badas #kediri #pare #mua #keripik pisang