Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Sunardi si Juru Kunci Petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri Pengabdian Turun-temurun, Terpilih karena Punya Cucu

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 15 April 2025 | 04:31 WIB
Sunardi duduk di ruang juru kunci Petilasan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
Sunardi duduk di ruang juru kunci Petilasan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Dulu, kakeknya adalah juru kunci tempat yang dipercaya sebagai petilasan raja besar Kediri ini. Menurunkannya ke bapaknya kemudian ke dirinya. Namun, dia tak tahu apakah nanti meminta anaknya menggantikan dirinya.

HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Hari sudah siang. Terik matahari pun terasa menyengat kulit. Namun, di area Petilasan Sri Aji Jayabaya panas sang surya itu seakan tak terasa. Udara terasa sejuk. Banyaknya pepohonan yang tumbuh di area petilasan menjadi sebabnya. Ditambah lagi, lokasinya yang berada di tepi persawahan. Menjadikan hawa terasa segar dan bersih.

Petilasan ini berada di area seluas seribu meter persegi lebih. Tepatnya, 1.650 meter persegi. Berada di Desa Menang, Kecamatan Pagu.

Areanya terbagi dalam tiga bidang. Masing-masing punya nama, Loka Moksa, Loka Busana, dan Loka Mahkota. Setiap bagian itu dikeliling pagar tembok.

“Perawatan (petilasan) dilakukan dengan bantuan pihak yayasan. Namanya yayasan Hondodento, termasuk membantu melakukan pengecatan,” cerita Sunardi.

Sunardi, yang biasa disapa dengan panggilan Nardi, adalah juru kunci petilasan. Tugas ini dia emban sejak 2020. Menggantikan posisi ayahnya yang meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal sang ayah memang telah menunjuknya menjadi pengganti.

“Dari lima bersaudara hanya saya yang diperintah. Dan kebetulan saat itu saya memenuhi salah satu persyaratan, yaitu sudah memiliki cucu,” akunya.

Bagi Nardi, pekerjaan yang ditekuninya saat ini merupakan panggilan batin. Meskipun tak digaji setiap bulan. Hanya mendapatkan hasil dari tanah bengkok yang menjadi garapannya. Upah sebagai juru kunci.

“Ini kan bentuk pengabdian atau ngawula, ya paling kalau dari pihak desa dapat bengkok sawah,” imbuh sang juru kunci.

Soal pengabdiannya itu, Nardi merendah. Dia menyebut tidak ada apa-apanya bila dibanding sang ayah. Yang menjadi juru kunci hingga puluhan tahun. Mulai 1976 hingga meninggal dunia pada 2020.

Beberapa tahun sebelum ayahnya meninggal, Nardi sudah mulai cawe-cawe. Membantu tugas sebagai juru kunci. Tepatnya sejak 2018.

 “Awalnya saya hanya ikut-ikut ayah. Baru sepenuhnya mengabdi ketika ayah meninggal dunia,” ungkapnya.

Dalam menggeluti pekerjaannya ini, Nardi benar-benar total. Tak hanya ikhlas bekerja saja, tapi waktu yang dia curahkan juga hampir 24 jam sehari. Semua dia lakukan demi kepentingan di petilasan.

“Saya tidak pernah menutup tempat ini. Jam berapapun pengunjung datang selalu terbuka,” paparnya.

Dia juga tidak mempermasalahkan ketika tengah malam harus dipanggil karena ada tamu yang membutuhkan bantuan. Meskipun saat itu dia baru saja sampai rumah pukul 01.00 dini hari setelah melakukan penjagaan.

“Sudah biasa hal itu terjadi, meskipun tengah malam ada tamu pasti ada yang memanggil saya ke rumah,” tandasnya.

Menurut Nardi, semua yang bekerja di petilasan menempatkan pengabdian di atas segalanya. Mulai tukang bersih-bersih hingga penjaga di pos tidak mendapatkan gaji. Namun ketika salah satu memperoleh rezeki maka akan saling berbagi.

Ke depannya dia belum mengetahui apakah akan menurunkan profesi juru kunci ini kepada anaknya. Itu karena menjadi juru kunci  merupakan panggilan hati.

“Kalau saya dulu sejak kecil tidak ada pikiran untuk melanjutkan pekerjaan kakek dan ayah. Tetapi ternyata ketika saya tua terpanggil untuk menjalankan perintah ayah,” tandas Sunardi, lelaki kelahiran tahun 1965 itu.

Petilasan Sri Aji Jayabaya ini memang tidak seramai tempat wisata lainnya. Pengunjung ramai datang di malam Jumat Legi dan Selasa Kliwon. Rata-rata yang berkunjung untuk kepentingan tertentu. Seperti berdoa agar keinginannya terkabul. Baik urusan pekerjaan, keturuna, maupun jodoh.

Dia pun biasa membantu menyampaikan hajat pengunjung. Asal mereka tidak ragu akan pengabulan permintaan tersebut.

“Yang penting yakin saja. Untuk hasil serahkan sama yang di atas,” jelasnya.

Jika ditanya apakah ada biaya, Sunardi menjawab sukarela saja. Kalau ada yang memberi diterima. Jika tidak juga tidak apa-apa. Itu dilakukannya karena dia ingin membantu orang lain yang sedang membutuhkan.

Terakhir dia berpesan agar masyarakat baik muda maupun dewasa untuk sama-sama nguri-nguri budaya leluhur. Sebab kalau bukan generasi penerusnya, siapa lagi yang akan melanjutkan.

“Budaya ini sifatnya diwariskan secara turun temurun. Kalau buka saya dan generasi selanjutnya siapa yang akan melestarikannya,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira