Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Departemen Odontologi Forensik FKG Unair Beri Edukasi Masyarakat di Kediri, Ini Materinya

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 12 Juli 2023 | 15:01 WIB

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri – Departemen Odontologi Forensik, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga (Unair) terus berperan aktif dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya rekam medis gigi sebagai data antemortem dan mitigasi bencana alam.

Salah satunya dengan mengadakan program pemberdayaan komunitas di wilayah rawan bencana yang berlangsung di Balai Desa Wonorejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Sabtu (8/7).

Peserta merupakan sejumlah kader Puskesmas Wonorejo. Kegiatan ini juga diikuti oleh 5 orang anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Kediri sebagai fasilitator dalam pelatihan pengisian buku Rekam Identifikasi Pribadi.

Edukasi dan pelatihan mengangkat tiga materi pokok, yaitu mitigasi bencana dibawakan oleh Dadik Rahardjo, S.Sos selaku pemateri dari BPBD Kabupaten Kediri. Kemudian penyuluhan buku rekam identifikasi pribadi oleh Arofi Kurniawan, drg., Ph.D selaku Ketua Departemen Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Unair dan pelatihan pemadaman api oleh tim Damkar Kabupaten Kediri.

Dalam kesempatan ini, Ketua Departemen Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Unair Arofi Kurniawan, drg., Ph.D menerangkan bahwa identifikasi forensik sangat penting dalam menentukan identitas korban. Terutama bagi korban bencana alam. Identifikasi dapat diklasifikasikan melalui DNA, sidik jari dan pemeriksaan gigi.

Photo
Photo

Pemeriksaan juga bisa dilakukan dengan memakai acuan buku rekam identifikasi pribadi (personal identification record). Buku tersebut dibuat oleh tim Odontologi Forensik FKG Unair yang telah mendapat sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) nomor EC00201988518 tahun 2019. “Mengacu panduan Interpol Identifikasi Korban Bencana (DVI), pemeriksaan gigi merupakan metode utama dan paling kredibel dalam identifikasi sejumlah kasus kematian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, gigi dianggap penting untuk penanda primer karena keunikan, individualitas, dan gigi merupakan jaringan paling keras di dalam tubuh sehingga gigi tidak mudah hancur. Dalam beberapa situasi, sejumlah informasi keluarga, kerabat, catatan gigi dan bukti tertulis kondisi mulut berperan vital membantu menyusun rekam medis gigi antemortem atau data sebelum korban meninggal. “Data rekam medis antemortem tersebut akan mempermudah identifikasi jenazah, dan sudah diterapkan di sejumlah lembaga dan negara,” jelasnya.

Arofi berharap, program pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya rekam medis gigi sebagai data antemortem dan kesiapsiagaan bencana. Serta diharapkan dapat meningkatkan kemampuan identifikasi korban bencana massal di Indonesia dan memfasilitasi proses pengembalian jenazah kepada keluarga yang berduka. Program ini juga dapat menjadi contoh yang dapat diadopsi dan disesuaikan oleh daerah-daerah lain di Indonesia yang rentan terhadap bencana alam.

Program merupakan bentuk kerja sama Departemen Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Unair dengan Puskesmas Wonorejo dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Kediri. Selain di Kediri, kegiatan seperti ini telah beberapa kali dilakukan tim Odontologi Forensik FKG Unair. Antara lain, Ponorogo, Malang, Pasuruan dan Surabaya. Kegiatan turut serta mendukung SDGS (Sustainable Deveopment Goals) atau tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu Pendidikan berkualitas (SDGs 4) dan Kemitraan untuk mencapai tujuan (SDGs 17).

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#edukasi masyarakat #unair #unair edukasi masyarakat #edukasi