JP Radar Kediri - “Anak-anak harus happy,” begitu ucap Sela Yuni Putriana, dokter muda dari RSUD Gambiran Kota Kediri. Dokter berusia 29 tahun itu tidak ingin stigma serem itu melekat di benak anak-anak zaman sekarang. Dia ingin mengubah kesan horor sehingga tidak ada pasien anak yang takut dengan dokter gigi.
Upayanya agar pasien anak tidak takut untuk periksa gigi adalah mengubah suasana ruang praktik yang lebih nyaman. Sebagai dokter, dia harus memahami kondisi anak. Jika ada yang menolak untuk diperiksa maka harus menggunakan treatment khusus. Komunikasi dengan orang tua anak menjadi kuncinya.
“Yang paling penting harus ramah,” lanjut perempuan yang kerap disapa Sela itu. Dokter yang tinggal di Kecamatan Ngasem itu ingin mengubah stigma dokter gigi pada anak-anak itu karena setiap orang harus rutin memeriksakan kesehatan giginya. Dia menyebut, minimal enam bulan sekali.
Kenapa kesan horor harus dihapus pada anak-anak? Karena mereka rentan trauma. Jadi mereka harus ditangani dengan pendekatan yang ramah anak. Kemampuan untuk mencairkan suasana harus diterapkan setiap berhadapan dengan pasien anak. Sebab, atmosfer ruang pemeriksaan gigi bisa terasa intimidatif bagi sebagian anak. Jangan sampai, problem gigi anak sembuh tapi justru timbul trauma pada anak.
“Saya senang kalau ada orang tua yang lagi periksa di sini terus mengajak anaknya. Setidaknya anak sudah familiar dengan suasana ruang pemeriksaan gigi,” urai alumni Universitas Airlangga Surabaya itu berharap sang anak saat periksa gigi nanti sudah tidak kaget.
Sejauh ini, pasien yang datang ke dokter gigi lebih banyak orang dewasa. Yang disayangkan mereka ke dokter gigi karena mengalami sakit gigi. “Nah, ini menjadi tantangan,” ucapnya. Alasan masyarakat enggan ke dokter gigi kemungkinan karena ada kesan eksklusif. Sehingga, mereka yang datang ke tempat praktik pada saat kondisi giginya sudah sakit.
Untuk mengubah kesan tersebut, dia harus memberikan informasi lebih kepada pasiennya. Jadi pasien tidak hanya datang, terus pulang begitu saja setelah ditangani dan mendapat obat atau. “Saya harus me
mberi penjelasan yang informatif kepada setiap pasien,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah