Upaya mengenalkan sejarah dilakukan oleh komunitas ini. Mengajak peserta berkeliling ke tempat-tempat yang berstatus cagar budaya. Sekaligus mengenalkan budaya negeri.
HABIBAH A. MUKTIARA, Kota, JP Radar Kediri
Hari masih pagi. Jarum jam menunjuk pukul 08.00 WIB. Namun, suasana di Hutan Kota Joyoboyo sudah riuh.
Puluhan orang, dewasa dan anak-anak berkumpul di area lapang yang berada di tengah hutan kota tersebut. Melakukan registrasi, kemudian menunggu disuruh naik ke mobil.
Ada tujuh mobil yang menunggu. Berkap terbuka. Merek Volkswagen jenis 181/182 Kurierwagen. Atau, yang biasa disebut di tanah air sebagai VW Safari.
Menariknya, hampir semua peserta mengenakan pakaian yang bertempo dulu. Berpakaian tradisional. Hanya beberapa bocah yang memakai cosplay salah satu tokoh anime Jepang, One Piece.
“Ini karakter Luffy dari One Piece,” ujar Ghanim Aryasatya.
Ghanim datang bersama keluarga. Ada sang ibu, Ratih Kusuma Dewi dan ayahnya, Ferry Aji Hariyanto. Serta kakak perempuannya, Aisha Attaya Salsabila.
“Kebetulan sedang libur sekolah dan cari kegiatan yang berbeda. Kebetulan pula suami saya juga libur,” terang Ratih.
Perempuan berusia 36 tahun ini mengaku mendapat info ‘City Tour Tempo Doeloe dari temannya. Kemudian memberitahu kedua anaknya apa bersedia ikut.
“Saya kasih lihat foto VW langsung excited,” ungkap perempuan asal Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri ini.
Setelah lengkap, sekitar pukul 09.00, tujuh VW Safari itu berangkat. Destinasi pertama adalah gedung eks-kantor Karesidenan di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Berjarak sekitar tiga kilometer dari hutan kota.
Tiba di tempat yang kini jadi kantor Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Kediri rombongan menemukan latihan tari yang dilakukan oleh Sanggar Kediri Jayati. Mereka tengah berlatih tari Bedoyo.
Baca Juga: Mengenal Isha Setia Putri, Penari sekaligus Instruktur Tari yang Punya Segudang Prestasi
Selain mendengarkan cerita sejarah tentang eks gedung karesidenan, peserta juga bisa ikut menari.
“Kata anak saya ini tari slow motion ya, soalnya tahunya tari dengan beat cepat,” ujar Ratih sambil tertawa.
Ada enam peserta city tour yang ikut berlatih menari. Selain Ratih juga ada Nugraheni Yuliastuti. Perempuan berusia 49 tahun ini dengan semangat ikut berlatih tari.
“Saya nggak menyangka di usia saat ini ikut menari,” kata perempuan yang kerap dipanggil Heni.
Di usianya yang tidak lagi muda, Heni bersama dengan peserta city tour lainya antusias mengikuti setiap gerakan. Meski tidak seluwes penarinya.
Perempuan asal Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem ikut city tour memang suka dengan sejarah. Keikutsertaannya dalam tur ini karena ingin mengetahui tentang sejarah dan budaya.
Tidak hanya belajar menari, peserta city tour juga melihat langsung pembuatan udeng khas Kediri. Yang dilakukan oleh angota karang taruna Kecamatan Mojoroto.
Sayang, peserta sedikit kecewa setelah tahu tidak jadi bisa melihat rusa yang berada di tempat ini. Sebab untuk masuk ke halaman belakang gedung memerlukan izin. “Sudah berekspektasi tinggi, tapi nggak jadi bisa lihat rusa,” ucap Ratih.
Satu setengah jam berada di gedung eks-karesidenan, rombongan kemudian menuju Pura Penataran Agung Kilisuci.
Tidak semua bisa masuk, karena ada aturan bagi yang sedang berhalangan atau memegang jenazah tidak boleh masuk.
“Kebetulan saya sedang halangan, jadi gak boleh masuk,” ujar Heni sedikit sedih.
Setelah berkunjung di pura, mereka kemudian melanjutkan ke beberapa tempat lain seperti goa selomangleng, kawasan pecinan, dan jembatan lama Kota Kediri.
Ketua komunitas Pasak, Didin Saputro, Kediri adalah kota tua yang kaya akan sejarah. Yang memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata jika dieksplorasi lebih lanjut.
“Kami dengan teman-teman Pasak juga berupaya untuk terus melestarikan cagar budaya dan bangunan-bangunan bersejarah di Kota Kediri,” kata Didin.
Fida Shihab Az Zuhri sebagai ketua pelaksana VW City Tour Kediri mengatakan dengan mobil VW mereka mengajak peserta berkunjung dan mengenal nilai-nilai bangunan bersejarah di Kota Kediri.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira