Endang Pertiwi dan beberapa ibu-ibu lainnya duduk melingkar di sebuah teras rumah. Bangunan terbuka itu sudah lama difungsikan sebagai tempat mengolah hasil pemilahan sampah. Satu perempuan parobaya terlihat menggunting-gunting plastik saset pembungkus kopi. Lainnya memasukkan plastik-plastik kecil itu ke dalam wadah persegi empat. Sejurus kemudian, jadilah sebuah bantal kursi yang terbuat dari sampah kemasan plastik.
Perempuan yang akrab disapa Endang itu sudah bertahun-tahun lamanya bergelut di bidang lingkungan. Halaman rumahnya yang rindang dengan pepohonan besar sudah seperti ‘pabrik’ yang penuh dengan berbagai jenis sampah hasil pemilahan. Mulai dari botol plastik, kemasan saset, hingga gelas-gelas plastik. Melalui kegiatan bank sampah, dia dan perempuan lainnya mengubah sampah itu menjadi barang bernilai guna.
Endang bukan hanya seorang pegiat lingkungan. Tapi juga praktisi green economy di tataran rumah tangga dan masyarakat. Melalui toko refill dan bank sampah, ia mengajak masyarakat mulai meninggalkan hal-hal yang berdampak buruk bagi lingkungan.
“Selain memotivasi diri, ayo bareng-bareng memotivasi juga masyarakat di lingkungan sekitar kita,” ujarnya.
Sebagai perempuan progresif, tentu bukan hal mudah baginya menyebarkan gagasan zero waste itu. Tak mudah membuat masyarakat beralih menerapkan pola hidup ramah lingkungan itu.
“Karena suara perempuan terkadang dianggap minoritas dan disisihkan, pernah saya di dalam forum isinya bapak-bapak, saya disorakin,” tutur perempuan asal Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu.
Bahkan, pengalaman itu pernah sampai membuatnya kehilangan rasa percaya diri. Meski demikian, urgensi isu lingkungan baginya tetap di atas segala cemoohan yang dilontarkan masyarakat yang perlu harus disuarakan.
“Tapi saya rasa semakin ke sini, masyarakat semakin terbuka ya. Semakin pintar,” ucapnya.
Upayanya mengintegrasikan isu lingkungan dengan isu ekonomi rumah tangga bukan tanpa alasan. Sebab, di tengah masyarakat yang cenderung apatis dengan lingkungan, aspek ekonomi selalu menjadi barang menarik bagi masyarakat.
Melalui konsep ekonomi yang berwawasan lingkungan, masyarakat tidak hanya diuntungkan dengan kelestarian alam yang terjaga. Melainkan juga bisa menjadi alternatif meningkatkan ekonomi keluarga. Seperti contoh, sampah anorganik yang bisa ‘diuangkan’ melalui bank sampah. Pun sampah organik yang bisa diolah sendiri menjadi pupuk kompos.
Sementara itu, Ima tak kalah berprestasi di bidangnya. Gadis asal Jamsaren, Kota Kediri ini tengah sibuk mengerjakan rancangan busana milik Happy Asmara. Semuanya dia mulai dari nol. Namun, dia memang berbakat sejak kecil
Kemahirannya dalam dunia tata busana sudah terasah sejak belia. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Ima sering ikut kegiatan fashion show. Di situ, mamanya selalu menawarinya terkait busana yang akan dikenakan. Karena itu, dia memilih sendiri kostum yang akan digunakannya.
“Hampir selalu ditanyain, mau pakai baju yang kaya gimana, modelnya gimana,” aku anak dari pasangan Latmiadji dan Umi Barokah tersebut.
Berawal dari situ, Ima jadi terbiasa dengan berbagai jenis model pakaian. Lantas saat kuliah, awalnya Ima iseng. Karena dia suka dengan pakaian dengan warna yang mencolok, dia lantas mencoba mendesain pakaiannya sendiri.
“Aku yang desain, kemudian aku minta tolong jahitin ke orang,” aku alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu.
Di situ dia tidak serta-merta meminta tolong orang untuk menjahitkan desainnya sendiri. Ima juga belajar menjahit dengan mengamati penjahit yang mengerjakan pakaiannya itu. Dia belajar secara otodidak.
Saat pakaiannya itu jadi, ternyata banyak yang tertarik dengan hasil desain miliknya itu. Karena banyak yang suka dengan karyanya itu, lantas dia mencoba membuka clothing line dengan brandnya sendiri. Dan benar, di awal buka, Ima langsung kebanjiran pesanan.
Dari situ awal mula dia merekrut banyak karyawan untuk mengembangkan bisnisnya itu. Belum lama dia membuka, sekitar enam bulan, Ima merambah ke titik yang lebih tinggi. Yakni dengan melayani custom order. Hal itu dikarenakan banyak yang request desain baju padanya.
Tidak berhenti di situ, Ima ingin terus mengembangkan sayapnya. Saat tahu ada Mahalini mencari desainer fashion, lantas Ima mencoba mendaftar. Karena bakatnya, dia pun diterima. “Yang jelas gak nyangka bisa jadi fashion desainnya artis,” akunya.
Dari situ pula awal dia mengenal dan menjadi fashion designer artis terkenal. Bahkan sudah ada puluhan karyanya yang dikenakan oleh artis-artis nasional. Sudah ada 25 pakaian rancangannya yang digunakan Mahalini.
“Happy Asmara sekitar empat baju, Nia Ramadhani ada satu, Gery Gany empat pakaian, Vionita Sihombing ada dua, sama DJ Beby Keysha enam baju,” akunya. gree
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah