KEDIRI, JP Radar Kediri – Tak menentunya proses pengeringan tembakau yang dialami petani Desa/Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri mulai menemukan titik terang. Keluhan ini mendapat perhatian khusus Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Departemen Teknik Mesin Industri (DTMI) Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (FV-ITS) Surabaya. Menggandeng Kelompok Tani Glundeng Raya, Tim Abmas ITS berhasil menciptakan mesin oven pengering konveksi natural, Minggu (12/11) lalu.
Hadirnya mesin pengering otomatis ini terbukti berhasil menjawab kebutuhan warga yang sebagian besar adalah petani tembakau. Perancangan teknologi tepat guna (TTG) merupakan rangkaian dari kegiatan abmas yang dilaksanakan oleh tim dari dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa DTMI ITS. “Dari beberapa kali observasi, salah satu permasalahan petani tembakau di desa ini adalah tidak menentunya cuaca. Sehingga proses pengeringan masih bergantung terik matahari,” ucap Ketua Tim Abmas ITS Ir Joko Sarsetiyanto, MT.
Menurutnya, tembakau dari Desa Grogol seluruhnya akan dikirimkan ke gudang di wilayah Ponorogo untuk bahan baku rokok Sampoerna. Ketergantungan warga akan cuaca menyebabkan tak menentunya waktu proses pengeringan. Sehingga berpotensi memperlambat produksi tembakau kering. “Alat ini sangat membantu optimalisasi produksi. Ada atau tidaknya sinar matahari, proses pengeringan tembakau masih tetap berjalan,” ungkapnya.
Tim Abmas ITS berhasil merancang dan melakukan fabrikasi oven pengering dengan sistem konveksi natural. Oven menggunakan sistem yang memanfaatkan aliran panas dari ruang bakar atau tungku pemanas. Pada dasarnya udara panas dari pemanas di bagian bawah akan bergerak ke atas. Walaupun tanpa disertai dengan pendorong berupa kipas atau fan. “Oven karya Tim DTMI ini menggunakan prinsip konveksi natural. Sangat efisien karena membutuhkan energi yang relatif kecil untuk pemakaiannya,” jelas Joko.
Oven pengering juga dapat digunakan untuk mengeringkan hasil pertanian lain seperti kunyit, jamur tiram, temulawak, dan tokek. Untuk mengeringkan kunyit hingga benar-benar kering diperlukan waktu selama 4,5 jam. Sedangkan temulawak 5,5 jam, dan tokek 22 jam. Pengering dapat dimanfaatkan untuk mengeringkan produk hewani semisal usus, kerupuk, ikan, ceker, rambak, dan sejenisnya. “Untuk mengeringkan tembakau yang masih basah yang telah dirajang perlu 3-4 hari, itupun jika sinar mataharinya terik. Namun, adanya mesin sangat membantu kami. Terima kasih ITS,” ungkap Ketua Kelompok Tani Glundeng Raya Riyanto. Editor : Anwar Bahar Basalamah