KEDIRI, JP Radar Kediri- Sejak kecil, dara yang biasa disapa Bre ini sudah mengkrabi dunia voli. Cabang olahraga yang juga pernah digeluti oleh ibunya.
Hingga kemudian dia tertarik untuk menekuni olahraga beregu ini. Kecintaannya dengan olahraga voli dimulai sejak masih bocah.
Kala itu, dia masih kelas 5 sekolah dasar (SD). “Jadi mamaku tanding, saya sering diajak. Kan anak kecil biasanya senang lihat permainan, akhirnya penasaran,” kenangnya.
Setelahnya, Bre bergabung dengan klub voli Mitra Utama. Walau masih kecil, ternyata dirinya betah. Bahkan, dia menggeluti dunia voli sampai duduk di bangku perkuliahan.
Karenanya, ada begitu banyak pertandingan antar kampung (tarkam) atau kompetisi yang sudah diikutinya. Termasuk kejuaraan nasional (kejurnas) dan pekan olahraga provinsi (porprov) Jawa Timur.
“Saya tiga kali ikut. Alhamdulillah juara dua saat porprov 2019,” akunya sembari menyebut dirinya mengkuti porprov di tahun 2019, 2021, dan 2023.
Hanya saja, ada keputusan besar yang harus diambilnya. Ada kebimbangan yang menyelimuti. Terus bergelut menjadi atlet voli atau mencari peruntungan lain.
Semua kegelisahan itu Bre rasakan ketika menggarap skripsi. Dan keputusannya saat itu adalah menyudahi karirnya sebagai atlet voli.
“Waktu itu merasa saya kurang produktif dan kurang nyaman. Jadi waktu semester delapan itu stop,” ungkapnya.
Namun demikian, dia tetap aktif di dunia olahraga. Namun, bukan voli. Melainkan dunia atletik. Olahraga yang seharusnya dikuasai oleh para atlet voli.
“Ada salah satu pembicara yang mengatakan atlet voli yang baik itu didasari ilmu-ilmu atletik,” ingatnya.
Setelahnya, Bre banyak sharing dengan teman-temannya yang sudah menguasai dunia atletik. Hingga akhirnya dia memberanikan diri terjun seratus persen.
Hanya saja bukan sebagai altet. Tetapi pelatih. Kebetulan, salah satu rekannya saat itu sedang membutuhkan tenaga pengajar.
“Waktu itu pelatihnya kosong (karena ditinggal luar kota, red). Dengan rasa penasaran itu, saya berkecimpunglah di situ (dunia atletik, red),” terangnya sembari menyebut dirinya mengajar anak kecil.
Meski baru di dunia atletik, Bre tidak berkecil hati. Wanita berusia 23 tahun ini memang suka mengambil tantangan. Terlebih belajar hal baru.
Seperti yang dilakukannya saat memilih kuliah dulu. Walau mahir dalam olahraga voli, tetapi dirinya mengambil jurusan Pendidikan Sejarah di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.
“Alhamdulillah saya juga diterima (mengajar) di Petra (SMA Kristen Petra Kediri, red),” katanya.
Bre sendiri mengaku bersyukur karena tidak sempat menganggur.
Dia juga tidak menyangka bisa menjalani berbagai hal secara bersamaan. Di bidang akademik dan non akademik.
Pasalnya, pagi hingga siang dirinya akan berkutat dengan mata pelajaran sejarah. Lalu, sore hari di hari tertentu dia melatih klub atletik. Satu lagi, saat ini dirinya juga menjadi pelatih voli di SMPN 1 Kota Kediri.
“Dulu itu cuman sekelebat (angan-angan) aja. Mungkin kayak halu, ternyata bisa (menjalani berbarengan, red),” ujarnya. Bahkan, dirinya juga pernah menjadi asisten dosen (asdos) voli selama satu semester.
Baginya, meninggalkan karir sebagai atlet voli memang berat. Namun, Bre juga tidak ingin masa depannya tidak dipikirkan dengan matang.
Karenanya dia membuat pilihan besar. Yang terpenting, apa yang akan dilakukan selanjutnya masih berada di jalur yang benar dan positif.
“Berusaha menjadi orang baik di setiap saat. Bisa jadi orang itu menjadi memberikan rejeki. Alhamdulillah ketika saya meninggalkan dunia voli, Tuhan menggantinya,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah