KEDIRI, JP Radar Kediri - Pria tua berkaus oblong warna putih itu memukul-mukul pelan batangan perak berukuran kecil. Memunculkan suara tik-tik berulang. Sesekali dia membakar logam yang dipukuli itu dengan solder. Sementara, satu kakinya menginjak pedal, memompa alat pengatur panas.
Matanya menatap cermat di balik kacamata. Meneliti bagian-bagian kecil yang dia tempa di permukaan salah satu logam mulia tersebut. Menjadi satu perhiasan yang menarik.
Lelaki itu bernama Abdul Muhaimin. Biasa dipanggil dengan sapaan Pak Dul. Usianya sudah 72 tahun. Namun, masih setia dengan pekerjaannya sebagai perajin perhiasan dari perak. Tempat praktiknya di salah satu kios di Pasar Setonobetek. Di lantai bawah, di antara pedagang pakaian.
“Katah, pun atusan punjul,” jawabnya dalam bahasa Jawa ketika ditanya jumlah perhiasan yang dia hasilkan hingga saat ini. Bila diartikan, jawaban Pak Dul itu berarti ‘banyak, sudah ratusan lebih’.
Pak Dul sudah lama menggeluti dunia kerajinan perak. Sejak usia 13 tahun. Maklum, dia lahir dan besar di daerah Kebomas, Gresik. Tempat di mana terkenal sebagai kampung perajin logam mulai. Yang hampir semua penduduknya adalah perajin emas ataupun perak.
“Satu kelurahan itu perajin semua,” terang lelaki kelahiran 1952 ini, masih dalam bahasa Jawa.
Karena itulah kemampuannya muncul secara natural. Karena keluarganya juga secara turun-temurun merupakan perajin perhiasan.
Si Dul muda kemudian berusaha mencari peruntungan dengan merantau. Tujuannya adalah Kota Kediri. Menjadi perajin perhiasan di salah satu toko emas. Kemudian berpindah dari satu toko ke toko yang lain. Tetap sebagai perajin perhiaasan. Namanya pun banyak dikenal. Karena hasil kerajinannya terkenal detil dan indah.
“Kalau ada yang tanya Pak Dul tukang sepuh, nanti lek banyak yang tahu,” suluknya.
Dul muda kemudian bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Namanya Suketiningsih. Yang menjadi pendamping hidupnya hingga kini. Memberinya lima orang anak.
“Bermula cari rezeki ternyata ketemu istri,” candanya, yang direspon sang istri yang ada di dekatnya dengan senyum malu.
Seiring bertambahnya usia, Pak Dul tak ingin selamanya jadi pekerja orang. Ketika usianya melewati 50 tahun, dia membuka sendiri lapaknya. Berada di dekat istrinya yang berjualan pakaian di Pasar Setonobetek.
Ketika membuka usaha sendiri itu, awalnya memang sepi. Tapi, lama-lama pelanggannya yang cocok dengan karyanya berdatangan. Memesan perhiasan pada Pak Dul.
“Bapake kalau bikin (perhiasan) itu detail. Permintaan seperti apapun bisa dikerjakan,” puji Suketiningsih.
Sebenarnya, beberapa kali Pak Dul diminta kembali bekerja di toko emas. Namun, dia menolak. Merasa sudah tidak mampu lagi bekerja ikut orang lain.
Tentu saja, setiap usaha punya masanya. Dulu, pemesannya sangat ramai. Apalagi ketika tren batu akik. Hampir setiap hari ada yang minta dibuatkan emban atau tempat batu akik. Tapi, kini sudah sangat sedikit. Bahkan, sering sekali sehari itu tanpa ada orderan perhiasan sama sekali. Selain harga emas dan perak yang naik, konsumen lebih senang beli perhiasan jadi.
Agar tetap punya penghasilan, Pak Dul pun juga membuka jasa yang lain. Yang penting bisa mendapat uang secara halal.
"Saya juga bisa nyepuh, membesarkan mengecilkan ukuran cincin, membenahi frame kacamata yang rusak," akunya.
Dalam menjual jasa, Pak Dul mengaku menetapkan tarif yang murah. Untuk bahan 10 gram perak misalnya, harganya cuman Rp 300 ribu. Dengan permintaan bentuk yang bebas, terserah pemesan. Namun, konsumennya tetap saja menawar lagi. Padahal proses pembuatannya tidak mudah.
Kemudian, dengan tangan tuanya, si perajin ini menunjukkan proses pembuatannya. Yang perlu beberapa tahapan. Mulai memanaskan bongkahan perak, yang setelah mencair dicetak lagi menjadi lempengan kecil. Setelah itu dipukul untuk memadatkan serta membentuk sesuai keinginan.
"Kalau sepi (orderan) lima hari sudah jadi. Kalau pas ramai, biasanya tujuh hari. Kalau dibandingkan lain, ini hitungannya cepat, " akunya.
Semua proses itu dikerjakan secara manual. Termasuk penyolderan yang menggunakan alat manual. Besar kecilnya api diatur dengan pompa kaki. Demikian juga dengan pengukiran, yang juga dilakukan dengan manual.
Pak Dul juga terbiasa menghadapi konsumen yang rewel. Termasuk meminta bentuk yang sulit tapi tak membawa contoh.
"Jadi bingung, kan bagusnya setiap orang itu berbeda. Jadi bingung kalau seperti itu," ucapnya, sembari mengelus kepalanya yang sudah membotak.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah