Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Mbah To, Belasan Tahun Jadi Massage Terapis Persik Kediri

Emilia Susanti • Rabu, 28 Agustus 2024 | 16:46 WIB
AKRAB: Mbah To berangkulan dengan pelatih Persik Marcelo Rospide (kanan) yang saat itu baru datang di Stadion Brawijaya.
AKRAB: Mbah To berangkulan dengan pelatih Persik Marcelo Rospide (kanan) yang saat itu baru datang di Stadion Brawijaya.

JP Radar Kediri-Nama lengkapnya Mujito. Tetapi lebih dikenal dengan panggilan Mbah To.

Sebagian lagi ada pula yang menyapanya dengan Mbah Kung. Karena usianya memang sudah kakek-kakek, 64 tahun.

Bagi yang sering mendatangi latihan Persik di Stadion Brawijaya, sosok pria dengan kumis dan rambut yang memutih ini sudah tidak asing.

Lebih-lebih bagi para pemain Persik. Karena dia adalah seorang massage therapis, tukang pijat bagi para pemain Persik.

Karena sebagai masseur, Mbah To sudah pasti hampir selalu menemani para pemain. Baik saat latihan mapun bertanding.

“Sudah sejak 2012,” ucap pria bercucu satu ini, sambil duduk lesehan di rumput Stadion Brawijaya sore itu.

Mbah To bukanlah pemijat profesional. Tak memiliki sertifikat atau ijazah dalam ilmu massage. Kemampuan yang dia miliki didapat dari otodidak.

Persik adalah klub pertama dan satu-satunya yang pernah dia ikuti sebagai seorang pemijat.

“Dulu awalnya dari sering memijat teman-teman pas di kebonan (ladang atau sawah, Red),” cerita sang masseur, mengenang awal dia memiliki keahlian memijat.

Lama-lama banyak orang yang meminta secara khusus dipijat. Tentu saja diberi imbalan.

Meskipun Mbah To tak pernah mematok tarif khusus. Berapapun pemberian si pemakai jasa dia terima dengan lapang dada.

“Ada yang ngasih Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, atau Rp 100 ribu pokoknya saya terima saja,” ucapnya.

Perkenalannya dengan Persik berawal dari seseorang yang bernama Muji Slamet. Lelaki ini adalah masseur terapis klub berjuluk Macan Putih ini sejak era divisi I pada 2000-an.

Mbah To kenal dengan Mbah Met-panggilan Muji Slamet-karena sama-sama hobi mancing.

Pada 2012, Mbah Met menawari Mbah To mengganti posisinya di Persik. Sebab, pasien pijatnya di rumah semakin banyak. Sehingga dia tak bisa membagi waktu bila harus jadi pemijat pemain sepak bola.

“Mbah Met itu sahabat saya. Sering mancing bareng. Katanya suruh menggantikan, nggak enak kalau nolak,” ceritanya.

Semenjak itulah Mbah To menjalani hari-harinya di Persik. Memijat para pemain Persik dari tahun ke tahun. Ikut merasakan ketika klub berada di Liga 1, 2, dan 3. Tentunya dengan pemain yang terus berganti-ganti.

Ketika bekerja, terkadang dirinya memijat hingga tengah malam. Tetapi semuanya dilakukan dengan senang hati.

Baginya, masalah materi tidak menjadi masalah. Berapapun yang diberikan kepadanya dirinya mengaku ikhlas.

Memang, kesenangan yang dia cari. Terpenting, para pemain senang dengan hasil kerjanya.

“Kalau pemain puas (dengan pijatannya, Red), itu yang membuat saya senang,” aku anak keempat dari 13 bersaudara ini.

Kesenangan yang dirasakannya itulah yang membuat dirinya bertahan. Pria dua anak ini mengaku akan terus bersama dengan Persik selama dirinya masih dibutuhkan.

Keseharian Mbah To juga tak dilalui terus di mess pemain atau Stadion Brawijaya. Dia juga masih bisa memuaskan hobinya, terutama memancing dan bersawah.

“Saya memancingnya malam sampai dini hari. Dulu seminggu bisa dua sampai tiga kali,” kenangnya.

Mbah To mengaku menyukai suasana hening. Karena hal itu bisa membuatnya merasa tenang. Dengan memancing dia bisa mendapatkan kedua hal itu.

Tak hanya memancing, dia juga mengaku senang bercocok tanam di sawah. Sehingga, keberadaannya di Persik sebetulnya adalah anomali.

“Jadi habis dari kota (Persik), ramai. Di rumah saya biasanya ke sawah, lihat tumbuhan,” tandas pria asli Kelurahan Ngronggo Kecamatan Kota ini.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #sosok inspiratif #persik kediri #massage #mbah to #jawa pos