JP RADAR KEDIRI - Tidak semua orang bisa menjadi dokter. Yang membuat orang mengurungkan niatnya menjadi dokter karena biaya pendidikan yang mahal. Sehingga muncul stigma, lulusan kedokteran hanya bisa ditempuh orang kaya.
Stigma itulah yang dipatahkan Dhystika Zahrah Septania. Berasal dari keluarga sederhana, Gadis yang akrab disapa Tika itu membuktikan dirinya berhasil lulus sebagai dokter. Dan kini menjadi seorang dokter gigi.
Tika merupakan buah hati dari pasangan Edy Rusdianto dan Siti Nurharini. Sehari-hari, orang tuanya bekerja sebagai penjual di kantin Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri.
Penghasilan dari berjualan di kantin itu tidaklah banyak. Tapi cukup.
“Mama (Siti Nurharini, Red) ada kerjaan sampingan sebagai perias. Bukan perias yang besar, sedangkan papa (Edy Rusdianto, Red) hanya di kantin saja tidak ada kerjaan lain,” aku anak kedua dari empat bersaudara itu.
Tika tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang dokter. Sejak dulu alumni SMAN 7 Kediri itu memiliki cita-cita sebagai pengusaha.
Ketika lulus SMA, dia sempat bingung hendak melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena nilainya di sekolah terbilang moncer, orang tuanya menyarankan agar Tika memilih perguruan tinggi yang jurusannya bagus.
“Waktu itu ikut SNMPTN (jalur prestasi, Red). Tiba-tiba mama nyeplos, pilih dokter gigi aja,” kenang Tika. Dia lalu mengikuti saran orang tuanya itu, kemudian memutuskan untuk memilih Prodi Kedokteran Gigi di Universitas Negeri Jember.
Gayung bersambut, dia diterima lewat jalur prestasi. Keputusannya memilih jurusan itu menjadi awal dari perjuangannya meraih gelar Sarjana Kedokteran Gigi (S.Kg).
Biayanya terbilang mahal, Tika pernah kesulitan untuk biaya magang.
“Kebetulan saat itu adik juga mau masuk kuliah,” kenangnya. Namun hal tersebut tidak lantas membuatnya menyerah begitu saja.
Gadis kelahiran 1995 itu juga tidak ingin terus menyusahkan orang tuanya. Dia pun mengasah nalurinya sebagai pengusaha. Yakni mencoba berjualan jajanan saat kuliah.
“Biasanya ambil dari orang. Kalau tidak begitu bikin sendiri terus dijual. Jualannya saat ada jam kuliah gitu, itu kan anak satu fakultas pada masuk pada ngumpul ya. Aku jualan itu ke kelas-kelas,” akunya.
Saat kuliah, dia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan. Salah satunya adalah dunia pageant. Pada 2015, saat semester enam, dia juga menjadi Wakil 2 Putri Batik Kabupaten Kediri.
Tahun berikutnya Tika juga meraih Top 20 Finalis Hijab Model Hunt Jawa Timur 2016.
“Saat jenuh kuliah tentunya butuh refreshing. Ini (dunia pageant, Red) jadi salah satu penghilang penat,” aku perempuan yang juga memenangi beberapa lomba tari itu.
Saat ini, selain sibuk menjadi dokter gigi, Tika masih juga aktif di kegiatan lainnya. Seperti menjadi konten kreator tentang kesehatan gigi.
Dia melakukannya karena menjadi sarana untuk mengedukasi masyarakat. Khususnya tentang kesehatan gigi. Selain itu, Tika juga aktif menjadi bagian dari tim wedding organizer.
“Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan. Lahir dari keluarga sederhana bukan menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak sukses. Semua orang bisa sukses selama memiliki tekad untuk meraihnya. Tetaplah produktif, memanfaatkan segala peluang yang datang,” pesannya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah