JP Radar Kediri - Buku bersampul merah itu dia bolak-balik. Membuka halamannya lembar demi lembar. Membaca ulang bait demi bait puisi yang ada di dalamnya.
Buku itu berjudul ‘Sesal Cinta. Merupakan kumpulan puisi karangan Annisa Lailly Azzahra. Pelajar kelas XII MAN 2 Kota Kediri, gadis yang membolak-balik buku tersebut.
Bakat menulisnya sangat menonjol. Dari bakat itu pula dia bisa menjadi siswa di salah satu madrasah aliyah favorit di Kediri ini.
“Awalnya malah nggak suka sastra. Dulu nggak suka membaca,” aku gadis asal Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini.
Cewek yang biasa disapa Annisa ini melanjutkan ceritanya. Mengatakan bahwa karena tak suka membaca itulah dia akhirnya tak menyukai pelajaran bahasa Indonesia.
“Karena banyak bacaannya,” dalihnya sambil terus membuka buku yang berisi karya-karyanya tersebut.
Mengapa sekarang justru jadi hobi menulis? Sangat produktif pula!
“Itu terjadi karena tak sengaja,” ucap Annisa.
Ketidaksengajaan itu terjadi ketika dia masih bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 7 Kediri. Saat itu gurunya mengucapkan kata-kata yang memantik rasa ingin tahunya dengan dunia literasi.
“Kalau sudah tahu dalamnya sastra, kamu pasti suka,” katanya, mengulang ucapan sang guru beberapa tahun silam itu.
Maka, mulailah perjalanan Annisa di dunia sastra. Dia mulai mencoba menyenangi membaca. Kemudian mendalami kesastraan. Akhirnya, sedikit demi sedikit dia bisa menghasilkan tulisan. Dia tulis di secarik kertas maupun dalam gawai.
Annisa lincah dan banyak menghasilkan karya karena didasari pemikiran yang tak muluk-muluk. Ide yang dia tuangkan dalam tulisan berasal dari pengalaman pribadi. Terutama kegundahan hati sebagai seorang remaja putri.
Pun, ketika dia tenggelam dalam rasa duka yang tak terperi, produktivitasnya mengeluarkan karya sastra justru meninggi. Seperti yang dia alami tiga tahun silam. Ketika dia menjalani fase terberat dalam perjalanan hidupnya.
Ya, bungsu dari dua bersaudara itu kehilangan sang ibu, meninggal dunia. Saat usianya masih sangat belia seperti itu, mental Annisa jelas goyah. Karena kehilangan figur yang sangat dia cintai.
Apalagi, setelah itu, dia masih harus berperan sebagai caregivier. Menjadi pendamping neneknya yang jatuh sakit. Sekaligus mengemban tugas domestik seperti memasak yang menjadi tanggungannya. Beban baru yang seakan membawanya di jalan sunyi, yang harus dia jalani seorang diri.
Tapi, justru jalan sunyi itu yang kian menggugah semangat berkaryanya. Dia semakin produktif menulis karya sastra. Ya, karena merasa tak punya teman mencurahkan isi hati, gadis kelahiran 2008 itu menuangkannya dalam tulisan.
“Aku jadi mulai nulis puisi gara-gara merasa terpuruk,” kenangnya.
Kini, menulis seakan sudah menjadi obsesi bagi dirinya. Terlihat, ketika diajak berbincang soal sastra, semangatnya benar-benar menggebu. Matanya terus berbina bila berbicara soal itu.
Hasratnya yang tinggi di bidang sastra ini membuatnya selalu mencari cara agar bisa menulis. Meskipun didera kepadatan kegiatan belajar. Gadis yang berkeinginan kuliah di Universitas Gajah Mada itu selalu punya cara mencuri waktu.
Menulis sudah menjadi rutinitas. Di manapun, begitu ada ide, langsung dia tulis hingga terkumpul jadi puluhan karya puisi. Coret-coret di kertas maupun di gawai berkembang menjadi ide-ide karya sastra.
“Beberapa karya yang saya ikutkan lomba juga dibukukan bersama karya dari penulis-penulis lain,” ungkap siswi yang belajar di kelas peminatan IPS itu.
Dia juga beberapa kali menantang diri mengikuti lomba. Baik lomba puisi, cerpen, hingga esai ilmiah yang dia ikuti bersama teman-temannya. Mulai tingkat kota sampai provinsi. Termasuk beberapa kompetisi yang digelar oleh perusahaan penerbitan buku.
Terbaru, kumpulan puisinya telah dibukukan dengan judul ‘Sesal Cinta’. Buku bertanda ISBN tahun 2023 dan berisi 54 halaman puisi itu kini beredar di toko-toko buku off-line. Prestasi itu tentu membanggakan bagi orang-orang terdekatnya. Termasuk ayah dan kakaknya yang juga mendukung penuh hobinya itu.
“Ayah dan kakak support sampai bantu mempromosikan ke teman-temannya. Sampai banyak juga teman-teman yang beli,” ujarnya bangga.
Bagi Annisa, menulis bukan hanya menjadi caranya mengaktualisasi diri dan mengisi waktu di usia remajanya. Namun juga sebagai upayanya ‘sembuh’ dari keterpurukan.
“Tulisan-tulisan ini juga jadi pengingat bagi saya. Bahwa saat saya baca lagi sekarang, saya bersyukur ternyata saya bisa melewati masa-masa itu. Saya sudah bisa jauh lebih bahagia dari kemarin,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil