Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Sosok Nabila Anwar, Ning yang Sudah Telurkan Puluhan Buku tentang Anak-Anak

Ayu Ismawati • Rabu, 12 Juni 2024 | 17:26 WIB
PRODUKTIF: Ning Nabila Anwar menunjukkan salah satu buku karyanya. Lahir di pesantren, dia menelurkan lebih dari 30 buku.
PRODUKTIF: Ning Nabila Anwar menunjukkan salah satu buku karyanya. Lahir di pesantren, dia menelurkan lebih dari 30 buku.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Duduk di sofa teras rumahnya, Nabila Anwar bercakap banyak tentang dunia literasi. Tentang kebiasaannya sejak kecil. Tentang hobi membaca, yang sejatinya juga dimiliki oleh anggota keluarga lainnya.

“Umi dan abah dulu juga mengelola toko buku. Jadi setiap pulang sekolah aku selalu duduk di bawah meja kasir. Cita-citaku dulu cuma ingin baca buku sak toko!” kelakarnya, mengenang kebiasaan masa kecil.

Meskipun berstatus ning, panggilan akrab sebagai seorang anak kiai, dunia literasi umum sudah lekat dengan dirinya sejak kecil. Lebih-lebih, anggota keluarganya yang lain juga punya kegemaran yang sama, membaca. Buku bacaan, termasuk koran, ada di setiap sudut rumah.

Buku seakan sedekat nadi bagi perempuan kelahiran 1985 ini. Lahir dan dibesarkan di lingkungan pondok pesantren semakin memberinya akses. Hal itu pula yang mendorongnya menjadi dirinya saat ini. Putri kelima dari tujuh bersaudara yang menggeluti dunia literasi. Utamanya sebagai penulis buku anak dengan puluhan judul buku yang telah diterbitkan.

Ning Nabila—sapaan akrabnya—merupakan putri dari Kiai Anwar Iskandar, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Ngasinan. Menulis buku anak sudah mulai digelutinya sejak dia berusia 21 tahun.

“Bagi saya menulis buku anak itu menantang. Karena kita harus menjelaskan hal yang rumit dengan cara yang sederhana tapi tetap menarik. Dan yang penting, pesannya dapat,” ujarnya.

Perempuan berhijab itu memang punya karakter yang menyenangkan. Yang sangat pas dengan pilihannya sebagai penulis buku anak. Sesekali dia melontarkan candaan di sela-sela obrolan dengan Jawa Pos Radar Kediri. Secangkir teh hangat yang dihantarkan putranya dia suguhkan sembari merangkai cerita perjalannya menjadi penulis buku anak.

“Aku merasa anak-anak kan manusia yang dibekali akal dan logika. Kalau didikte terus, kapan berkembangnya? Aku inginnya menulis buku anak tidak terlalu mendikte anak,” ucapnya.

Meski telah menelurkan puluhan judul buku anak, namun dia tetaplah seorang ibu dan anak perempuan. Di satu sisi, mengasuh keempat anaknya masih menjadi rutinitas utamanya. Di sisi lain, sebagai salah satu putri pengasuh ponpes, dia tetap memiliki tanggung jawab menjadi pengajar.

“Cukup sering saya dapat pertanyaan, kok nggak nulis yang agamis-agamis saja? Karena ya, orang kan sawang-sinawang. Maksudnya orang terkadang melihat enak kamu jadi penulis, bisa ngomong apa saja. Tapi pada dasarnya enggak seperti itu,” terangnya.

Salah satunya menimbang posisinya saat ini. Ning Nabila bukan hanya anak pengasuh ponpes di Kediri. Melainkan juga anak dari Ketua Umum (Ketum) Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah ayahnya dilantik tahun lalu.

“Ada batasan-batasan yang saya terapkan dalam dirisaya sendiri. Bahwa saya nggak boleh gini, nggak boleh gitu, karena melihat posisi saya,” lanjutnya.

Dengan begitu, passion-nya menulis buku anak tetap bisa sejalan dengan tanggung jawabnya menyampaikan dakwah. Dalam buku anak yang dia tulis, juga dia sisipkan nilai-nilai moral yang sarat pesan Islami. Oleh sebab itu, tak sedikit karyanya yang berkutat pada tema moral dan dakwah Islam.

“Yang penting jangan kesannya mendakwahi anak. Cerita tetap harus menarik tapi tidak keluar dari koridor dakwah,” tandasnya sembari menyebut, inspirasi penulisan bukunya juga tidak jauh dari lingkungan sekitar. Salah satunya, dari anak-anaknya sendiri.

Meski sudah familiar dengan dunia literasi, menulis buku anak tetap menantang dan tricky baginya. Menulis buku anak memang identik dengan penyajian yang imajinatif. Logika anak yang berbeda dengan orang dewasa menjadi celah sekaligus tantangan bagi penulis buku anak untuk menyampaikan pesan moral.

“Kalau kita jadi orang dewasa, ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan karena ada batasan-batasan tertentu. Seperti kalau kita lihat gajah, nggak mungkin bisa terbang. Tetapi logika anak, itu bisa diterima dan pesannya bisa tersampaikan,” katanya, memungkasi obrolan siang itu. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#buku anak #penulis buku anak #pengasuh ponpes #lierasi membaca