Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Al Juniarti, Guru SD di Kediri yang Punya Dedikasi Tinggi terhadap Perkembangan Seni Tari Tradisional

Habibaham Anisa Muktiara • Selasa, 27 Agustus 2024 | 17:11 WIB
BERDEDIKASI : Yun Tari (depan) memimpin latihan di Sanggar Tari Ajendra Wirama, di Balai Desa Sidomulyo, Wates (23/8).
BERDEDIKASI : Yun Tari (depan) memimpin latihan di Sanggar Tari Ajendra Wirama, di Balai Desa Sidomulyo, Wates (23/8).

JP Radar Kediri-Denyut kehidupan masih terasa di Balai Desa Sidomulyo, Kecamatan Wates, sore itu. Tak hanya deretan sepeda motor yang terparkir berjajar sebagai tandanya. Juga alunan musik yang terdengar lantang.

“Ayo, gerakan tangannya,” teriak seorang wanita bercelana panjang olahraga warna cokelat, dipadu dengan kaos lengan panjang putih berkerah abu-abu. Selendang merah muda menyelempang di lehernya.

Suaranya keras ketika mengucapkan kata-kata itu. Ditujukan pada sekelompok bocah usia sekolah dasar yang berbaris rapi sambil memeragakan gerakan tari.

Seirama dengan musik dari lagu Tondu’ Majang. Lagu daerah Madura itu menjadi pengiring sekaligus judul tarian yang diperagakan para bocah tersebut.

Perempuan tersebut adalah Kasiati Al Juniarti. Namun, orang di desanya, memanggilnya dengan Yun Tari. Yang merujuk pada aktivitasnya sebagai seorang guru tari.

“Anak-anak ini sedang latihan untuk pentas di acara Agustusan,” ucap Yun, di sela waktu istirahat.  

Istri Edi Nyawidiyanto ini memang perlu menjeda latihan yang diikuti dua puluhan bocah itu. Sebab, ada empat koreografi yang dia ajarkan. Tari Remo, Kupu Cedung, Gugur Gunung, dan  Tondu’ Majeng. Satu kelompok belajar satu tarian.

Memang, di desa ini Yun adalah seorang guru tari. Sanggarnya bernama Ajendra Wirama. Tempat berlatihnya di aula Balai Desa Sidomulyo.

Yang membedakan sanggar tarinya dengan sanggar tari lainnya adalah soal biaya. Yun Tari tak mematok biaya bagi yang ingin menimba ilmu. Cukup membayar Rp 2 ribu setiap kali latihan.

“Itu (uang Rp 2 ribu) untuk kas,” terang alumnus Prodi PGSD di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.

Uang kas yang terkumpul pun bukan untuk kepentingan Yun dan asistennya, Niken. Melainkan digunakan berbagai kepentingan peserta. “Selendang dan atribut (tari) ini membuat sendiri. Bahan-bahannya (dibeli) dari uang kas,” sebut wanita 52 tahun ini.

Mengapa dia mau melakukan itu? Melatih tari anak-anak meskipun tanpa mendapat imbalan?

“Sejak kecil saya ini suka menari. Almarhum ibu saya dulu pengrawit (penabuh gamelan, Red) dan bapak punya kelompok jaranan,” ucapnya beralasan.

Kemampuan tarinya memang didapat dari warisan orang tua dan latihan secara mandiri. Dia   tidak pernah mengikuti pendidikan formal maupun non-formal yang terkait tari-tarian.

Bahkan, awalnya, dia tidak ada angan-angan menjadi pelatih tari. Hingga pertemuannya dengan seorang teman menariknya kembali ke desa setelah sempat merantau di Kota Pahlawan, Surabaya.

“Saya bertemu seorang teman di Terminal Bungurasih,” kenangnya.

Sang teman itulah yang menyarankan dia pulang kampung. Memperdalam seni tari. Saran yang akhirnya dia turuti.

Saat baru pulang, Yun tak langsung membuka sanggar sendiri. Dia masuk di salah satu sanggar di Dalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates. Menjadi salah satu pengajar.

“Itu pada 2000,” Yun menyebut tahun ketika dia kembali menekuni dunia tari.

Pada saat yang bersamaan, dia juga diminta menjadi pelatih ekstrakurikuler tari di SD Negeri Sidomulyo 1. Tujuh tahun kemudian, dia kuliah. Lulus pada 2010 yang membuatnya menjadi guru kelas. Meskipun statusnya  masih guru honorer hingga saat ini.

“Baru ikut PPG (Pendidikan Profesi Guru, Red) satu bulan lalu,” terangnya.

Hebatnya, meskipun sibuk menjadi guru kelas yang gajinya tak seberapa itu, dia mendedikasikan diri kepada seni tari. Bahkan, rela menjadi pelatih tari tanpa dibayar. Menjadikan rumahnya menjadi sanggar.

Pada 2019, Kepala Desa Sidomulyo Bambang Erwanto menawarkan aula di balai desa sebagai tempat latihan sanggar milik Yun Tari. Lengkap dengan sarana dan prasarananya.

Kini, siswa di sanggar tarinya berjumlah 30 anak. Mulai dari usia taman kanak-kanak hingga SMP. Latihannya setiap Jumat sore, pukul 15.00.

“Karena setiap sore, Senin hingga Kamis, anak-anak mengaji,” imbuhnya.

Animo masyarakat pun tinggi pada sanggar ini. Mereka datang tak hanya dari Sidomulyo. Juga desa di sekitarnya. Kini, sanggar tari milik Yun juga sudah memiliki nomor induk seni.

Tercatat di dinas pariwisata dan kebudayaan. Yang diajarkan berbagai jenis tarian. Mulai yang Jawa Timuran, Madura, Bali, hingga Sumatera. Dengan membuat banyak variasi agar lebih  menarik.

“Agar anak-anak tidak terseret tari dari luar negeri yang kini menjamur,” harapnya.

Anak didiknya pun sudah mentas di berbagai kegiatan. Seperti ketika ada tamu dari Jepang di desanya, mereka tampil menghibur.

 “Kemarin dari SD Sidomulyo yang mengikuti acara festival jaranan juga latihan di sini,” akunya.

Kini, Yun Tari berharap semua yang dia lakukan bisa terus bertahan. Agar seni tari tradisional tidak kian terdesak oleh glamournya tari modern dan kontemporer. Jenis tari yang lebih mudah menarik minat generasi muda.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #sosok inspirasi #guru sd #seni tari #jawa pos #dedikasi tinggi