KEDIRI, JP Radar Kediri–Kesan ramah langsung terasa ketika pertama bertemu Andi Minarwaty. Menyapa dengn pelukan hangat. Kemudian menebarkan senyum penuh semangat. Menyempatkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kediri.
Ditemani Kasi Intel Boma Wira, wanita ini juga penuh canda. Terutama di sela-sela mengisahkan perjalanan hidupnya hingga sampai di posisinya saat ini.
Ketika disinggung tentang Kota Kediri, yang terucap pertama adalah kata aman nyaman. “Selama ini saya tak pernah membawa keluarga di tempat tugas baru. Tapi di sini (Kota Kediri, Red) anak-anak saya ikut,” kata wanita keturunan Bugis ini.
Dia juga menyukai kuliner Kota Kediri. Mulai tahu, pecel, soto, dan lain-lain. Sampai-sampai, saat pulang ke tempat kelahirannya, Kota Makasar, dia tak pernah lupa membawa oleh-oleh sambal pecel dan tahu.
“Saudara-saudara saya minta dibawakan. Jadi koper saya penuh,” terang wanita yang akrab disapa Mirna itu.
Berbincang lebih dalam, Mirna kecil sebenarnya tak pernah membayangkan menjadi seorang jaksa. Dulu bercita-cita sebagai guru TK. Pasalnya, dia menyukai aktivitas mengajar. Kemudian, setelah beranjak dewasa dia berkeinginan menjadi seorang dosen.
“Mikirnya dulu dengan jadi dosen akan terus menambah pengetahuan,” akunya.
Meski gagal merai cita-cita masa kecil, dia menikmati profesinya sekarang. Apalagi, banyak pengalaman menarik selama berkarir. Kenangan yang tak terlupakan adalah saat bertugas di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
“Di sana pegawai sedikit. Kekurangan personil sudah pasti. Terus tiba-tiba perlu sopir tahanan untuk antar tahanan ke rutan. Ibu ya jadi sopir tahanan,” ingatnya.
Selanjutnya, perkara yang paling berkesan ketika dirinya turut menjadi tim atas kasus bom Makasar. Dari perkara tersebut, banyak yang dia pelajari. Mulai dari teknis penanganan perkara hingga bagaimana menghadapi sidang yang menjadi sorotan media.
“Sidangnya itu dipantau dunia. Kemudian berinteraksi dengan orang-orang yang tanda kutip mereka bagian dari terorisme,” kenangnya sembari menyebut saat itu dirinya dijaga ketat kepolisian saat menangani kasus tersebut.
Baginya, masa-masa sulit menjadi jaksa terjadi saat dirinya masih muda. Saat belum menikah. Saat itu dia masih kerap menggunakan perasaan saat menangani kasus. Rasa iba sering muncul ketika keluarga orang yang ditahannya menangis. Kemudian, saat menangani perkara persetubuhan dirinya kerap terbawa emosi.
“Tapi seiring waktu jadi belajar lebih profesional. Untuk tidak melibatkan perasaan secara emosional tetapi melihat fakta hukumnya. Ya learning by doing itulah,” kisahnya.
Menjadi jaksa membuat dia merasa hari-harinya seperti menghadapi tantangan. Termasuk kepindahan dalam bertugas. Seperti bertemu orang-orang baru dan bertemu rekan kerja yang baru. Meski begitu, dia mengaku menikmati tantangan tersebut.
“Itu yang kemudian membuat hari-hari kita jadi semangat lagi,” tandasnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah