KEDIRI, JP Radar Kediri-Namanya tergolong panjang. Mochamad Fananda Catur Pamungkas. Namun, panggilan sehari-hari cukup Fananda. Bahkan, tak sedikit yang menyapanya dengan Nanda.
Pemuda 22 tahun ini berumah di Kelurahan Pare. Satu-satunya wilayah berstatus kelurahan di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri tersebut. Sehari-hari dia adalah pelatih di kursus bela diri yang dia namai ‘Stone Camp Panjilaras’.
“Ada tiga puluhan (yang berlatih) sekarang ini,” terangnya, membuka percakapan yang berlangsung melalui sambungan telepon ini.
Ya, Nanda adalah seorang atlet mix martial art (MMA), seni beladiri campuran dari berbagai aliran. Prestasinya? Bukan kaleng-kaleng.
Karena pemuda ini adalah peraih emas dalam PON XXI yang berlangsung di Aceh-Sumut beberapa waktu lalu. Meskipun, cabor tersebut masih berstatus pertandingan ekshibisi.
Perjalanannya menekuni beladiri, sejatinya, penung lika-liku. Sejak awal selalu dilarang oleh kedua orang tuanya. Terutama sang ibu, yang tak tega melihat sang anak kena pukul.
Toh, bukan Nanda kalau tidak ‘kepala batu’. Dia tetap berusaha mewujudkan angan-angannya sejak sekolah, jadi petarung!
"Orang tua sampai sekarang ya masih melarang. Bilangnya wes to nggak usah ikut-ikut lagi. Ibuk kan pernah nonton langsung, jadi nggak tega pas saya kena pukul," ceritanya.
Uniknya, setiap kali Nanda melanggar harapaan orang tuanya itu, dengan mengikuti even, mereka tetap saja memberikan dukungan.
Terutama doa-doa yang dipanjatkan. Apalagi dia memang rutin ber-video call sesaat sebelum pertandingan. Termasuk ketika berlaga di PON XXI lalu.
Tampil di pesta olahraga nasional tertinggi itu memiliki tantangan berat. Karena masih berstatus ekshibisi, KONI Jatim tak memberangkatkan.
Karena itu, dia berangkat secara mandiri dari induk cabornya, Ikatan Beladiri Campuran Amatir Mix Martial Art (IBCA MMA) Jatim.
Memang, darah petarung Nanda sudah terpupuk sejak 2015. Tapi, waktu itu dia belajar taekwondo. Empat tahun lebih dia mendalami seni beladiri asal Korea tersebut.
Setelah itu, dia sempat vakum. Baru mulai lagi pada 2022 silam. Ketika diajak seorang teman saat SMA ke Jogjakarta. “Mulai saat itu saya belajar Muay Thai,” terangnya.
Hidup merantau di Jogjakarta tak berlangsung mudah. Dia tak bisa hanya belajar bela diri asal Thailand tersebut. Namun dia juga harus bisa menghidupi diri selama di kota tersebut.
Agar bisa mendapatkan uang, Nanda pun bekerja. Ikut di salah satu temannya yang membuka bisnis catering. “Saat itu saya jadi kurirnya,” ujarnya mengenang.
Jiwa petarungnya membara ketika melihat ada event Muay Thay di Jogja. Namun, dia memutuskan kembali ke Pare terlebih dulu untuk mempersiapkan diri.
“Sempat bolak-balik Jogja-Pare. Sebelum fokus latihan MMA untuk event Jogja Gelut Day,” ceritanya.
Sepulang dari Jogja, Nanda berusaha mendalami Muay Thai. Membeli peralatan yang akan digunakan berlatih di rumahnya.
Sama seperti saat di Jogja, ketika di Pare pun dia juga harus bisa ‘hidup’. Akhirnya, selain mendalami bela diri tersebut dia juga berusaha mencari uang untuk biaya hidup.
Mulai buka stan minuman, jadi kuli bangunan, kuli angkat, hingga sopir.
“Saat jadi kuli itu saya anggap sebagai latihan untuk kekuatan,” akunya.
Kini, Nanda sudah mulai merintis jalan kesuksesannya. Membuktikan diri mampu meraih cita-citanya menjadi petarung.
Apalagi, bukan sekadar atlet, dia ingin menularkan ilmu bela dirinya dengan membuka sasana sendiri.
"Targetnya bisa ke Uzbekistan ikut IMMAF (International Mix Martial Art Federation, Red) World Championship,” tekadnya menyebut keinginannya ikut kejuaraan dunia untuk bela diri campuran tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah