HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
LELAKI muda itu mengenakan kaus lengan panjang. Bewarna biru dongker dan bawahan sarung bewarna hitam bermotif batik. Duduk di kursi plastik warna hijau, menghadap kanvas yang dia coreti dengan beragam bentuk.
Tangan kirinya memegang palet dan kaleng cat. Sedangkan tangan kanan membawa kuas yang siap digunakan untuk mengaplikasikan warna di kanvas. Menuangkan ide di benak yang seakan tak pernah padam.
“Saya suka seni sejak kecil. Bahkan mungkin tertarik di dunia lukis sejak balita,” ujarnya pemuda bernama lengkap Khoirul Anam ini sembari melempar senyum.
Khoirul Anam adalah salah satu dari puluhan seniman di Kediri yang memiliki keahlian dalam melukis. Beraliran naturalis, melukis hewan, tumbuhan hingga pemandangan alam. Terhitung hingga saat ini dia sudah berkarya hampir belasan tahun.
“Sering ikut lomba melukis saat sekolah. Tetapi belum pernah berkesempatan juara,” kenangnya.
Selain memiliki hobi melukis, lelaki ini juga ahli silat. Itu dibuktikan dengan keikutsertaannya dalam perguruan silat. Hobi ini dilatarbelakangi karena dia suka adu kekuatan dengan orang lain.
“Sebelum mendalami dunia melukis saya hobi berantem,” akunya sembari menyebut satu per satu kenakalan remaja pada umumnya.
Seiring berjalannya waktu, lelaki yang akrab disapa Khoirul ini menyadari bahwa harus bisa memanfaatkan hobinya ke hal-hal yang positif.
Yaitu dengan mengesampingkan keahliannya dalam pencak silat. Mulai fokus dalam dunia melukis.
Lelaki berdomisili di Desa Dawung, Kecamatan Ringinrejo ini mengakui bahwa tidak ada darah seni dalam keluarganya.
Bakat seninya terolah setelah dia belajar secara otodidak. Baik melalui media sosial maupun seniman yang dikenalnya.
Proses belajar seni secara otodidak ini didalaminya sejak usia taman kanak-kanak (TK) hingga bangku sekolah menengah atas (SMA).
Secara tidak langsung ini juga menjadi hobinya. Tepat setelah lulus SMA dia langsung bergabung ke sanggar lukis Ruslan sembari membuka usaha lukisannya ini.
“Tepat pada 2021 saya bergabung ke sanggar lukis Ruslan dan bertemu dengan para maestro lukisan. Dalam waktu bersamaan hasil lukisan saya juga mulai diminati orang lain,” terang lelaki berusia 25 tahun itu.
Sebagai pelukis perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Khoirul Anam pernah tidak bisa melukis karena tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.
Hobi melukisnya pun sering direndahkan. Bahkan dikatakan tidak memiliki masa depan.
Namun dia tidak menyerah. Lelaki yang akrab disapa Khoirul tetap berusaha untuk meyakinkan dan membuktikan kepada orang tua serta orang di sekitarnya.
Menegaskan bahwa hobinya ini mampu menghasilkan uang. Tak hanya itu, melalui hasil lukisan namanya juga mulai dikenal di beberapa daerah.
“Terjauh lukisan saya pernah dikirim ke Kalimantan, Jakarta, dan Depok. Dengan harga dan jenis lukisan yang beragam,” paparnya.
Harga yang dia patok untuk hasil karya lukisannya masih sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Yaitu berada pada kisaran Rp 1 Juta hingga Rp 5 juta.
Dengan kurun waktu yang dibutuhkan pun berbeda-beda tergantung dengan tingkat kesulitan yang diminta oleh customer.
Lalu berapa karya yang dihasilkan setiap harinya? Khoirul mengaku dalam satu hari minimal dia bisa menghasilkan satu karya.
Terhitung sedikit karena dia ingin bisa memberikan hasil terbaik yang dapat memuaskan pelanggannya.
“Namanya seni itu tidak bisa kalau dikerjakan buru-buru. Sebab setiap goresannya memiliki cerita dan ikatan emosional tersendiri,” ucapnya.
Waktu yang cukup lama dalam menghasilkan karya tidak menjadi masalah bagi pelanggannya.
Itu karena sejak awal Khoirul telah menyampaikan jika waktu yang dibutuhkan untuk satu karya minimal satu minggu. Tergantung dari tingkat kerumitan dan bahan yang diperlukan.
Pesanan yang datang kepadanya pun tidak melulu dari rekan sesama pelukisnya. Melainkan juga dari media sosial seperti Facebook dan Instagram.
Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi ini Khoirul lebih mudah dalam memperkenalkan dan memasarkan hasil lukisan.
Tak hanya itu, dia juga gemar dalam memberikan edukasi kepada orang lain. Itu dibuktikan dengan keinginannya menjadi guru seni di tingkat TK.
“TK ini menjadi pondasi penting dalam menumbuhkan keahlian melukis. Sebab dasar dari melukis adalah garis dan warna,” terangnya.
Terakhir Khoirul mengatakan, bahwa tidak ada hasil yang menghianati usaha. Nyatanya hobi yang dulu diremehkan dan dianggap tidak memiliki masa depan justru sebagai ladang penghasilan dan penarik rezeki yang tidak disangka-sangka.
“Namanya hidup yang penting usaha dan berdoa. Terkait hasil biarkan yang diatas yang menentukan,” pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira