Seperti pada akhir pekan lalu, Sabtu (5/7) salah satu mal di Kota Kediri yang berada di Jalan Hasanudin, Kelurahan Balowerti tampak ramai pembeli. Menariknya, mereka justru ramai-ramai berburu barang-barang konsumtif.
Baca Juga: Setiap Jumat Legi, PG Meritjan Rutin Santuni Anak Yatim Piatu
Seperti Bella Saraswati, warga asal Kecamatan Ngadiluwih datang ke mal karena ingin mencari berbagai aksesoris. Serta pakaian di tempat langganannya. Gadis 24 tahun itu mencari pakaian merk khusus yakni colorbox. “Biasanya beli di Surabaya atau Malang. Sekarang sudah ada di Kediri,” ungkap menyebut alasan belanja di mal Kediri.
Dia mengaku senang karena tenant di mal Kediri sudah menjual baju-baju bermerk. Setidaknya sudah bisa mengurangi ongkos transportasi dan tidak harus ke luar daerah.
Baca Juga: Epson Memberdayakan Usaha Kecil dengan Seri Printer EcoTank Generasi Terbaru
Menurut Bela, ramainya kunjungan mal saat ini karena barang yang disediakan sudah sangat lengkap. Mulai dari aksesoris, kebutuhan pokok, kuliner hingga pakaian.
“Ketika saya belanja, suami ngopi dan anak bisa main. Lebih enak dan praktis,” imbuhnya.
Baca Juga: Bikin Waswas, Harga Beras di Kediri Kini Tembus Rp 14 Ribu per Kilogram
Hal ini berbanding terbalik dengan pasar tradisional di Kota Kediri. Seperti yang dialami Sri, 54, pemilik toko peracangan di Pasar Setonobetek. Dia mengaku penjualannya menurun sejak banyak terjadi PHK di beberapa perusahaan. “Mungkin karena kehilangan pekerjaan jadi daya belinya juga menurun. Sebab tidak ada pemasukan,” terang perempuan asal Kelurahan Pakelan itu.
Penurunan itu dapat dilihat dari pendapatannya. Akhir tahun kemarin omzetnya mencapai Rp 1 juta per hari. Sekarang ini setiap harinya hanya Rp 700 ribu.
Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemerintah Kota Kediri Tetuko Erwin Sukarno mengatakan, penurunan daya beli di pasar tradisional itu memang ada. “Tapi kami terus berupaya untuk menyiasatinya. Salah satunya dengan menyediakan tempat nongkrong seperti yang ada di mal,” terangnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri. Termasuk juga menyediakan tempat bermain anak-anak.
Lebih jauh, dia menjelaskan, pasca pergantian kepemimpinan memang investor masih wait and see. Mereka akan menunggu bagaimana kebijakan yang diberlakukan pemerintah Kota Kediri.
Baca Juga: Munas HKTI Ke-X, Sumadianto Terpilih sebagai Ketua DPC HKTI Kabupaten Kediri Periode 2025-2030
Selain faktor pergantian pemimpin, adanya badai lay off juga turut menjadi faktor penyebab penurunan daya beli. Tetapi yang jelas dari Pemerintah Kota Kediri sudah menyiapkan beberapa fasilitas dan program pemberdayaan. Terutama pada pelaku UMKM dan IKM.
“Kami ada fasilitas pelatihan kerja untuk yang mencari kerja. Maupun pelatihan kenaikan kelas untuk yang berwirausaha,” imbuhnya.Baca Juga: Kediri Town Square Launching Tujuh Tenant Brand Baru, Lebih Bervariasi, Nyaman dan Modern
Tak hanya itu, pihaknya kini juga sedang mempersiapkan permodalan kredit dengan bunga rendah. Yang bunganya hanya di kisaran 4 persen per tahun. Padahal jika di bank konvensional bunga bisa mencapai 10 sampai 12 persen.
Erwin pun mengimbau produsen, pebisnis atau pemilik usaha agar mencari trik untuk tetap bisa bertahan. “Di sisi lain, Pemkot juga memberikan berbagai amunisi modal dan pelatihan. Jadi manfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.