Banyak hal yang membuat dia terpilih menjadi ketua KONI Kota Kediri. Kepeduliannya pada peningkatan prestasi adalah salah satunya. Lebih-lebih dia punya pengalaman di beberapa cabang olahraga yang pernah dia ikuti.
ASAD M.S., Kota, JP Radar Kediri
Matahari masih malu menampakkan wajahnya. Memunculkan suasana mendung yang sahdu di pagi itu. Bagi kebanyakan orang, suasana seperti itu membuat mereka malas beraktivitas. Memilih berada di rumah untuk menikmati suasana.
Namun, tidak demikian di salah satu sudut Stadion Brawijaya. Belasan orang berkumpul di satu petak ruangan. Mendengarkan lelaki yang berdiri dengan perkataan berapi-api. Khas orang yang memberi motivasi.
Lelaki itu adalah Agus Eko Koko. Dia adalah ketua KONI Kota Kediri periode ini. Pagi itu dia tengah memberi wejangan pada atlet-atlet binaan KONI. Agar terus memupuk bakat demi mencapai prestasi gemilang.
"Jalan memang tidak mudah dan panjang. Tapi itu harus dilalui untuk mengukir prestasi," ucapnya.
Koko tak sekadar omong. Pengalamannya menjadi guru yang berharga. Karena saat menekuni masa-masa sebagai atlet dia harus melewati jalan panjang berliku. Termasuk harus berganti-ganti cabang olahraga (cabor). Juga mengalam masa-masa sulit karena tak memiliki biaya berlatih.
"Sampai harus mengamen segala," pria kelahiran 1969 itu menceritakan sepenggal pengalaman hidupnya dengan tertawa renyah.
Perjalanan hidup Koko tidak mulus. Sempat dikeluarkan dari sekolah ketika masa SMP. Penyebabnya adalah kenakalan. Sangking nakalnya, dia pernah tidak naik kelas dua kali.
"Saya memang nakal, dan harus jaga nenek di rumah. Jadi, bingung bagi waktu juga," kenangnya.
Dikeluarkan dari sekolah membuat Koko harus cari yang baru. Dia pun tersadar bahwa harus menjadi lebih baik. Pilihannya adalah terjun di dunia olahraga.
Yang pertama dipilih adalah cabang atletik. Terutama di nomor lempar, cakram dan lembing. Beberapa prestasi pun mampu dia torehkan. Sayang, tinggi badannya kurang menunjang. Hanya 160 sentimeter. Padahal idealnya seorang atlet lempar bertinggi 170 cm. Agar jangkauan lemparan bisa maksimal.
Bukannya menyerah, Koko justru mencoba ganti cabor. Gurunya saat itu menyarankan di angkat besi. Hebatnya, dia langsung klik dan bisa meraih beberapa prestasi.
Sayang, fasilitas olahraga ini di Kediri saat itu masih tak maksimal. Dia harus ke Surabaya untuk berlatih. Di Asrama KONI di Sukolilo. Peralatan di tempat ini sangat memadai.
Masalahnya, untuk itu Koko harus keluar biaya sendiri. Terpaksa dia harus mencari uang dengan mengamen. Kemudian, karena masih menumpang, dia juga harus ikut bantu-bantu. Jadi, tak ada waktu berleha-leha.
Seperti kata pepatah, perjuangan tak mengkhianati hasil. Latihan kerasnya selama empat tahun berbuah. Ketika ikut kejuaraan se-Jawa Bali prestasinya moncer. Mendapatkan medali emas. Membuatnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Terutama dari sisi pembiayaan dan latihan.
“Akhirnya bisa hidup sebagai atlet (yang dibiayai),” ucapnya dengan tertawa.
Sayang, di Pra-PON 1991-1992 Koko gagal. Dia pun harus pulang karena kejuaraan serupa baru berlangsung empat tahun lagi. Bila bertahan di Surabaya beban biaya hidup tak mampu dia tanggung.
Kembali di Kediri, membuatnya tak bisa meningkatkan kemampuan angkat besi-nya. Akhirnya, dia memilih migrasi lagi. Kali ini ke cabang binaraga. Pengalamannya di beberapa cabor membuatnya mudah beradaptasi. Medali pun mudah dia dapat. Seperti pada 1994-1995, di Jakarta, Koko menorehkan juara tiga.
Sayang, Koko tak melanjutkan petualangannya di binaraga. Banyaknya atlet yang mencetak tubuh bagus dengan suntikan membuatnya jengah. Menurutnya, itu bukan langkah atlet sejati.
Pensiun dari olahraga, Koko berusaha bekerja di berbagai bidang. Pernah jadi buruh pabrik, pernah pula jadi debt collector. “Dapat tawaran dari berbagai tempat,” terangnya mengingat.
Pada 2010, teman-temannya sesama atlet dulu mengajaknya membesarkan Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Kota Kediri. Koko menjadi ketuanya. Pengalaman membuat dia mampu mengangkat prestasi cabang ini. Mengantarkan atlet angkat besi Kota Kediri berjaya di beberapa kejuaraan. Termasuk tujuh atlet didikannya lolos di Pra-PON 2023.
Setelah itu namanya muncul sebagai kandidat ketua KONI Kota Kediri. Saat pemilihan, 4 November, dia memperoleh suara terbanyak. Meraih 29 suara. Unggul atas kandidat lainnya yakni Reza Darmawan- ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Kediri- yang memperoleh 12 suara dan Heru Marwanto mantan Ketua KONI Kota Kediri pada periode 2014-2019 memperoleh 2 suara. Kini, berbagai gambaran program sudah terbayang yang hendak dia wujudkan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah